Suddenly

Suddenly
0720



“Sky, kau di mana?”


“Aku di sini.”


Kai mendengar suaranya tapi masih tidak melihat keberadaan Sky.


“Hei, kau di mana?”


“Tidak apa, Sky. Kami di sini,” suara Jeff.


“Di sini.”


Terlihat jemari tangan yang sedang melambai dari arah kolong di bawah ranjang. “Di sini.”


“Hahaha, hei!”


“Kenapa kau ada di situ? Haha…”


“Keterlaluan, bisa-bisanya kalian masih bisa menertawaiku?”


Sky memperlihatkan wajahnya dan di depan matanya sudah ada dua uluran tangan dengan wajah Kai dan Jeff yang terlihat menahan tawa.


Dua laki-laki itu membantunya keluar dari kolong yang tak hanya gelap tapi luar biasa panas. Keringatnya pun semakin membuatnya seperti baru saja berenang.


“Wah-wah! Kau baru saja…,” Jeff tercengang dengan kedua matanya yang melebar.


“Hei, apa yang kau lihat?” Kai mendorong Jeff dan membutarnya sampai Jeff berdiri membelakangiku.


“Hei, kau juga. Apa yang kau lihat? Berdirilah seperti Jeff!” pinta Sky dengan suaranya yang lantang.


“Berdiri seperti itu sebelum aku bilang selesai. Kalian boleh duduk tapi tetap dengan menghadap seperti itu, mengerti?”


“Mengerti,” suara mereka kompak.


“Whoaa! Apa dia pacarmu? Mengapa selama ini aku tidak melihatnya sebagai…,” bisik Jeff.


Kai menyikutnya dengan cukup kuat. “Kau ingin tahu rasanya dipukul temanmu sendiri?” bisik Kai benar-benar di telinga Jeff.


“Dia terlalu baik untukmu,” bisik Jeff.


“Hei, berhentilah membicarakan pacar temanmu!”


“Hahaha, kau begitu menyukainya?”


“Wah, kau! Berhentilah!”


“Kau begitu menyukainya?”


“Kau masih bertanya, tak bisa melihatnya dari sikapku ini?”


“Hahaha, baiklah.”


“Bagaimana kau bisa bertemu dengannya lebih dulu dariku?” tanya Kai.


“Kau penasaran sampai kau bertanya berulang kali?”


“Ya, penasaran agar kau menjawab pertanyaanku.”


“Sudah kubilang, kami sama-sama orang asing yang tidak sengaja bertemu di masa lalu. Di usianya saat itu, mengapa dia begitu dewasa dengan ucapannya yang cukup membuatku seketika berkaca dengan usiaku yang bahkan jauh dari usianya?”


“Kau curang, kenapa kau yang jadi pertama bertemu dengannya?”


“Hahaha, apa kau ingin mendengar satu rahasia?” goda Jeff dengan tawanya.


“Kau pernah menyukainya?” Kai memasang muka-muka curiga.


“Hahaha, apa yang kau pikirkan?”


“Tidak, kan?”


“Tentu, tidak. Dia hanya teman baikku. Aku tidak akan berkencan dengan temanku.”


“Benarkah?”


“Iya, meski tak menutup kemungkinan…Sky seseorang sangat menarik.”


Kai terdiam. “Iya, begitu melihatnya dia tak perlu mengeluarkan kata-kata untuk membuatnya menjadi menarik. Hanya melihatnya saja sudah cukup sudah menjadi menarik dengan sorot matanya yang selalu berkeliling mengamati sekitar.”


“Whoaa! Apakah itu cinta, kau mencintainya? Itu membuatku iri, kau punya tak kupunya.”


“Kau pasti akan punya nanti. Kau bahkan mencintaiku,” Kai bersandar di lengan Jeff.


Prok! Prok! Prok!


“Apa kalian sepasang kekasih?” Sky sudah berada di belakang Kai dan Jeff.


“Kau suda selesai?” Kai berbalik di hadapanku.


“Hei, aku belum bilang selesai.”


“Ah, baiklah,” Kai kembali ke posisi awal.


“Hahaha, selesai.”


Barulah Kai dan Jeff berdiri dengan menatap ke arah Sky yang tiba-tiba terdiam.


“Hei, maafkan kami datang terlambat…,” ucap Kai yang menyadari itu.


“Tidak apa. Kedatangan kalian membuatku lupa dengan apa yang terjadi.”


Kai mendekat. Memeluknya seperti tidak ingin melepasnya. Tanpa berkata-kata. Seperti telah mengerti bagaimana perasaanku.


Jeff melihatku dengan tatapan yang khawatir lalu menyentuh ujung kepalaku tapi Kai menyadari itu dan langsung menepisnya—membuatku tertawa begitu juga dengan Kai dan Jeff.


Embusan napasku sebagai gambaran betapa leganya diriku meski kekhawatiran itu masih ada menyelimuti seoalah tengah mengelilingiku.


Tanpa adanya mereka entahlah apa yang terjadi atau jika pertemuanku di antara mereka tidak ada. Selain akan berbeda cerita, apakah Ken yang menjadi seseorang itu?


Menyebutnya namanya, ‘Ken'—terasa aneh tanpa tahu menyebabnya. Soal kertas itu? Kebiasaan Ken yang pernah kulihat dengan mata kepalaku dan sekaligus mengaitkan dengan apa yang terjadi—menjadi mustahil. Jika Ken menjadi pelakunya.


“Apa kau melihat sebuah paket di depan pintu?” Sky baru saja mengingatnya.


“Ya, itu ada di sana. Kupikir akan lebih baik kau tahu itu nanti. Jadi, aku tidak membahasnya. Apa ingin melihatnya, sekarang?” Kai mengambil paket itu.


“Iya, setidaknya memeriksanya,” Sky mengambil kertas-kertas yang ada di box yang ia letakkan juga di kolong di bawah ranjangnya.


“Kertas-kertas itu,” Sky menyerahkannya pada Kai.


“Baiklah, kita akan memeriksanya,” ucap Jeff.


Paket itu berada di tengah di antara kita bertiga.


“Dari ekspedisi—20 Juni,” ucap Kai.


“Tanggal pengirimannya?” tanyaku.


“Ya, 20 Juni.”


“Nah…”


“Tidak tahu.”


“Bagaimana kau membukanya, Kai?”


“Hmm, dengan hati-hati. Kau punya cutter?”


“Ada.”


“Biar aku saja yang mengambilnya. Ada di mana, Sky?”


“Ada di meja belajarku, Jeff.”


“Oke.”


Baik aku, Kai, maupun Jeff saling tatap dan menatap. Was-was dengan isi paket. Paket itu dengan box berukuran sekitar 50 cm.


“Apa itu berat?” tanyaku.


“Lumayan,” jawab Kai.


“Kuharap itu batu,” ucap Jeff.


“Hei, justru menyeramkan jika itu batu,” ucap Kai dengan mengoyang-goyangkan box paket itu.


“Setidaknya bukan bangkai binatang,” Jeff mengambil alih box paket itu.


“Kau saja yang membukanya, Jeff. Bagaimana?” pinta Kai.


Jeff melihat ke arahku dan Kai. “Baiklah, dengan hati-hati.”


Jeff telah membuka dengan hati-hati. Suaranya renyah di telinga tapi suasana tegang tak bisa dipungkiri.


Sudah terbuka.


Tiga orang itu melihat dari sudut tampak dari atas. Box yang terbuka di dalamnya ada tumpukan kertas-kertas yang berantakan. Entah, tidak tahu apa yang ada di balik tumpukan kertas-kertas itu?


“Kau atau aku yang melihatnya?” tanya Jeff pada Kai.


“Kau saja, Jeff. Itu sama saja seperti aku mengulang yang sudah-sudah.”


“Oke.”


Jeff duduk. Tangannya mulai nyentuh kertas-kertas itu…


“Ah, aku tidak sanggup,” Jeff langsung berdiri.


“Wah, ini benar-benar menegangkan.”


“Tunggu, sebentar saja. Biarkan aku mencobanya.”


“Kau yakin, Sky?”


“Ya, sepertinya. Aku tidak ingin kau seperti mengalaminya lagi dan Jeff juga sudah berusaha.”


“Whoaa! Apa kau berkorban demi cinta? Haha,” Jeff berusaha merubah suasana.


“Jeff!”


“Jeff!”


“Hehe, agar tidak menjadi tegang.”


Ting tong!


Seketika…


Srek!


Saling tatap-menatap dan...


“Biar aku saja,” ucap Kai.


Kai melihat pada layar, tidak ada siapa pun.


“Pasti ada kertas, Kai. Di dekat pintu,” ucapku padanya.


Kai mendekati pintu.


“Kai, kau jangan membuka pintunya!” pinta Jeff.


Kai menggeleng dengan jari telunjuk yang berada di mulutnya.


Kertas itu ada di tangan Kai. Tapi…


“Apa yang kau lakukan, Kai? Kemarilah!” Jeff menurunkan volume suaranya.


Kai memintaku dan Jeff untuk tidak bersuara.


Kai mengintip dari cela di bawa pintu.


Jeff dan aku, bukan hanya panik—rasanya seperti kaki yang tengah dikelilingi kumpulan tangan-tangan yang bergerak-gerak menggelitik lalu menariknya pada lubang hitam.


“Kai!” suara Jeff yang samar-samar.


Jeff menggenggam tanganku erat. Berjalan mendekati Kai.


Melakukan hal yang sama dilakukan Kai.


Cela itu memperlihatkan seseorang sedang berada di balik pintu.


Benar-benar di balik pintu.


Dan…


Orang itu memasukkan kembali kertas melalui cela di bawah pintu—seolah aku, Kai, dan Jeff sedang berhadapan dengan kedua mata seseorang di balik pintu.


Paket isi paket itu?


20 Juni dan kertas itu, apa seseorang yang sama?


Sky berpaling, pandangannya mengarah pada paket yang telah dalam kondisi terbuka. Ia pun terdorong untuk mengakhiri semuanya.


Beranjak dari dinginnya lantai dan berjalan perlahan mendekati paket dengan perasaan campur aduk yang penuh tanda tanya.


Kedua tangannya.


Kedua matanya.


Kertas-kertas itu dan...


Ada sebuah foto di baliknya.


...***...