Suddenly

Suddenly
A Little Walk into the Past and Walk in Place in the Present



Semua yang berasal dari masa lalu seperti misteri yang belum terselesaikan. Selalu berlarut-larut tidak tahu kapan usainya atau tidak tahu cara mengakhirinya, bukankah seperti itu?


Sky berada di balkon tidak hanya ditemani lamunannya tapi juga jarak pandangnya—pandangannya ke arah luar. Entah Kai memang sengaja atau tidak, Kai dan Rania berbicara di luar apartemen yang menghadap tepat ke arah balkon. Entah juga mereka menyadari keberadaanku atau tidak.


Mereka terlihat tidak berbicara seperti dua orang yang hanya berbicara biasa dengan berbagai topik tapi mereka terlihat seperti pasangan yang tengah berada pada situasi pertengkaran dengan saling adu mulut.


Memperhatikannya…membuatku tidak nyaman. Bagaimana jika itu terjadi padaku?


Rania terlihat menutup kedua matanya. Kai memeluknya. Dari sorot matanya yang memperhatikan pemandangan itu, seperti melihat pasangan yang sedang berbaikan setelah pertengkaran yang melelahkan.


Apa yang mereka bicarakan?


Apa yang mereka putuskan?


Apa mereka saling menangis dalam pelukan itu?


Apa mereka juga memiliki kesempatan untuk bersama?


Kai menggenggam kedua tangan Rania, mereka juga menatap satu sama lain. Jemari tangannya yang biasanya berada di kedua pipiku…sekarang ada pada Rania. Adegan saling memeluk itu…harus kulihat kembali.


Ting!


“Kita sama-sama lelah. Kita bicarakan besok.”—Kai


Sky melihatnya sesaat sebelum benar-benar berlalu—pemandangan dua orang yang tengah bergandengan tangan.


“Kau punya tangan yang hangat.”—Sky


Sky menutup pintu. Mematikan penerangan di seluruh ruangannya dan hanya menyisakan lampu tidurnya. Ponselnya ada di dalam laci, meski terdengar ponselnya yang bergetar…ia memilih untuk mengabaikannya.


Kedua matanya mencoba untuk terlelap seperti melupakan sejenak apa yang terjadi pada hari ini.


Ya, hanya melupakannya sejenak.


Kai hanya berada di sebelah tapi rasanya seperti ada jarak yang begitu jauh.


“Katanya, kau akan kembali.”—Sky


Menyerah!


Kurasa aku tidak bisa melakukannya. Selain berpegangan dengan waktu—belum saatnya untuk terlelap. Ucapannya teriang-iang di kepalaku.


“Tidak sekarang.”—Kai


Rasanya seperti terjebak pada ruang yang hampa.


Memberi harapan tetapi harapan itu sebenarnya tidak benar-benar ada.


“Ah, kau berubah pikiran?”—Sky


“Ya.”—Kai


Ya?


Hanya itu?


“Karena Rania kau jadi berubah pikiran?”—Sky


Perasaanku tidak enak. Seperti kesalahan itu ada padaku atau aku hanyalah bayang-bayang di antara mereka.


“Kalau kau tidak tahu apa-apa tidak usah berbicara.”—Kai


Kalau kau tidak tahu apa-apa tidak usah berbicara?


Haruskah aku percaya…itu yang Kai ucapkan padaku?


Sky menatap pada layar ponselnya begitu lama. Sudah beberapa kali mulut mengucapkan kata-kata yang sama—ucapan Kai.


“Iya, aku memang tidak tahu apa-apa.”—Kai


Satu tangannya mengepal. Ada rasa sesak di dadanya. Rasa sesak yang tak tertahankan. Sky memutuskan berbaring dengan posisi badan pada sisi kiri dan bantal yang lebih tebal sembari menghela napas perlahan.


Dadanya terasa penuh. Seperti ada yang menekan keras di bagian dadanya. “Aku harus minum obat,” Sky mencari obat yang harus ia minum tapi sekali lagi dunia tidak berpihak padanya. “Apa ini hari tersialku?” membeli obat secara daring akan memakan waktu. Sedangkan membelinya di apotek Kak Grace hanya membutuhkan waktu 5 menit saja.


“Halo, Kak…”


“Sky, ada terjadi sesuatu?” Kak Grace yang selalu siap siaga.


“Kak, sepertinya GERDku…”


“Hei, apa yang sedang kau pikirkan?”


“Aku akan mengantar obat itu padamu,” lanjut Kak Grace.


“Aku yang akan ke sana, Kak.”


“Yakin?”


“Iya.”


“Baiklah, resep obat yang kau kirimkan padaku akan kusiapkan. Tapi, kau yakin akan mengambilnya sendiri?”


“Aku akan segera sampai,” Sky melambaikan tangannya dan Kak Grace menyadari itu.


Krek!


“Hai!”


“Duduklah, aku yang akan menghampirimu.”


Kak Grace menghampiriku dengan membawa 1 botol air mineral dan obat. Ia juga mengomel seperti Kakak pada Adiknya. “Kau harus tidur setelah ini, kau mengerti?”


Sky memberikan uang pada Kak Grace tapi justru ditolak. “Kak, kenapa?”


“Kau tidak boleh membayar.”


“Kenapa?”


“Kau lupa dengan ucapanku?”


Ah…


Karena bagi Kak Grace, itu adalah urgent dan ia perlu melakukan itu. Bukan hanya berlaku padaku tapi untuk semuanya. Dari apa yang dilakulan Kak Grace itu, tidak ada satu pun orang-orang yang justru bermain-main karena tahu fakta itu dan berharap tidak akan terjadi.


“Aku hampir melupakannya. Semoga tidak akan pernah ada orang-orang yang bermain-bermain karena niat baik Kakak ini,” ucap Sky dengan menggenggam kedua tangan Kak Grace.


Kak Grace tersenyum padaku dan berkata, “Kalau pun ada, sepertinya dia harus belajar dari kehidupannya.”


“Selamat datang,” ucap Kak Grace pada seseorang yang baru saja masuk ke apotek.


“Sky?”


Sky menoleh ke arah sumber suara, “Green?”


“Wah, kebetulan sekali kalian saling mengenal. Bisakah kau mengantarkannya kembali pulang?” ucap Kak Grace pada Green dengan tersenyum.


“Tidak! Tempat tinggalku hanya beberapa langkah dari sini. Hehe…,” Sky menggelengkan kepala dengan gerakan tangannya yang menerangkan.


“Hei, kau pikir kita orang asing. Kau juga terlihat tidak baik-baik saja. Aku akan mengantarmu,” ucap Green.


“Bukankah kau ingin membeli…”


“Bisa nanti setelah mengantarmu,” potong Green.


“Aku titipkan padamu, ya? Dia benar-benar lemah,” ucap Kak Grace dengan melirik ke arahku.


“Kak Grace!” bisikku di telingannya dengan raut wajahku yang seolah mangatakan padanya, mengapa kau mengatakan itu padanya?


“Dan juga ceroboh,” sambung Green.


“Ah, iya. Kau benar juga.”


Khawatiranku tiba-tiba muncul. Bagaimana jika bertemu dengan Kai dengan Kai yang masih bersama Rania?


“Kenapa kau repot-repot mengantarku? Bahkan sebentar lagi sampai.”


“Apa yang terjadi dengan tanganmu?”


“Seseorang mendorongku dan beruntunglah tidak separah itu.”


“Kau didorong seseorang tapi kau masih bilang beruntung?”


“Setidaknya tidak separah itu dan nyawaku masih selamat.”


“Wah, apa kau punya musuh? Bukankah orang itu memang sengaja menyelakaimu?”


“Entahlah, kita tidak bisa meminta semua orang suka pada kita…bukankah seperti itu?”


“Sepertinya aku tidak termasuk orang-orang itu?” Green menatapku dengan senyumannya.


“Iya….hah?”


“Haha, bukankah seperti itu, Sky?”


“Aku bukan bagian dari mereka yang tidak menyukaimu,” Green melanjutkan ucapannya.


“Ah…”


“Iya, haha…”


Perjalanan dengan berjalan kaki tidak ada 5 menit tapi rasanya seperti lebih dari itu. Padahal, aku baru saja mengatakannya kalau akan segera sampai.


“Sampai sini saja,” ucapku.


“Tidak, aku akan mangantarnya sampai benar-benar di depan pintumu.”


“Dengan kau mengantarku…”


“Kurasa kau perlu bantuanku.”


“Hah?” aku tidak mengerti dengan ucapan Green. Tapi sorot matanya terlihat seperti menemukan sesuatu yang menarik dan ingin menunjukkannya padaku.


“Aku akan mengantarmu.”


“Hmm, baiklah.”


Mulutku berkata mengiyakan tapi sejujurnya hatiku juga bergejolak.


“Apa terjadi sesuatu padamu?” tanyanya.


“Apa itu terlihat?” tanyaku.


“Wah, kau tidak berubah. Kau selalu jujur,” ucapnya.


‘Kau tidak berubah?’


“Ah, bagaimana kau bisa tahu?”


“Entahlah,” Green tersenyum.


Ucapan Green…mengapa membuatku bertanya-tanya?


“Sam…”


Kai dan Rania ada di hadapanku.


“Tidak apa,” suara Green lirih.


Apa maksud ucapnya? ‘Kita sama-sama lelah. Kita bicara besok.’ Lalu apa yang ada di hadapanku sekarang?


Dia bisa bersama Rania tapi tidak mau meluangkan waktunya untukku.


“Green, terima kasih sudah mengantarku.”


“Beristirahatlah dan minum obatnya,” Green mengusap-usap kepalaku.


Aku tidak ingin terlihat seperti tengah tertangkap basah. Begitu Green melambaikan tangannya padaku. Aku seperti tidak menganggap keberadaan Kai dan Rania.


Masuk dan menutup pintu.


...***...