
Ren pergi begitu saja begitu aku sampai. “Hei, Ren!” panggilan Sky yang tak digubris.
“Seperti biasa, dia masih mengabaikanmu.”
Kiya bersandar di bahuku dan berkata, “Apa kau mau melewatkan bersamaku?”
“Ah, soal malam tahu baru maksudmu?” Kiya masih saja ribut soal malan tahun baru. Karena kali ini tidak ada perayaan bersama para anggota club.
“Iya.”
“Itu bukan salahmu, Sky. Bukan karena yang terjadi di antara kau dan Ren.”
“Tapi semenjak itu terjadi, atmosfer di ruangan club jauh berbeda.”
“Mungkin semuanya sedang pada suasana yang tidak menyenangkan. Kau tahu, kan? Semua orang yang masih diberi kehidupan sedang menunggu skenario datang,” Kiya mengusap-usap bahuku.
“Iya, selalu ada rencana yang tak berjalan seperti apa yang kita mau. Baiklah, liat akan bersenang-senang di malam tahun baru meski masih beberapa bulan lagi.”
“Sky, benarkah? Kau mau?”
“Ya, kenapa tidak…aku juga tidak punya siapa-siapa.”
“Hei, kau masih punya aku,” seru Kiya.
“Baiklah, aku akan membuat time line untuk kita berdua,” Kiya benar-benar bersemangat.
“Apa yang akan terjadi di tahun berikutnya, ya? Apa kau juga memikirkannya, Kiya? Seperti keinginan yang ingin kau wujudkan tapi selalu tertunda di setiap harinya lalu kau selalu mengatakannya bukan hari ini. Kau mengucapkannya berulang kali sampai telah berganti tahun.”
“Wah! Mengapa ucapanmu seperti sedang menusuk-menusukku? Itu benar nyata terjadi. Bahkan pada titik klimaksnya saat kau sudah hampir menjadi lupa, tiba-tiba terwujud dan membuatmu menjadi bimbang dengan menimbang banyak pilihan.”
“Benar, hidup itu indah seperti yang kita bicarakan sekarang ini. Itu keindahannya.”
“Karena keberagamannya yang kompleks,” sambung Kiya.
“Hahaha…”
“Hahaha…”
“Tak kusangkah kita bisa tertawa sekencang ini,” Sky berganti bersandar di bahu Kiya.
“Dan suara tawamu yang paling kencang,” tambah Kiya.
Bukan hari ini.
Mungkin besok.
Atau minggu depan.
Bukan hari ini lagi.
Kurasa itu besok.
Ya, besok waktu yang tepat.
Aku selalu mengatakannya seperti itu sampai tidak terasa banyak waktu yang kulalui dengan momen yang tak kusangkah ada di kehidupanku.
Kesendirian bukan lagi menjadi sesuatu yang kueluhkan. Kesendirian seperti teman yang tengah menemaniku, meski tidak berwujud.
“Aku merindukannya,” ucap Sky dalam benaknya.
Kiya beranjak dengan satu tangannya yang ingin membantuku untuk berdiri. “Kau mau ke mana?” tanyaku.
“Memangnya kau tidak lapar?”
“Di kantin?”
“Ya.”
“Mau sampai kapan kau akan seperti ini?”
“Entahlah, aku masih tidak ada keinginan untuk pergi ke sana.”
“Baiklah.”
“Apa kau perlu sesuatu?”
“Tidak.”
“Aku pergi, ya?”
“Ya, makanlah yang banyak.”
“Kau yakin tidak mau ikut?”
“Kurasa…aku akan pulang.”
“Ya, buat dirimu senyaman mungkin. Berhati-hatilah, Sky!”
Apa yang kulakukan setelah ini?
Perutku terasa lapar tapi tidak juga. Di dalam pikiranku menginginkan untuk makan ini dan itu tapi hanya ada di pikiranku saja.
Langkah kaki seperti kehilangan arah. Meski sudah dekat. Rasanya seperti berada di tempat yang asing.
“Apa kau sudah memutuskannya, Sky?” ia berbicara sendiri di dalam benaknya.
Sesuatu yang kupikirkan berulang kali memiliki arti…
Bahwa itu adalah pilihan yang benar-banar kupilih.
“Ya, bukankah sudah saatnya?”
Langkah kaki menjadi cepat dan besemangat.
“Kak Grace!” seru Sky.
“Sky!” menghampiriku dengan pelukan.
“Kau terlihat bahagia, itu membuatku senang. Apa yang membuatmu terlihat bahagia hari ini?” Kak Grace menatapku seperti menungguku berbicara.
“Aku sudah memutuskannya.”
“Yakin?”
“Ya, aku yakin ini adalah pilihan yang tepat.”
“Apa kau sudah menemukanya?” tanyanya.
“Sudah, kau pasti tahu itu di mana.”
“Ah, kau benar-benar mendengarku ucapanku. Sudah kubilang masih ada yang belum kau ketahui. Senangnya, setidaknya kau masih bisa menyapaku,” kedua mata Kak Grace berkaca-kaca.
“Hmm…”
“Jangan bilang Kakak akan…”
Kak Grace tersenyum dengan masih berkaca-kaca.
“Kau akan menikah,” tebak Sky yang langsung membuat raut wajah Kak Grace berubah.
“Maaf, Kak…”
“Untuk apa meminta maaf? Karena kau…”
Semakin membuatku penasaran karena senyuman Kak Grace seolah menggambarkan ada kabar baik yang datang.
“Aku punya pacar dan dalam waktu dekat akan segera terwujud. Setidaknya, gedung yang kupesan tidak sia-sia.”
“Whoaaa! Kau hebat, Kak! Jadi, orang itu sama sekali belum membayar uang gedung?”
“Ya, benar sekali.”
Sontak aku memeluknya seperti ia tengah terbang dan mendarat memeluk Kak Grace yang ada di hadapannya.
“Selamat, Kak! Aku benar-benar kau pantas untuk bahagia. Bukankah hidup selucu itu, Kak?” Sky melepas pelukannya.
“Kakak batal melangsungkan pernikahan beberapa bulan yang lalu dan tak lama tidak disangkah-sangkah sebelum tanggal pernikahan yang seharusnya…keinginan Kakak justru terwujud.”
“Whoaaa! Bagaimana rasanya jika orang itu tahu Kakak akan menikah di tanggal itu? Bukankah itu gila? Whoaaa!” kedua mataku melebar, kagum dengan kabar baik yang baru saja ia dengar.
Tapi…
Sekaligus membuatnya berpikir.
Apa akan ada yang terjadi padaku?
Seperti halnya yang terjadi pada Kak Grace, apa aku juga akan seperti itu?
“Sky!”
“Ah—iya?”
“Kau melamun. Apa kau tahu apa yang baru saja kubicarakan?”
“Ti—dak.”
“Orang itu putus dengan pasangannya.”
“HAH?”
“Iya, mereka putus.”
“Wah! Aku tidak bisa berkata-kata lagi.”
“Sama, aku juga tidak lagi berhubungan dengannya. Jadi, anggap saja telah berada di jalan masing-masing.”
“Benar, biar kutebak…apa dia adalah cinta pertamamu? Atau kalian saling menyukai di masa lalu tapi hanya saatnya yang belum tepat?”
Kak Grace terdiam dengan senyumannya yang masih terlihat di raut wajahnya.
“Hahaha…,” Kak Grace justru mengeluarkan suara tawanya yang sama halnya dengan suara tawaku yang begitu keras.
“Hei, jadi mana yang benar?”
“Keduanya.”
“Whoaa! Benarkah?”
Kak Grace mengangguk lalu memelukku erat dan juga berbisik di telingaku, “Sky, terima kasih telah memberiku ruang untuk merasakan apa yang kurasakan. Aku tidak akan bertanya tapi aku akan mengatakan hal yang lain…kau juga pantas bahagia, Sky.”
Dalam pelukannya air mataku ingin mengalir tapi aku menahannya.
Pikiranku juga terus mengatakan banyak hal…
Apakah Rania dan Kai sekarang telah menjadi pasangan yang sesungguhnya?
Apa aku dan Kai memang ditakdirkan sebatas orang asing yang bertemu lalu berlalu?
PLAK!
“Aaakkhh!”
Sky memukul dirinya sendiri. Ia benar-benar melakukan sesuatu yang sama sekali jauh dari rencananya. Kali ini ia telah mengkhianati dirinya sendiri.
“Ini benar-benar terjadi? Whoaa!”
“Kau benar-benar melakukannya, Sky?”
“Kau? Bukankah ini buka kau?”
Rasanya seperti membuka lembaran baru.
“Ya, membuka lembaran baru.”
“Baiklah, aku harus memulai dari mana?” Sky melihat di luar pintunya masih ada beberapa kardus.
“Banyak juga rupanya, kapan bisa…”
Apa yang kau bilang?
Lembaran baru?
Kau salah besar!
Seketika membeku dengan detak jantung yang begitu kencang. Mulut yang yang ingin mengatakan sesuatu justru membisu.
“Sky?”
Suaranya.
Raut wajahnya.
Perasaannya? Aku tidak tahu.
“Kai?” aku hanya bisa mengucap namanya dalam benakku.
BRAK!
Kedua pintu itu sama-sama tertutup seperti tidak ingin mengulang kembali tapi…
...***...