Suddenly

Suddenly
Before the Sunrise



Angin yang begitu kencang. Tanpa ponsel. Bersandar pada kursi yang sengaja dimodifikasi menjadi kursi malas. “Kenapa kau menyebutnya kursi malas?” ucapku pada Kai yang masih membuat kursi malas untuknya.


“Apalagi kalau bukan kursi malas namanya?”


Dua kursi rotan dengan masing-masing satu meja yang tak begitu panjang tapi cukup untukku yang tak terlalu tinggi. Mungkin itu tidak akan cukup untuk Kai.


Kai mengikat kaki-kaki kursi dengan kaki meja yang seling berdempetan. Lalu memberi patras yang anehnya memiliki ukuran yang cocok dengan kursi dan meja itu.


Setelah matras, di atasnya diberi selimut tebal, bantal, dan terakhir selimut untuk dikenakan.


“Selesai,” Kai merapikan kembali yang berserakan di sekitarnya.


“Kau yakin itu akan kuat?”


“Sky, aku sudah mengatakannya berapa kali padamu?”


“Iya, aku tahu. Kau bilang…kau telah melakukannya berulang kali tapi, itu kau. Aku masih ragu dengan posisi kepala di antara kursi dan meja yang terikat.”


“Karena belum mencobanya, kau jadi hanya bisa mengira-ngira.”


“Baiklah, lihat saja nanti.”


“Tenang saja, benar-benar aman.”


“Iya.”


Kursi malas itu berada di balkon menghadap ke arah luar. Di tengah di antara dua kursi itu ada meja kecil dengan beberapa makanan dan minuman. Sisa-sisa persediaan yang kupunya dan Kai punya.


Semua ide Kai untuk mengakhiri apa yang terjadi beberapa hari ini. Meskipun masih banyak yang mengganjal.


“Kau mau ke mana?”


“Berganti pakaian,” ucapku.


“Pakai punyaku saja,” balas Kai.


“Hei, yang benar saja.”


“Memangnya kenapa?”


“Eh, aku harus mengambilnya sebentar, ya?”


“Ambil apa lagi?”


“Hmm, itu…Kai.”


“Pembalut?”


Wah, dia menyebutnya dengan jelas.


“Pakai saja punyaku…maksudnya itu milikmu. Kau pernah meninggalkannya dan ya, aku menyimpannya.”


“Hah? Sepertinya tidak pernah, kecuali kau membelinya.”


“Kau membelinya, kan?”


“Hei, Kai!”


“Iya, aku membelinya,” dengan memasang muka masam.


“Hahaha, serius kau membelinya?”


“Siapa tahu kau membutuhkan. Hei, jangan berpikiran yang tidak-tidak! Kau tidak tahu betapa sulitnya bagiku untuk membelinya.”


“Ibuku…,” Kai melanjutkan.


“Ada apa dengan Ibumu?”


“Hmm, kata Ibuku…Ayahku pernah seperti ini.”


“Dan Ibuku menyukainya karena hal konyol itu.”


“Apa orang di masa lalu terlalu naif?”


“Lalu…orang di masa ini bisa mengartikan seperti hal dengan tanda kutip, itu maksudmu?”


“Bukan. Sebenarnya…Ibuku selalu menggodaku dengan ocehan soal pembalut hanya karena…”


“Aku tidak mau membeli pembalut untuknya. Itu membuatku malu tapi saat aku telah bersamamu entahlah, kenapa ucapan Ibuku benar? Aku tidak merasa malu.”


“Ah, itu pembelajaran dari Ibumu untukmu. Seperti bekal di masa depan.”


“Benarkah?”


“Iya, kau pasti pernah dengar. Seperti katanya orang di masa lalu bla…bla…bla...”


“Ah, iya. Ibuku sering mengatakannya.”


“Sebenarnya itu hanyalah pendapat mereka tentang apa yang mereka alami di masa lalu. Ya, mungkin akan berbeda di masa depan tetapi…”


“Berevolusi?”


“Ya, seperti itu, Kai. Wah, karena pembalut berbincangan kita terdengar serius.”


“Kau yang memulai membuka topik.”


“Justru kau yang memulai topik dan juga sebuah tema, ‘Pembalut’ bukankah seperti itu?”


“Sky!”


“Hahaha, baiklah di mana kau meletakkannya?”


“Sepertinya ada di kamarku tapi lupa menaruhnya di mana, hehe.”


“Wah, lebih baik aku mengambilnya daripada harus mencari.”


“Tidak usah,” Kai berjalan ke kamarnya dan aku mengikutinya.


Kamarnya terlihat rapi, begitu juga dengan keadaan disekelilingnya begitu tertata tanpa ada yang berserakan.


“Kau menemukannya?” aku sudah mencarinya di laci yang Kai maksud tapi tidak ada.


Kai menggelengkan kepalanya.


“Sudah kubilang, lebih baik aku mengambilnya daripada harus mencarinya.”


“Jangan-jangan…,” ucap Kai.


“Apa?”


“Tidak…bukan.”


“Ah, dia yang memakainya?” Sky seolah telah mengerti maksud Kai.


“Hah? Apa maksudmu?”


“Sepertinya…dia telah memakainya.”


“Aku akan mengambilnya sekaligus berganti pakaian.”


“Sky…”


“Aku tidak akan lama.”


Sebenarnya tidak membuatku kesal hanya saja…


Sesuatu yang belum terselesaikan.


“Siapa?”


Siapa?


Dilihatnya ada seorang perempuan berdiri di depan pintu.


Mungkin sedang menunggu seseorang. Sky melewatinya.


Tapi perempuan itu seolah ingin bertanya padaku tapi terlihat ragu.


Saat mulai membuka pintu dan akan masuk tatapannya berubah menjadi tajam.


“Ada apa dengannya?” suara Sky lirih di balik pintu.


Akhir-akhir ini banyak oranh aneh yang berkeliaran di dekat apartemen. Sampai menyebar di seluruh unit.


Ada orang yang dengan tiba-tiba menanyakan, apa kau ingin mati? Wah, itu bukan lagi orang aneh…itu menyeramkan. Ada juga yang tiba-tiba menghampiri dan marah-marah dengan kata-kata yang melantur.


Entahlah, orang-orang itu sebenarnya orang luar atau memang penghuni apartemen? Tidak tahu. Mengapa begitu menyeramkan? Mengingatkanku pada ketukan pintu di tengah malam.


“Ah, jadi karena itu?” Kai dan aku masih bercerita tentang orang-orang aneh itu.


Berbaring di kursi malas dengan balutan selimut yang hanya memperlihatkan bagian kepala saja. Kai di sisi kiri dan aku di sisi kanan.


“Iya, tapi kau…”


“Iya, aku mengacaukan semuanya.”


“Kau tidak pernah menyukainya, kan? Rania…”


“Kau tidak pernah menyukainya, kan? Ken…”


“Kai…”


“Sky…”


“Hei!”


“Bukankah itu yang ada di benakmu, Sky?”


“Kau juga, itu yang ada di benakmu. Baiklah, aku akan menjawabnya. Hmm, aku tidak pernah menyukainya. Tapi…”


“Kau pernah menyadari sesuatu, kalau Ken terlihat menyukaimu?”


“Kau menebak atau kau juga menyadarinya?”


“Awalnya menebak tapi lama-kelamaan itu terlalu terlihat. Apa kau sudah tahu siapa yang mengirim kertas itu?”


“Terkadang juga, itu membuatku ingin menjaga jarak pada Ken. Tidak, sampai sekarang tidak tahu siapa orang itu.”


“Aku semakin menyadarinya, akhir-akhir ini.”


“Kau benar juga. Akhir-akhir ini Ken benar-benar ingin membuatku menjaga jarak padanya.”


“Baguslah, ternyata kau menyadarinya.”


“Hei, jawab pertanyaanku! Kau yang bilang sendiri. Kita akan mengobrol sampai puas. Bahkan sampai matahari menyapa.”


“Jawabanku akan tetap sama. Tidak pernah menyukainya. Dia sahabatku itu saja tapi…”


“Apa kau menyayanginya? Karena kau dan dia bukan hanya sekedar 1 atau 2 tahun.”


“Ya, seperti itu. Maafkan aku, Sky. Bukan maksudku untuk…”


“Kau mengerti maksudku, kan?” Kai menatap ke arahku.


“Ya, tapi waktu itu kau benar-benar keterlaluan. Kuharap itu tidak akan terjadi lagi.”


Ting tong!


“Siapa malam-malam?” ucap Kai.


“Sebentar…”


Suara bell membuat instingku juga mulai bertanya-tanya.


Bertanya-tanya dengan rasa ketakutan akan terjadi sesuatu.


Kai terdengar berbicara tapi tak begitu jelas.


Sky berjalan mendekat.


Kai menyadari itu.


“Siapa?” ucapku lirih.


Kai menggelengkan kapala lalu membuka pintu dengan lebar.


Orang itu?


Orang itu…


Perempuan yang berdiri di depan pintu.


“Kau…kau bukannya tinggal di sebelah?” ucapnya.


Kai melihat ke arahku. “Ah, kau yang tadi. Kupikir kau sedang menunggu seseorang. Kau, perlu bantuan atau?”


Kai memelukku dari belakang dan berbisik. “Sky, di benar-benar aneh. Dia datang mencariku. Tapi…aku tidak mengenalnya.”


“Hmm, apa hubungan kalian?” perempuan itu tiba-tiba bertanya dengan pertanyaan seperti itu.


“Tentu, kami adalah pasangan,” ucap Kai.


“Ah, benarkah?”


Hah, ada apa dengan orang ini?


“Siapa yang kau cari?” tanyaku.


“Seseorang yang bernama Kai.”


“Dia memang Kai, tapi siapa pun juga bisa memiliki nama yang sama dengannya.”


“Tidak mungkin. Dia Kai yang kucari.”


“Aku tidak mengenalmu. Kau siapa?”


“Kai, apa kau sama sekali tak mengenaliku? Bagaimana kabar Rania? Wah, tak kusangkah toko buku itu masih bertahan sampai sekarang.”


Apa?


Apa maksudnya?


Toko buku?


Bahkan, sebelum matahari benar-benar menyapa sesuatu yang mengganjal…


Belum terselesaikan.


...***...