Suddenly

Suddenly
Nothing is Unfamiliar and Strange



Hanya bisa mengira-ngira.


Pintu itu telah tertutup rapat meski berharap pintu itu akan terbuka beberapa saat kemudian.


Seperti sedang berandai-andai dengan perandainya yang mungkin atau tidak mungkin terjadi.


“Apa yang harus kulakukan?”


“Agar aku bisa kembali padamu?”


Tangan Kai menahan pintu di hadapanku sedangkan tatapanku tidak melihat ke arahnya.


“Aku tidak pergi ke mana pun,” itu yang keluar dari mulutku.


“Tapi mengapa kau di sini?” tanyanya dengan kedua tangannya yang berada di bahuku.


“Bagaimana denganmu…kau juga berada di sini?”


“Bukankah sudah beberapa hari kau berada di sini?” tangan Kai beralih menyentuh di kedua pipiku.


“Sky?” mukanya condong ke depan tepat di hadapan mukaku.


“Haruskah kita seperti ini, hmm?” Kai mengusap-usap rambutku dengan lembut.


“Bolehkah aku memelukmu?” ucapnya dengan kedua matanya yang benar-benar menatapku. Tatapannya yang sama hangatnya dengan jemari tangannya.


Aku…


Bukan tidak ingin berbicara tapi sedikit takut untuk memulai meski telah mengatakan bahwa aku tidak pergi ke mana pun.


Masih tetap dengan perasaan yang sama meski pertemuan tak seperti biasanya terjadi.


Kai memelukku erat tanpa menunggu apa yang keluar dari mulutku.


Detak jantungnya begitu kencang. Seperti saat kau berlari dengan langkah kaki yang tak beraturan. Tubuhnya benar-benar hangat.


Mengapa aku harus berpisah dengannya?


Mengapa aku harus mempertanyakan perasaan yang ada padanya?


Mengapa juga kau harus mempertanyakan soal Rania yang sudah jelas Kai tidak akan melakukannya?


Ada ada denganku?


Apa saat ini Kai sedang menjeratku dengan apa yang ia lakukan padaku?


Atau aku hanya terjerat dengan diriku sendiri?


Kembali, kembali, dan kembali…pada tempat yang sama.


Kai membuka pintu dengan posisi tak melepas pelukannya. Lalu menutupnya perlahan. “Kau juga tidak ingin melepasnya?” bisiknya dengan suara tawanya yang terdengar ingin menghidupkan suasana.


Meski kedua tanganku tidak membalas pelukannya, tapi aku pun tidak berusaha untuk mengelak.


“Baiklah, 5 menit kecuali kalau kau ingin melepasnya,” ucap Kai.


Pelukan itu semakin hangat.


Kai terus berbicara tanpa memedulikanku yang justru bungkam.


“Kau pernah mengatakannya, sebuah kebetulan dan tidak…sebenarnya terlihat sama tapi tidak juga.”


“Saat aku mendengarnya, bukankah itu menjadi ambigu?”


“Apa maksudnya? Itu yang kukatakan dalam benakku. Kau juga pernah mengatakannya…jika apa yang kau pikirkan membawamu kembali, kembali, dan kembali…”


“Itu pilihan yang sudah semestinya kau pilih.”


“Kau dan aku bukanlah kebetulan, Sky. Kita hanya dua orang aneh yang memiliki alur cerita cinta yang juga begitu aneh. Bukankah seperti itu?”


“Mungkin ini akan terdengar aku hanya membual dengan alasan yang baru saja kutemukan tapi ini benar-benar apa yang ingin kukatakan.”


“Tidak ada hubungannya dengan Rania…”


“Green telah mengacaukan pikiranku dan membuatku memikirkan hal yang sama seperti apa yang kau pikirkan.”


“Kau bisa saja menjalin hubungan dengan Green dengan ruang kosong yang kau punya. Begitu juga denganku, aku bisa menjalin hubungan dengan Rania dengan ruang kosong yang kupunya tapi…”


“Aku tidak seperti itu dan kau juga tidak seperti itu, Sky.”


“Maafkan aku, membuatmu berpikir yang tidak-tidak karena reaksiku juga.”


Kai melepas pelukannya dan manatap ke arahku. Tangannya menggenggamku. Duduk di sofa dengan saling berhadapan.


“Sky?”


“Apa ruang kosong itu hanya omong kosongku belaka?” ucapku.


“Tidak…,” Kai menundukkan kepalanya.


“Sudah kubilang kita pasangan yang begitu aneh.”


“Kau yang aneh, aku tidak. Kau juga yang tiba-tiba berubah, Kai.”


“Iya, tapi kau juga…kau juga seperti ingin mengakhiri bahkan sebenarnya kau tidak yakin. Apa kau ingin semuanya berakhir, Sky?”


“Tidak…,” Sky menundukkan kepalanya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tahu…aku yang memulainya tapi selain itu karena kehadiran Green, aku tidak tahu alasan yang lebih dari itu. Bukankah kau juga berpikir seperti itu, Sky?”


“Apa itu bisa disebut dengan sebuah perubahan? Kau dan aku sama-sama saling berubah, Kai. Karena tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Bukankah kita tak perlu menyalahkan orang lain? Bukankah itu dari diri kita sendiri?”


“Kita sama-sama saling berubah? Aku tidak berpikir seperti itu. Kau masih menginginkanku dan begitu juga sebaliknya. Bukankah perubahan menunjukkan salah satu di antara kita tidak ingin hubungan ini berlanjut?” Kai masih menggenggam kedua tanganku seolah sedang menyakinkanku.


“Selain tidak ingin hubungan ini berlanjut, bukankah selalu ada jarak? Entahlah…itu yang kurasakan, Kai.”


“Kau bicara soal ruang kosong itu lagi?” Kai melepas genggaman tangannya.


“Kau membuatku berpikir tentang ruang kosong itu, ruang kosongmu yang terisi oleh Rania dan ruang kosongku yang terisi oleh Green.”


“Ah, ruang kosongmu terisi oleh Green?”


“Entahlah, itu hanya asumsiku.”


“Bahkan kau tidak yakin dengan ucapanmu sendiri, Sky. Lupakan soal ruang kosong itu!”


“Bukankah Rania sempat terbesit di dalam pikiranmu, Kai?”


“Lalu apa itu juga terjadi denganmu karena pertanyaanmu padaku itu?” raut wajah Kai berubah.


“Ya.”


“Sky?”


“Apa yang ada dipikiranmu, Sky?”


“Aku juga memikirkan soal Green, Kai.”


“Kau hanya memikirkannya saja, Sky. Itu bukan apa-apa.”


“Kau juga memikirkan soal Rania, Kai.”


“Itu juga bukan apa-apa. Hanya sebatas itu…yang kupikirkan hanya kau, Sky.”


Kai dan aku saling duduk membelakangi.


“Aku tidak menyukai Green tapi…”


“Aku juga tidak menyukai Rania, hanya saja…”


“Karena kita sempat tak bertemu dan orang lain datang pada ruang kosong itu. Ruang kosong yang membuatmu memiliki perasaan aneh…yang kau sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi. Itu maksudku, Kai.”


“Kau memang ada bersamaku tapi rupanya tidak seperti itu, Kai.”


“Hanya kau yang ada dipikiranku, Sky. Bisakah kau berpikir tentang kau dan aku saja?”


“Aku ingin seperti itu, Kai. Tapi…kau seperti tidak ada bersamaku.”


“Jadi, kau yang tidak ingin hubungan ini berlangsung? Berhentilah berpikir yang tidak-tidak, Sky! Aku ingin kau dan aku seperti…”


“Apa kita akan baik-baik saja, Kai?”


“Sky, kumohon!”


Kai memelukku dari belakang dan berkata, “Aku tidak ingin hubungan ini berakhir. Tak bisakah melupakannya saja dan memulai kembali?”


“Tak semudah itu, Kai. Aku tidak ingin berakhir dengan saling menyakiti satu sama lain.”


“Kau bilang perasaanmu tetap sama, Sky. Sekarang ucapanmu tak seperti yang kau ucapkan sebelumnya.”


“Perasaanku tetap sama, Kai. Hanya saja…”


“Kita bisa memulainya kembali, Sky.”


“Apa kita bisa, Kai?”


“Kita hanya butuh waktu, itu saja yang kita butuhkan. Anggap saja kita sedang menyalahkan waktu untuk saat ini. Bukan salahmu atau salahku. Kita perlu memperbaiki agar kita saling menyadari tanpa harus menyalahkan waktu.”


“Tidak apa untuk saat ini kita saling menyalahkan waktu. Kita bisa memulainya kembali, Sky.”


“Kau dan aku…”


“Kai dan Sky…”


...***...