Suddenly

Suddenly
Strangers. Suddenly…



Kampus.


Toko buku.


Bioskop.


Makan ramen di dekat apartemen.


Tempat-tempat lain yang tak jauh dari tempat tinggalku.


Menghabiskan waktu weekend tidak pergi ke mana pun dan dengan hanya menonton film bersama camilan atau memesan makanan.


Kegiatan itu—selalu ada padaku sebelum bumbu-bumbu romansa menyentuhku.


Setelah hari itu. Kai beberapa kali menghubungiku. Terkadang juga datang tanpa berbicara satu sama lain.


Terkadang juga menemaniku menonton film dengan duduk berjarak di sofa. Lalu berakhir di tengah malam, ia akan mengecup keningku. Mengusap-usap kepalaku…barulah ia pergi.


Tidak pernah terlihat lagi kedekatanku dengan Kai di kampus. Aku pun kembali seperti versi lamaku yang pernah ada.


Kai biasanya datang di sore hari, ia memelukku erat tanpa berbicara. Keesokan harinya, kutemukan Kai yang tertidur di sofa dengan selimut tebal.


Entahlah…


Apa yang sebenarnya terjadi?


Tidak ada satu pun yang ingin berakhir atau mencoba untuk mengakhiri.


Sesekali masih terbesit di dalam pikiranku. Tentang semua yang terjadi. Bahkan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Rania. Orang itu kembali seperti saat pertama kali bertemu dengannya.


Tanganku yang terluka sudah kembali dan membuatku lega bisa kembali seperti sedia kala.


Kai dan aku semakin terlihat seperti orang asing jika itu hanya dilihat dari luarnya saja.


“Aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu tapi aku tidak berhak mengatakan itu.”—Kai


Pesan itu menjadi yang terakhir kalinya.


Kai tidak pernah lagi menghubungiku. Tidak pernah lagi saling bertemu. Bahkan di antara aku dan Kai tidak ada yang mangatakan hubungan di antara kita telah berakhir.


Perkuliahan juga semakin membuatku sibuk dan memang sengaja membuat diriku menjadi lebih sibuk. Kegiatan di club juga cukup membantuku. Aku mengikuti semua perlombaan fotografi yang sedang berlangsung dan tiga di antaranya berhasil kumenangkan.


Kai telah mengosongkan apartemennya. Ada rumor yang beredar kalau Kai tinggal bersama dengan Rania di apartemen baru yang mewah. Meski tidak terihat kebersamaan mereka di kampus. Telingaku sudah kebal mendengarnya dan menjadi semakin tidak peduli kecuali jika orang-orang itu masih mengait-ngaitkanku degan cemoohan yang mereka keluarkan dari mulut mereka yang tidak bertanggung jawab.


Pikiranku yang berkelana seringkali mengingatkanku tentang semua yang terjadi padaku. Apakah aku egois? Atau jika aku sedikit menurunkan egoku dan berbicara dengannya, apa kita kembali bersama?


Tentu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Kalau perasaan itu tidak ada. Itu salah besar. Aku masih memiliki perasaan yang sama. Benar-benar sama.


Jika Kai tiba-tiba muncul di hadapaku sekarang ini, kurasa aku akan memeluknya dan membawanya kembali tapi itu telah menjadi ingatan yang telah berlalu.


Sesekali bertemu dengannya di kampus tapi seperti orang asing. Aku tahu, seharunya aku bertanya di mana dia pindah atau apa rumor itu benar? Jika itu benar, kurasa itu sesuai prioritas yang ia miliki. Tapi kata-kata itu tidak pernah terucap dari mulutku.


Aku semakin bertaut dengan waktu, sesuatu yang selalu kuhindari. Karena jika berbicara soal waktu, semakin banyak tumpukan rasa bersalah yang ingin kuulang kembali untuk memperbaikinya.


Bertaut dengan waktu membuatku menyadari kapan harus merasakan waktu terasa lebih lama dan menganggap menunggu tidak sepenuhnya menjenuhkan atau menganggap libur panjang adalah waktu singkat yang sebenarnya.


“Sendiri, Neng?” tanya penjual ramen yang sudah pasti tahu denganku.


“Ya.”


“Maaf, ya…Neng.”


“Haha. Kenapa, Pak?”


“Ada kalanya perpisahan bukan berarti saling mengakhiri. Semoga kau ada di antara itu, Neng.”


Sky hanya membalasnya dengan senyuman dan justru berkata sebaliknya, “Mengapa ramen ini lebih enak dari biasanya?” ia benar-benar menikmatinya meski sorot matanya terasa semu seperti air hujan yang menetes pada jalan yang berlubang.


Akhir-akhir ini beberapa kali bertemu dengan Ken. Sama saja. Sama-sama menjadi asing.


Berjalannya waktu, waktu yang telah menemaniku. Membuat list yang berada di kehidupanku berubah.


Seperti tinggal di apartemen ini.


Apakah aku harus tetap tinggal dan bertahan sampai benar-benar bertemu Ayahku?


Atau sudah saatnya aku untuk menginjakkan kaki?


Semakin hari. Semakin membuatku bimbang. Tiada hari tanpa memikirkannya. Memikirkannya dengan keraguan yang semakin menjadi-jadi.


Selalu berganti-ganti pilihan dengan perasaan yang juga tidak menentu.


Kesibukan yang ada padaku terasa semakin membuatku lelah dan lama-kelamaan membuatku muak. Seperti tengah kehilangan diri sendiri.


“Kau mau mengembalikan buku ini?”


“Iya,” Sky mengangguk.


“Tapi, kau masih punya waktu 1 bulan untuk mengembalikannya. Bagaimana jika orang lain yang akan meneruskan selang waktu mengembalikan buku?”


“Tidak masalah jika itu bisa. Aku harus meninggalkan buku ini atau bagaimana?”


“Bukankah kalian saling mengenal?” petugas perpustakaan itu tersenyum penuh arti. Seperti sengaja melakukannya. Terlihat seperti itu.


Sky memeriksa ponselnya. Ada notifikasi bahwa dia telah menerima uang lomba fotografi yang ia menangkan. Ia juga tersenyum senang begitu notifikasi itu telihat pada layar ponselnya.


“Kalian saling mengenal, kan?”


“Bagaimana?” sahut Sky.


“Dia yang akan melanjutkannya. Kau tidak keberatan, kan?”


Sorot mataku melihatnya.


Kai.


Dia, Kai.


“Tidak,” Sky meletakkan buku itu di dekat Kai.


“Terima kasih,” ucapnya.


Dua orang yang pernah saling menjalin hubungan itu, berjalan dengan arah yang berbeda.


Tatapan keduanya juga tidak seperti yang mereka tahu sebelumnya.


Beberapa minggu kemudian sebelum buku itu masuk pada tanggalnya.


Buku itu ada di depan pintuku.


Langkah kakiku seperti tidak terkontrol. Aku tidak tahu kapan buku itu ada. Langkah kakiku memintaku mengejarnya. Tetapi tidak menemukannya.


Bahkan buku itu telah kembali pada tempat yang semestinya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya petugas perpustakaan padaku.


“Iya, baik-baik saja.”


“Bagaimana buku itu bisa kembali padamu?” tanyanya lagi.


“Dia mengembalikannya.”


“Iya, tahu. Tapi bagaimana caranya?”


“Menyerahkannya padaku.”


“Wah! Kau tidak baik-baik saja.”


Pertugas perpustakaan itu hanya berbeda beberapa tahun di atasku. Orang itu punya senyuman yang indah. “Terima kasih,” ucapku sembari menundukkan kepala.


“Tunggu! Kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara.”


“Iya?”


“Hmm, bukankah kau ingin seperti buku itu?” ucapnya.


“Hah?”


“Iya, bukankah kau sekarang iri dengan buku itu? Kau seharusnya kembali padanya. Kalian sama-sama masih menyimpan meski terlihat saling mengelabuhi.”


“Kurasa tidak mungkin terjadi,” suara Sky lirih.


“Kalian pasti kembali.”


Kalian pasti kembali…


Pasti kembali…


Kembali…


Kembali…


Terus teriang-iang di benakku dengan langkah kaki yang tiba-tiba berhenti lalu tiba berjalan. Seperti itu berulang kali.


BRUK!


“Aaakhh!” kepalaku membentur pintu. Kedua mataku melebar tak percaya apa yang ada dihadapanku. “Bukankah aku masih berjalan di dekat kampus?”


“Kau sudah sampai beberapa menit yang lalu.”


Sky menoleh dan…


“Green?”


“Hai, tetangga baru!” ucapnya.


“Kau…”


“Iya,” Green tersenyum padaku.


“Kau…”


“Mulai hari ini aku tinggal di sebelahmu, Sky.”


...***...