
“Kenapa kau melakukannya?”
“Bagaimana kau tahu kalau itu aku?” Rania justru balik bertanya.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Bahkan kau menyuruh orang lain untuk melakukan apa yang kau inginkan.”
“Tyana yang mengatakannya padamu? Bukan aku, Kai. Aku tidak melakukannya.”
“Yang mana yang kau lakukan sebenarnya?”
“Hanya foto-foto itu saja,” Rania menundukkan kepala dan kembali menangis.
“Hanya…”
“Hanya itu…”
“Hanya itu saja, Kai.”
“Iya, aku tahu itu bukan kau. Kau tidak seperti itu,” Kai memeluknya.
TRING!
Suara alarm Kai yang masih tertinggal. Entah, mengapa aku melupakan alarm itu?
Seperti sengaja membiarkannya ada padaku. Alarm itu akan berbunyi pada pukul 3 pagi dan aku selalu lupa untuk mematikannya agar tidak berbunyi setiap hari.
Selain terbangun di pukul 3 pagi. Ingatanku juga mulai mengungkit-ungkit persoalan yang masih melekat di benakku.
“Hari ini…,” ucapku lirih.
Ia memandangi sekitar hampir semua barang-barangnya telah dikemasi. Bahkan ia tidur di sofa. Apartemen pemberian Ayahnya cepat atau lambat akan memdapatkan penghuni baru yang akan menyewa.
“Apa aku harus tidur?” ia akan pergi pukul 6 pagi. Ya, 3 jam lagi.
Sky mengambil ponselnya. “Apa dia juga terbangun?” pandangannya ke arah bolam lampu berwarna kuning ada ada tepat di atas kepalanya.
5 hari yang lalu…
Ting tong!
Krek!
Green dengan senyuman yang merekah dan membawa sesuatu di tangannya.
“Iya?” tanpa kusadari sikap sedikit dingin pada Green, entah mengapa?
“Ini untukmu. Bukankah kau dulu sangat menyukainya? Apa aku tahu apa isinya?”
Rasanya ingin memberi respon padanya. “Makanan.”
“Kau benar tapi, apa?”
Sky memejamkan matanya seperti tidak tahan lagi untuk merespon ucapannya. “Cheesecake.”
“Benar sekali, haha…”
Orang itu tersenyum padaku lalu memberikan pemberiannya itu.
“Terima kasih,” Sky akan menutup pintunya.
“Etss! Kau tidak ingin menyuruhku masuk?” raut wajahnya yang terlihat memohon.
“Ah, maaf. Aku benar-benar kacau harus membereskan banyak hal.”
“Tidak apa, tidak masalah. Abaikan saja aku. Aku hanya tidak tahu harus…karena kau yang kukenal di sini.”
“Oh…”
Melihatnya dengan raut wajah seperti itu membuatku merasa orang paling jahat sedunia. “Baiklah,” ucapku.
Setidaknya dia akan tahu apa yang kulakukan di dalam.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Iya.”
“Tapi…kau terlihat tidak baik-baik saja.”
“Tidak.”
“Kau juga seperti malas berbicara denganku. Ada apa sebenarnya?”
“Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Kau…”
“Kau bukan…”
“Aku akan pindah,” jawabku sesuai dugaan saat Green akan melihatnya.
“Kenapa?”
“Bukannya kau sudah tahu?”
“Ah…”
“Karena dia kau pindah?” tanyanya.
“Iya, mungkin.”
“Hei, bukankah kau tak perlu seperti itu?”
“Kenapa?” tanyaku dan melihat ke arah Green yang membuatku bertanya-tanya dengan tatapan Green padaku.
“Green?”
Green mendekatiku. Tubuhnya condong tepat di hadapanku dengan dua tangannya yang menahan di antara sisi kanan dan kiriku. Sudah bisa dibayangkan betapa tidak enaknya posisiku saat ini. Hampir terlihat tidak berjarak. Tatapannya padaku juga tajam. “Apa yang kau lakukan?” suaraku membuat Green mengedipkan mata berulang kali seperti baru menyadari apa yang dia lakukan.
Tangannku mendorong tubuhnya menjauh dariku. Pandangannya pun berpaling begitu juga denganku. Apa yang dia lakukan?
Suasana menjadi aneh. Bukan hanya menjadi hening tapi entahlah, bukankah Green seharusnya meminta maaf padaku?
Haruskah aku yang memulai untuk berbicara? Karena itu menjadi hakku untuk berbicara?
“Apa yang kau…”
“Maafkan aku,” potong Green.
Kedua mataku bertemu dengan kedua matanya.
“Maaf, aku tidak bisa mengontrolnya…itu di luar kendaliku. Apa kau bisa menerima itu?” Green menundukkan kepala di hadapanku.
“Bukankah kau punya alasan…”
“Kau benar-benar ingin mendengarnya?” Green kembali dengan tatapannya.
Tatapannya itu…
Seperti ingin mengatakan sesuatu yang ada di dalam…
Sesuatu yang tersimpan dan itu berhasil tersampaikan padaku.
Seperti Kai yang menatapku.
Meski tidak membuatku goyah tapi…
Ada yang kudapatkan dari tatapan Green.
Sebuah alasan.
Sebuah alasan dari sikapku pada Green. Ya, Green telah memberikanku jawaban.
Alasan yang cukup masuk masuk akal.
Mulut Green seolah sedang berencana untuk mengatakan sesuatu.
Sebelum itu terjadi, aku tidak ingin memulainya.
Ucapakanku terdengar seperti tahu sesuatu sebelum terjadi. Padahal, aku hanya mengandalkan perasaanku yang entah sesuai dengan apa yang kupikirkan atau tidak.
“Sky…”
Detak jatungku berdetak kencang tapi bukan karena itu. Green terlihat seperti hati-hati untuk mengatakannya.
“Sky…”
Mulutku ingin mengatakan, sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Tapi aku justru membuat Green mengurungkan ucapannya.
Sky menatap Green seolah menunggunya berbicara.
“Aku menyukainya, apakah boleh seperti itu?” Green berbicara dengan suaranya yang cepat.
“Hah, menyukainya? Siapa yang kau suka?” Sky mengedipkan matanya. Napasnya serasa ia tengah berada di pesawat dengan ketinggian lalu turun pada ketinggian yang lebih rendah dan rasanya ada efek berjalan turun dari dalam tubuhnya.
“Hah? Menyukainya?” Green justru bertanya-tanya dengan ucapannya sendiri.
“Kau mengatakan itu, Green.”
Green meremas kepalanya sendiri dengan menundukkan kepala. “Wah, kau payah, Green!”
Ada apa?
“Kenapa, kau?” tanyaku.
“Mengapa sulit untuk mengatakannya? Apa ini bukan menjadi waktu yang tepat untukku?”
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Bukankah kau sebenarnya sudah tahu? Hanya saja kau tidak ingin menjadi terlihat jelas karena kau sedang berbicara denganku. Andai di masa lalu…bukankah aku sudah terlambat, Sky?”
Sky terdiam karena ucapan itu. Ucapan yang mengena. Bukan hanya yang ada di hati tapi momen yang masih ia ingat.
“Kau sedang berbicara tentang masa lalu?”
“Iya, kau pasti tahu itu. Kenapa kau berpura-pura tidak tahu? Tak kusangkah itu tersampaikan. Setidaknya kau telah mendengarnya, Sky. Itu kebenarannya, seperti apa yang kau dengar.”
BRAK!
Napasku terengah-engah. Air mataku mengalir dengan sendirinya.
Kai?
Penghuni sebelah itu, Kai?
Bagaimana bisa…ada yang bisa menjelaskan?
Apa itu hanya sebuh kebetulan?
Kebetulan?
Kalau itu hanya sebuah kebetulan tapi, mengapa?
Detak jantungku berdekat begitu kencang dengan napas yang masih mencoba mengatur napas.
Memejamkan mata berulang kali. Apa yang harus kau lakukan?
Aku sudah terlanjur pindah.
Kembali ke apartemen lama?
Tidak!
Apa yang harus kulakukan? Mengapa harus seperti ini?
Tapi…
Bukankah kau ingin mendengar perasaan yang ada pada Kai?
Kau ingin mendengarnya, Sky.
Bukankah ingin itu menjadi jelas?
“Ya, aku ingin itu menjadi jelas dan setelah itu baru bisa memutuskan apa yang harus kulakukan.”
Sky membuka pintu dengan perlahan…
“Aku merindukanmu, bolehkah aku mengatakan itu?” di balik pintunya Kai berdiri di hadapannya dan mengatakan itu.
Apa yang harus kulakukan?
“Aku menyukaimu, bolehkah aku mengatakan itu?”—Green.
“Aku merindukanmu, bolehkah aku mengatakan itu?”—Kai
Rasanya…
Aku…
Sedang menatap…
Langit berwarna merah mudah.
...***...