Suddenly

Suddenly
Part 9



Happy Reading ☘️☘️


Jangan Lupa kata-kata manisnya hehehe


Brukk...


"Aduh! Yah yah, basah. Ck, apes lagi gue. Siapa sih akh, mana nerawang lagi nih baju" decaknya sebal sambil mengibaskan tangannya ke bajunya yang basah plus nerawang karena tumpahan air yang tak disengaja.


"Astagfirullah, aduh maaf kak, maaf sekali kak. Aku tadi buru-buru gak lihat-lihat jalan" gadis yang berjilbab merah maroon itu menyesal sambil ikut melap baju Aara yang basah dengan hijab besarnya.


"Hem, yaudah gak papa kak, gue juga tadi kurang fokus nanti juga kering sendiri ini kak"


"Aku gak enak kak baju kakak sedikit nerawang, ayok kita beli baju ganti ke koperasi aja kak!" Katanya tak enak.


"Aelah, gak papa kali ah. Santai! Gee juga Udah mau pulang ini makanya keluar dari kantin. Udah ah gak usah merasa bersalah. Geu duluan!, sampai ketemu lagi yah. Bye." Aara berlalu sambil menutup bajunya yang sedikit menerawang dengan Tote bag nya.


"Tap– kak! Yahh"


–––––


"Jangan bilang semua angkot siang ini pada libur, gak ada satupun yang lewat, gue udah nunggu lama disini ya Allah. Ini hari apa sih kenapa gue selalu apes" Aara berkata seperti itu sebab sudah 30 menit lebih dia menunggu angkot di halte tapi tak ada satupun yang lewat. Kekesalannya bertambah.


"Lo mau tebar-tebar pesona apa" suara Abi menyadarkan Aara ntah sejak kapan cowok itu sudah berada di depannya dengan sambil duduk anteng di atas motor KLX yang selalu dibawanya.


"Apaan sih Lo! Udah deh gak usah ganggu! Lagi gak mood sana pergi! Hus hus hus"


"Gue gak mau ganggu Lo ya, pede banget Lo. Pake baju tipis ke kampus ngapain coba? Kalo gak mau tebar pesona" Abi melihat baju Aara yang basah dan menerawang hingga sedikit memperlihatkan ********** disekitar perut. Di area dada tertutup hijab, Aara tak lagi menutup bajunya yang basah karena terlalu fokus sama angkot.


Aara melihat ke arah bajunya "Lo gak perlu tau! Udah sana pergi!" Dia memalingkan wajahnya karena masih kesal dengan kejadian di kelas tadi.


"Lo masih marah?" Yang ditanya tak menjawab.


"Lo beneran masih marah sama gue?. Gue mintak maaf deh, tadi wajah Lo mintak di bully tau, pagi-pagi uda ngantuk"


"Apaan sih, gue gak marah dan gak penting juga! Sana pergi!" Usirnya tanpa melihat lawan bicara.


"Yaudah gue pergi, tapi sama Lo. Yok gue antar! Sebagai permintaan maaf gue deh sama Lo, gimana? Lagian dari tadi Lo nunggu angkot tapi gak ada kan?"


Aara bergidik ngeri mendengar suara lembut dari Abi.


"Gue jadi ngeri sama Lo. Jangan ngomong lembut gitu ih serem gue"


"Dasar cewek! Semua salah, jadi gak ni?"


"Heheh yaudah gue ikut. Lo maksa sih"


"Elleh bacot Lo! Naik buru! Lo pake legging kan?"


"Hum"


"Nih pake jaket gue aja nutupin badan Lo" Abi menyerahkan jaketnya alih-alih menutup badan Aara.


"Gak usah! Gue tutupin pake tas aja" tolaknya sambil berusaha naik "sempit amat sih tempat duduknya gue jadi susah naiknya ini, mana pake rok lagi"


"Kerjaan Lo ngedumel aja perasaan, padahal udah pernah naik motor gue. Pegang bahu gue!"


Aara memutar bola matanya malas. Tapi tetap melaksanakan perintah Abi.


"Hum, udah"


"Nih, pake!"


"Udah gue bilang gak usah!"


"Gak terima penolakan! Pake!"


"Yaudah iya, gue pake nih!"


"Udah?"


"Hum"


Setelah perdebatan panjang akhirnya motor Abi meleset membelah jalanan dengan Aara yang berada diboncengannya sambil memegang baju Abi di pinggang kiri dan kanannya.


"Makasih udah nganterin gue lagi, makhluk astral." Ucapnya dengan suara pelan sambil melepaskan helmnya yang agak susah terbuka.


"Ailah! Bisa Lo cuma ngeluh aja yah. Gak mau usaha. Sini!" Walaupun ngatain Aara dulu Abi tetap membukakan helmnya. Hal itu membuat mereka saling tatap dan membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat. Abi memperhatikan mata Aara yang bulat dengan bola mata hitam pekat, hidungnya yang kecil dan mancung serta bibir  kecilnya yang ranum sedikit tebal dibagian bawah, menambah kesan imut pada Aara.


"Ya Allah jantung gue, kuat banget sih debatnya gak kayak biasa, ini kenapa lagi liat gue intens kali" ucap Aara dalam hati mulai tak tenang.


"Kenapa buka helmnya jadi lama gini sih. Mama... Gue deg-degan"


"Aara cantik banget sih, jadi pengen jailin terus. Jantung gue tambah keras aja degupnya" Abi merasa detak jantungnya sudah tak karuan.


Klik...


Akhirnya kedua insan itu dapat bernafas legah setelah helm yang dikenakan Aara terlepas sepenuhnya dari kepalanya, mereka memutuskan kontak mata. Keduanya berdehem canggung.


"Jantung Lo detaknya cepat ya" ledek Abi pada Aara, sambil tersenyum jahil.


"A-paan Lo, gak yah! Jantung Lo kali" Aara menjawab gugup.


Abi mendekatkan wajahnya beberapa senti di depan Aara membuat Aara menahan nafas dan mengerjapkan matanya lucu.


"Ah masa? Tapi pipi Lo merah tu. Nafas kali ntar meninggoy" tawa Abi pecah puas melihat raut wajah kesal Aara.


"Iiiihhh! Makhluk astral! Ngeselin! Pulang sana Lo!" Usirnya sambil mendorong Abi pelan.


"Hahaha,,, Lo baper yah"


"Gak, apaan sih Lo, gaje banget. Udah sana!"


"Iya iya, gue pulang. Jangan pikirin gue ya!"


"Idih, amit-amit!, pede banget Lo!" Aara masuk duluan menghiraukan Abi. Namun langkahnya terhenti kala mengingat sesuatu.


"Makhluk astral! Jaket Lo ini! Tangkep!" Aara melemparkan jaket Abi dari pagar rumahnya yang langsung di tangkap oleh Abi.


"Makasih makhluk astral! Hati-hati Lo!"


"Manis banget sih" setelah itu Abi menancap gasnya berlalu dari rumah Aara.


...🐼🐼🐼...


"Assalamualaikum, Aara pulang!"


"Wa'alaikumussalam. Ehh udah pulang. Sini Ra! Papa Mama mau ngomong" Jawab Zainal menyuruh anaknya ikut duduk di sofa, setelah Aara menyalami kedua orangtua dan Neneknya.


"Loh loh, kita gak di salim juga? Sopan sekali ya tet. Sini sini salim" Andre menggantungkan tangannya agar di salam oleh Aara. Aara hanya memutar bola matanya malas sambil duduk di sofa di samping Papanya.


"Jangan mulai deh Lo. Diem aja!" Andra memperingati, Andre hanya memperlihatkan gigi putihnya.


"Harusnya kalian yang nyalim Teti" jawab Aara akhirnya.


"Sudah sudah ah. Berantem mulu perasaan. Serius ini serius! Aara Lusa kami pulang ke Sibolga nak. Jadi nanti malam ada acara makan malam sama sahabat Mama. Kamu dandan cantik ya nak. Pa, Papa aja yang ngomong" Lina meremas jari suaminya tak sanggup mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Loh, cuma makan malam aja Ma. Kenapa harus dandan?" Tanya Aara heran. "Lagian cuma sama sahabat Mama kan?" Lanjutnya heran.


"Begini nak." Zainal menghembuskan nafasnya.


"Makan malam ini tidak hanya makan malam biasa nak. Kita sekalian akan membahas tentang perjodohan kamu dengan anak sahabat Papa"


"A–pa Per–" ucapan Aara terpotong.


"Jangan dipotong dulu, Papa dengan sahabat Papa bahkan bukan Papa aja Mama kamu juga. Kami sangat dekat nak, waktu kamu dan anak sahabat Papa lahir, kami berjanji apabila kamu dan anak sahabat Papa itu besar maka kami akan menikahkan kalian berdua, untuk menyambungkan tali persaudaraan kami agar semakin dekat. Papa mohon nak sama kamu bantu kami, tolong kamu terima perjodohan ini nak. Papa juga tidak asal-asalan menjodohkan kamu, Papa juga sangat mengenal anak dari sahabat Papa ini, orangnya baik pasti bisa menjaga Aara. Apalagi Aara jauh dari Papa sama Mama, biar Aara ada teman juga disini. Karena Nenek akan kami bawa ke rumah, kamu lihatkan Nenek sudah tua. Tidak mungkin Nenek tinggal cuma sama Aara disini. Sekali lagi Papa mohon terima ya nak" Zainal memohon kepada putri satu-satunya itu supaya menerima perjodohan itu. Suasana tiba-tiba hening. Bahkan Andre tak berani berulah.


"Tapi Pa, Aara masih kecil Pa. Masih kuliah juga semester 6 Pa" air mata Aara tiba-tiba mengalir begitu saja karena tidak tau harus berbuat apa. Di satu sisi dia tidak tega melihat Papanya yang memohon padanya sangat tidak pantas rasanya. Tapi disisi lain Aara masih kuliah mana mungkin dia akan menikah walaupun umurnya telah mencukupi. Dan Aara sama sekali tidak mengenal anak dari sahabat orangtuanya ini.


"Dan Aara bisa kok jaga diri sendiri. Bahkan Aara juga sanggup rawat nenek disini" katanya meyakinkan orangtuanya.


"Nak Mama mohon" sekarang Lina ikut memohon pada putrinya diikuti bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.


"Ma, jangan gini ah! jangan nangis! Aara jadi gak bisa nolak" tangis Aara pecah sambil memeluk Mama nya erat. Bahkan neneknya tak berkutik sedikitpun.


___________


Terimakasih sudah baca cerita aku 💛💛


_TO BE CONTINUED_