
“Kai, kau tidur?”
“Hmm, tidak.”
Pukul 10 malam.
Kai dan aku masih terhubung melalu telepon.
20 Juni membuat Kai menjadi was-was, begitu juga denganku karena ikut terbawa suasana.
Sepulang dari toko buku tidak ada paket atau apa pun. Tapi Kai terlihat tidak tenang.
Rania dan Jeff mungkin masih berada di toko buku, mereka terlihat cocok dengan selera yang sama. Benar-benar telah mengabaikanku dan Kai.
Tyana? Mari lupakan nama itu, kata Kai.
“Kau besok berangkat jam berapa?” tanya Kai setelah itu terdengar suaranya yang sedang menguap.
“Libur. Hei, kau sudah mengantuk. Bukankah kau besok masuk pagi?”
“Kau tidak apa sendirian? Sepertinya untuk saat ini…sebaiknya salah satu dari kita jangan ada yang sendirian di apartemen. Iya, besok sekitar jam 8 pagi.”
“Perasaanmu tidak enak? Aku pun merasakan itu.”
“Iya, seperti akan ada yang mengejar-ngejar. Kau ikut denganku saja atau kau pergi ke toko buku nanti aku akan menyusul.”
“Stock makananku banyak tanpa harus keluar. Kalau mengunci pintu tanpa peduli jika ada orang-orang yang tak kukenal tiba-tiba memencet bell sepertinya akan aman. Entahlah, aku takut tapi terlalu lelah untuk keluar.”
“Sungguh, tidak apa?”
“Iya, kurasa akan baik-baik saja.”
“Hubungi aku kalau jika terjadi sesuatu tapi semoga tidak terjadi apa-apa.”
“Pasti, Kai. Tapi, Kai?”
“Iya?”
“Kalau dipikir-pikir, orang itu menakutkan, ya?”
“Iya, sudah kubilang. Mangkanya aku berusaha tidak berbicara yang sebenarnya. Kau tahu apa yang kuterima dari paket-paket itu?”
“Ah, iya. Kau belum cerita soal itu.”
Belum-belum bulu kudukku spontan berdiri. Apa isi paket-paket itu?
“Macam-macam dan itu tidak wajar. Pakaian bekas. Pakaian bekas yang di dalamnya ada beberapa coklat yang semua bungkusnya berwarna merah.”
“Pecahan kaca dengan pakaian bekas lagi.”
“Bahkan pernah juga paket itu benar-benar besar, kau tahu apa isinya?”
“Pakaian bekas lagi?” jawabku.
“Iya, semuanya pakaian bekas. Orang itu tidak memakai ekspedisi untuk mengirim paketnya tapi…sepertinya orang itu sengaja datang dan menaruh paket itu di depan pintu.”
“Wah! Apakah orang itu seharusnya tak dibiarkan berkeliaran?”
“Seharusnya. Kalau diingat-ingat, apa pernah melakukan sesuatu pada seseorang? Kupikir sama sekali tidak. Sempat melaporkannya ke polisi tapi tidak berujung apa pun.”
“Tapi ada seorang polisi yang memintaku untuk menghubunginya jika masih menerima paket-paket itu. Orang itu menghubungiku tadi dan berharap aku tidak menerima paket-paket itu lagi.”
“Lalu paket-paket itu berada di mana?”
“Setelah menerima paket itu, aku selalu datang ke kantor polisi dengan paket yang kuterima di hari itu. Mereka akan tahu, aku datang di setiap 20 Juni atau hari-hari yang tak terduga.”
“Apa di hari kau pindah dari lantai atas?”
“Ya, kau benar. Orang itu tiba-tiba mengirim banyak paket di hari itu. Bahkan bukan 20 Juni.”
“Apa sekarang karena kau pindah, orang itu tidak mengirim paket?”
“Semoga seperti itu tapi harus tetap waspada.”
“Maafkan aku, Kai. Membuatmu bercerita. Aku tahu, itu menjadi hal yang bukan hanya tidak mengenakkan tapi juga membuatmu seperti dihantui.”
“Tidak apa. Itu sedikit membuat lega. Setidaknya seseorang di sampingku, juga harus mendengarnya.”
“Terima kasih, kau memilih menceritakan itu padaku.”
“Besok penuhi pesan untukku agar aku tidak menjadi khawatir, oke?”
“Oke, aku akan mengirim setiap beberpaa menit. Haha…”
“Iya, itu lebih baik. Bagiku, tidak menjadi masalah.”
“Baiklah, kau mau tidur?”
“Sebentar lagi, kau sudah mengantuk?”
“Hmm, tidak juga. Aku akan menonton film. Tidurlah! Kau besok berangkat pagi.”
“Sepertinya kau juga harus tidur. Agar tidak mendengar suara bell di tengah malam.”
“Hei, Kai!”
“Hahaha, apa pernah terjadi sebelumnya? Kau terlihat seperti pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.”
“Hmm, itu terjadi di apartemen lamaku yang kelam. Selalu di tengah malam ada memencet bell. Tapi tak terlihat siapa yang memencetnya dan aku pun tidak berani melihatnya untuk berjaga-jaga.”
Sky melanjutkan. “Ada orang meninggal di apartemen. Semenjak itu, suasana apartemen yang satu unit denganku menjadi tidak enak. Silir berganti satu per satu di unitku memilih untuk pindah.”
“Sedangkan kau masih bertahan?” tanya Kai.
“Iya, 1 bulan sepertinya lalu memutuskan pindah karena teror suara bell di tengah malam.”
“Sepertinya seseorang yang hanya memanfaatkan keadaan karena seseorang yang meninggal itu,” terang Kai.
“Iya, kupikir seperti itu. Manusia justru lebih menyeramkan, bukan?”
“Iya, kau benar. Entahlah, mengapa manusia sekarang menjadi aneh-aneh dan jauh lebih menyeramkan?”
“Seperti bukan manusia.”
“Kai, kau sudah mengantuk.”
“Aku masih ingin berbicara denganmu.”
“Whoaa! Sudah mendekati 2 jam, Kai.”
“Tidak apa. Kau menyalahkan speaker atau menggunakan earphone?”
“Earphone, Kai. Kau pasti menyalakan speaker. Kai, kau tidak lapar?”
“Iya, karena tidak tahu di mana aku meletakkannya. Sedikit lapar, hahaha…”
“Whoaa! Kau benar-benar aneh. Kau pintar menata barang tapi kau pelupa menaruh barang yang sudah kau rapikan.”
“Begitulah, aku. Haha…”
“Haha, kau ada-ada saja, Kai. Aku sedang memakan kripik singkong dan menonton film dengan penerangan yang masih menyala.”
“Whoaa! Kurasa aku juga akan memakan kripik singkong. Aku juga membuat ruanganku lebih terang dari biasanya.”
“Sky…”
“Iya, Kai?”
“Soal kertas itu…”
“Ah, iya. Itu juga mengganggu pikiranku.”
“Tidak terjadi apa-apa setelah hari itu, Sky?”
“Tidak. Itulah mengapa justru kau yang membawaku pada toko buku buku itu. Tapi ternyata orang itu bukan kau.”
“Hmm, sebenarnya…aku mencurigai seseorang tapi tidak bisa mengatakannya padamu, Sky.”
“Kenapa?”
“Hmm, sulit bagiku untuk mengatakannya.”
“Baiklah, simpan saja.”
Siapa orang itu?
Siapa orang yang dimaksud Kai?
Orang terdekat.
“Tidak apa, kan?”
“Tidak apa, Kai.”
“Wah, ada apa dengan lingkungan apartemen kita ini? Haruskah kita pindah?”
“Kurasa tidak bisa. Apartemen ini, pemberian dari Ayahku yang entah ke mana.”
“Ayahmu benar-benar tidak pernah menghubungiku sesekali saja?”
“Sejak awal tidak pernah sama sekali.”
“Maafkan aku, kau harus menjawab pertanyaanku.”
“Hei, tidak apa. Kita sama-sama saling bercerita.”
“Sebaiknya, aku tidur.”
“Iya, kau harus tidur. Selamat tidur, Kai.”
“Kau juga, setelah selesai menonton film. Jangan lupa gosok gigi!”
“Hahaha. Hei, kau mengingatkanku seperti anak kecil.”
“Hahaha, kau tidak tahu seberapa pendeknya kau?”
“Hei, Kai!”
“Hahaha, aku tidur.”
“Iya, selamat tidur.”
“Bye, Sky!”
“Bye, Kai!”
Begitu tidak terdengar suara Kai. Barulah ada sedikit ketakutan yang tiba-tiba hadir menemaniku.
Filmnya belum selesai. Dengan cepat menggosok gigi. Kembali ke tempat tidur tanpa mematikan layar proyektor dan langsung terlelap.
Keesokan paginya…
Seperti sebuah doa yang terwujud.
Tapi tak menginginkan itu terjadi.
Hanya semalam saja tapi orang itu seperti tengah mendengar bercakapanku dengan Kai.
Suara bell yang kudengar dengan begitu jelas membuatku berjalan dengan mengendap-endap mendekati pintu.
Srek!
Kertas itu…
Datang lagi.
“Kai…”
“Kertas itu…”
“Kertas itu datang kembali.”
...***...