Suddenly

Suddenly
Room for You



“Sky…”


Igauan Kai terdengar jelas dan berulang kali. Orang itu juga meneleponku berulang kali di tengah malam dengan ucapannya yang melantur.


Pengendalkan hanya satu tangan sudah cukup membuatku kerepotan mengatur posisi tidur dan juga terlelap.


Kai meneleponku…sepertinya setiap menit? Orang itu mengatakan agar aku cepat datang lalu ucapannya menjadi tidak jelas seperti di antara sadar dan tidak sadar.


Kupikir itu akan menjadi telepon yang terakhir karena sudah hampir menjelang pukul 1 pagi. Ternyata belum berakhir. Kai terus meneleponku.


Apa yang kulakukan?


Melakukan perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai ke apartemen.


Begitu sampai, Kai menggenggam tanganku sampai benar-benar tidak bisa melepasnya.


Rasa kantukku tidak bisa di tahan. Terpaksa tidur dengan posisi seperti itu. Duduk di lantai dengan kepalanya bersandar pada space yang masih ada di dekat Kai.


Meski terasa terlelap tapi pikiranku seperti tidak ingin membuatku terlelap.


Kedua mataku kembali terbuka untuk kesekian kalinya. Melihat Kai yang sudah terlelah dengan suara dengkurannya yang benar-benar parau. “Kau berisik, Kai.”


Sky berusaha melepas genggaman tangannya. Tetapi tetap tidak bisa. “Hei, lepas!”


“Lepas!”


“Sky?”


Wah! Kupikir Kai bangun ternyata dia berganti posisi menghadapku dengan masih menggengam tangaku dan…


Kai menaruhnya di dadanya.


“Wah! Haruskah kau menaruhnya di sana?”


Cup!


Kai…


Kai mengecup jemari tanganku dan semakin menarik…bukan hanya tanganku tapi lenganku.


“Kai, kenapa kau seperti ini? Hei!”


“Bagaimana ini?”


Sky berusaha melepasnya setidaknya lengannya.


“Kai, lepas!”


“Tidak mau!” Kai telah membuka matanya dengan tatapannya…


Tatapannya yang akhir-akhir ini tak pernah terlihat.


“Kau benar-benar datang,” ucapnya dengan masih menggenggam tanganku.


“Kau benar-benar Sky, kan?”


Kai mengusap-usap kepala dan kedua pipiku.


“Aku harus pulang,” ucapku.


“Tidak. Bukankah kau sudah pulang?”


“Ini hampir pagi, Kai. Aku harus tidur.”


“Tidurlah di sini.”


Rasanya seperti sedang dibius atau sehabis meninum obat tidur. “Kau…”


“Kau tidur…”


“Tidur…”


“Tidur di kamarmu. Biarkan aku di sofa,”


“Tidak. Biar aku mengantarmu ke kamar.”


“Kai!”


“Baiklah,” Kai menuntunku dengan hati-hati. Kondisi tanganku benar-benar membuatku tidak nyaman.


Kedua mataku seketika terlelap dengan sekejap. Laki-laki di sebelahnya itu tidak berpaling.


“Harusnya aku yang datang padamu.”


Cup!


5 jam yang lalu…


“Hei, kau tidak pulang lagi?”


“Mungkin besok atau besoknya lagi. Tidak apa, kan?”


“Aku tidak masalah tapi hubunganmu yang bermasalah jika kau terus menghindar seperti ini. Sebenarnya ucapan di antara kalian ada sama-sama ada benarnya.”


Sky menginap di apartemen teman lamanya. Seorang teman yang telah menjadi saksi dan menerimanya di saat dirinya ingin melarikan diri.


Ponselku bergertat berulang kali.


“Hei, Sky! Kau tidak ingin mengangkatnya? Kau tahu, kan? Aku masih menjadi tuan rumah dan benar-benar berisik.”


“Hahaha, ucapanmu membuatku berkaca…pernah mengatakan hal semacam itu.”


“Hahaha, aku sengaja membuatmu ingat agar kau bisa pulang.”


“Wah, kau mengusirku?”


“Ya, cepatlah kembali. Kau sudah cukup merepotkan.”


“Hei, Geestya!”


Geestya menatap ke arahku.


“Ada apa dengan tatapanmu ke arahku?”


“Kau tidak banyak berubah. Tetap masih mencariku dan begitu juga dengan kau yang masih melarikan diri.”


“Bukankah itu membuatmu rindu, Gees?”


“Bukan rindu orangnya tapi rindu momen-monen yang terjadi,” ucap Geestya.


“Hei, kau tidak merindukanku?”


“Tidak. Sudah banyak yang merindukanmu.”


“Tidak ada.”


“Kai?”


“Mungkin hanya Kai, tidak ada lagi. Ucapanmu tentang banyak orang yang merindukanku…itu tidak berlaku.”


Ponsel masih terus bergetar.


“Kai meneleponku berulang kali.”


“Kurasa kau harus ke sana.”


“Tidak.”


“Kau juga masih ceroboh, Sky. Bagaimana bisa kau berjalan dengan melamun?”


“Entahlah, pikiranku terlalu kacau.”


“Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya karena tidak ingin membuatmu terus mengingatnya. Kau tahu aku, kan? Seperti apa yang kulakukan atau sikapku misalnya…”


“Ya, aku mengerti maksudmu dan menyadarinya. Kau juga tidak banyak berubah. Kau masih Geestya kukenal baik dulu dan sekarang.”


“Wah! Ucapanmu semakin membuatku bernostalgia.”


“Terima kasih selalu menampungku dan sudah pasti juga merepotkanmu.”


“Hei, itu membuatku selalu mengingat ada seseorang seperti kau di kehidupanku.”


“Benarkah?”


“Hei, kau harus mengangkat teleponnya.”


“Sky…,” dengan suara Kai yang merengek-rengek membuat Geestya yang mendengarnya menutup telinganya.


“Hei! Aku masih tuan rumah, Sky.”


Sky menahan tawa dan mematikan speaker.


“Sky…”


“Kau di mana?”


“Maafkan aku…”


“Ya…”


“Kau tahu…”


“Kau, Sky. Kai…”


Tut…tut…tut…


“Sky…”


“Kenapa kau tak datang?”


“Sky…”


“Aku dan kau…”


Tut…tut…tut…


“Muaahh…”


Hah?


“Sky, kau juga…”


“Aku benci diriku sediri. Mengapa aku mengatakan seperti itu padamu, Sky.”


“Kenapa, Sky?”


“Tak bisakah kau datang ke sini?”


“Sky, hmm?”


Tut…tut…tut…


“Datanglah ke sini, Sky!”


Tut…tut…tut…


Wah!


Kai benar-benar gila.


“Aku akan pulang,” ucapku pada Geestya.


“Bagus! Memang seharusnya kau pulang.”


“Hei, kau tidak ingin menahanku untuk tetap berada di sini?”


“Tidak.”


“Geestya…”


“Pulanglah, Sky!”


“Ini pukul 12 malam, Gees.”


“Kau bisa naik taxi.”


“Wah, kau keterlaluan. Apa kau tidak khawatir padaku? Bahkan tanganku?”


“Tidak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selama pergi dengan niat yang baik perjalananmu akan aman, itu sebuah doa…Ibuku yang mengatakannya.”


“Iya, baiklah.”


“Semoga berhasil, Sky!”


“Apanya yang berhasil?”


“Kau dan Kai.”


“Harusnya dia yang datang padaku.”


“Hei, pergilah!”


“Geestya…”


“Pergi!”


“Wah!”


Geestya telah menuntup pintu.


8 jam setelahnya…


Kedua mataku membuka lebar. Melihat keadaan sekitar…


Sinyal di dalam otaknya sedang mencari tahu. Padangan kedua matanya yang berkeliling…


Tidak!


Bukannya aku harus pergi ke kampus?


“Aku terlambat!” teriak Sky. Ia bahkan tak menyadari dengan kondisi tangannya.


“Akkgghhh!”


“Sial!”


Bantal dan selimut yan ia pakai berserakan di lantai. Arah matanya mengarah pada jam dinding dan menunjukkan pukul 10 pagi. “Sepuluh? Wah, kau gila, Sky!”


“Kau mau ke mana?” Kai menghadangku. Orang itu baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma shamponya tercium.


“Kenapa kau tak membangunkanku? Aku harus ke kampus dan sekarang menjadi percuma. Aku telah terlambat.”


“Hahaha, apa aku membuatmu menjadi tidak fokus? Ini hari sabtu, Sky.”


“Kau bohong.”


Sky buru-buru mengambil ponselnya dan ya…ini hari sabtu.


Sky terdiam sementara Kai puas menertawainya.


“Pakai bajumu!” ucapku.


“Apa ini membuatmu…”


“Tidak, tapi kau bau.”


“Hei! Aku baru saja mandi.”


“Pakai bajumu!”


“Kau akan akan kabur, kan?”


“Tidak.”


“Baiklah, kau duduk di sofa itu.”


“Oke,” Sky kembali duduk di sofa yang benar-benar menjadi berantakan karenanya.


“Sky…”


“Iya?”


“Maafkan aku dan aku merindukanmu,” ucap Kai lalu menghilang di balik pintu.


Karena kapalanya masih terasa berat. Sky menata kembali bantal dan selimut. Lalu kembali berbaring dan memejamkan mata…


Cup!


...***...