Suddenly

Suddenly
From Your Time



“Sepertinya aku datang terlambat, apa kau sudah berada di sana?”—Kai


“Tidak apa, ada yang kukerjakan sembari menunggumu.”—Sky


“Bukankah itu Sky, sedang apa dia di sini? Bukankah seharusnya…”


“Kau membicarakanku?” Sky menoleh ke arah sumber suara.


“Ya,” raut wajahnya seperti ingin menantangku.


“Apa kita saling mengenal sampai kau berbicara dengan teman-temanmu dan seolah aku tidak ada?”


“Wah, apa kau baru saja bertingkah karena kau pacar Kai?”


“Ah, kau yang mengenal Kai? Atau kalian orang-orang yang tidak menyukai hubunganku bersama Kai?”


“Apa kau tidak pernah menyadari kalau kau orang yang tidak pantas untuknya?”


“Lalu bagaimana menurutmu yang pantas untuknya? Seperti kalian maksudnya? Apa kalian lebih baik dariku? Kalau memang seperti itu, mengapa Kai justru berpacaran denganku? Berarti aku…”


“Hahaha, kau bisa bangga dengan ucapanmu itu tapi kau tidak akan tahu apa yang terjadi hari ini. Kau sedang menunggunya, kan? Bukankah dia datang terlambat? Apa kau tahu siapa yang bersamanya?”


“Dia bersama Rania.”


Orang-orang itu tertawa dan menyaksikan raut wajahku yang mungkin membuat mereka menjadi menang. “Dia bersama Rania, jangan-jangan dia tidak memberi tahumu. Wah!”


“Dia memang akan bertemu denganku dan juga Kai. Tutup mulut kalian, kalian pikir lebih baik dari Sky? Berhentilah berbicara yang tidak-tidak!” Rania tiba-tiba datang setelah aku terlalu fokus dengan orang-orang itu.


Sorot mataku memberi isyarat pada Rania untuk mengakhiri percakapan omong kosong itu.


“Aku memang bertemu dengannya tapi orang bodoh itu buru-buru, dia akan terlambat?”


“Ah…iya, sepertinya ada pengganti kelas yang mendadak.”


“Baiklah, biarkan saja dia. Kau baik-baik saja, kan?”


“Ya, baik-baik saja karena ada kau.”


“Hei, Sky! Kau ingin membual seperti mereka?”


“Hahaha, aku mengatakan yang sebenarnya.”


“Senang bisa mendengarnya, haha…”


“Aku berada di perjalanan.”—Kai


“Kai akan sampai sebentar lagi,” ucapku.


“Seharusnya dia tidak usah datang,” sahut Rania.


Sore menjelang malam menjadi pertemuan pertama kalinya di antara aku, Kai, dan Rania.


Tidak direncanakan jauh-jauh hari. Hanya bertemu di kampus dengan percakapan random dan ide juga akhirnya pertemuan ini terjadi.


“Kau sungguh telah memaafkanku dengan apa yang terjadi sebelumnya?” Rania menggenggam tanganku.


“Aku tidak bisa membencimu. Karena kau dan Kai juga punya momen. Sekarang kita bertemu dan menjadi teman.”


“Tapi aku tetap membencimu, apa itu tidak masalah bagimu?”


“Tidak masalah. Aku tidak bisa membuat semua orang menyukaiku. Bukankah seperti itu?” jawabku.


“Wah, apa ini yang membuat Kai menyukaimu?”


“Entahlah, kupikir dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.”


“Kai!”


Kedatangan Kai sekaligus membantuku keluar dari pertanyaan Rania yang tidak bisa kujawab.


“Hei, kau! Kau pikir kau sedang mewawancarainya? Kita bertemu hanya ingin berbincang bukan mewawancarai,” Kai mengacak-acak rambut Rania.


“Kai! Apa dia juga sering melakukannya padamu? Dia selalu mengacak-acak rambutku.”


“Tidak, aku selalu melakukannya dengan…,” Kai mengecup pipi kananku.


“Hei! Apa yang kau lakukan?” Sky yang langsung terlihat panik.


“Wah, kedua mataku…kenapa aku harus melihatnya? Kau memang gila Kai.”


“Hei, kau juga Sky!”


“Hei, dia yang memulai duluan.”


“Hahaha…”


“Kai!”


“Kai!”


“Kalian mau makan apa? Hehe…”


“Kau yang bayar,” ucap Rania.


“Oke.”


“Tidak, aku yang bayar. Bukankah aku yang mengajak kalian?” ucapku.


“Tidak, biar dia saja yang bayar.”


“Tidak apa, biar aku saja.”


Kedekatan Kai dan Rania membuatku membayangkan seperti apa mereka di masa lalu?Atau bagaimana mereka bertemu di setiap harinya?


“Bagaimana kalian bertemu?” akhirnya aku mengatakannya.


“Hmm, bagaimana kita bertemu?” Rania tersenyum dan terlihat melihat ke arah yang ada di hadapannya itu. Yang pasti tatapannya itu…bukan tatapan yang biasa.


Tidak mungkin sekejap itu melupakan atau menjadi tidak peduli tentang perasaannya.


“Biasa saja selayaknya teman masa kecil,” ucap Kai.


“Hei, apa maksud dari ucapanmu itu? Kita bertahun-tahun bersama.”


“Hei, kau yang selalu mengukutiku bahkan sampai sekarang…bukankah seperti itu Rania?”


“Kalian benar-benar satu sekolah…”


“Iya, kau benar Sky. Kita selalu satu sekolah dan ya, sampai sekarang.”


“Wah, kau juga sering melakukannya. Sky, itu kebiasaan Kai. Dulu dia sering mengusap-usap kepalaku seperti itu lalu menggangguku.”


“Itu beda. Aku melakukan untuknya karena menyayanginya. Kalau kau, aku hanya ingin mengganggumu.”


“Tidak. Aku melakukan seperti itu padaku.”


“Tidak, itu beda.”


“Apa dia masih mengajakmu makan dengan porsi besar?”


“Iya, beberapa kali,” ucapku.


“Wah! Kai tetap Kai yang kukenal. Dia membuatku melebar karena sering mengajakku makan dengan porsi besar yang benar-benar gila. Apa itu tak masalah bagimu, Sky?”


“Hahaha, aku dan Sky tidak akan melebar karena makan dengan porsi besar.”


“Benarkah? Kau tidak apa, Sky?”


“Iya, apa yang dikatakan Kai benar,” Sky mengusap-usap kepala Kai.


“Wah! Apa itu menyenangkan…tebar kemesraan di depanku?”


“Ya.”


“Ya.”


“Wah!”


“Hahaha…”


Makanan datang. Kai yang memilih semua makanannya.


“Ini untuk Sky, kau pasti menyukainya.”


Steak?


“Ini untukmu, Rania. Bukankah ini yang kau mau?”


“Wah, haruskah aku tersentuh karena kau masih mengingatnya?”


Haruskah aku mengatakannya?


“Selamat makan,”


“Iya, selamat makan.”


Hanya Kai dan Rania yang terlihat lahap.


“Sky…”


“Iya, Kai?”


“Ada apa?”


“Kau tidak menyukainya, ya?” tanya Rania.


“Hmm…”


“Sebenarnya, aku tidak terlalu menyukainya.”


“Wah, sudah kubilang…kau harus lebih mengenalnya. Seperti aku mengenalku. Kau pikir dia menyukainya ternyata dia tidak menyukainya. Seharusnya kau bertanya padanya,” Rania dengan menunjuk ke arah Kai.


“Tapi waktu itu kau menyukainya?” tanya Kai.


“Hmm, waktu itu karena aku bersamamu dan aku ingin mencoba yang apa yang kau suka dan berharap aku bisa menyukainya.”


“Benarkah seperti itu?”


“Iya.”


Kai memelukku erat.


“Hei, Kai! Sekali lagi kau melakukannya di hadapanku…aku akan memesan makanan lagi.”


“Silakan,” jawab Kai.


“Wah! Kau menyebalkan.”


“Ingin aku menggantinya dengan makanan yang kau suka?”


“Tidak, kurasa aku perlu mencobanya.”


“Kau yakin?”


“Yakin,” Sky mengangguk.


Kai dan Rania menatap ke arahku dan menunggu apa yang akan kuucapkan.


“Hmm…”


“Hei, kalian sedang menungguku untuk berbicara?”


“Apa itu…baik-baik saja? Tidak apa?” Kai menjadi was-was.


“Kurasa kau tidak menyukainya,” Rania melihat raut wajahku.


Sky mencoba memakannya lagi sembari Kai dan Rania masih memperhatikannya.


“Bagaimana?” bisik Kai.


“Kau keterlaluan, Kai. Dia tidak menyukainya.”


“Hmm, tidak.”


“Kurasa…aku masih bisa memakannya. Tidak apa, sebenarnya enak hanya karena belum terbiasa. Kurasa aku akan menyukainya jika telah memakannya beberapa kali,” jawabku yang mengembalikan senyuman Kai.


“Sudah kubilang dia akan menyukainya,” seru Kai.


Cup!


“Hei, Kai!”


Rania benar-benar melakukannya. Dia sedang memanggil pelayan untuk memesan makanan.


...***...