Suddenly

Suddenly
Backstreet Rookie



Sore menjelang malang.


Rania sengaja mengulur waktu. Makanan yang ia mau sama sekali belum tersentuh dan justru sibuk dengan ponselnya dan berbicara dengan topik yang berubah-ubah.


“Kai, tempat makan yang beberapa hari yang lalu kita ke sana kudengar ada menu pasangan. Kita ke sana besok, ya?”


“Kita bukan pasangan, Ran.”


“Kita terlihat seperti pasangan, Kai.”


“Itu artinya kau sedang berbohong.”


“Aku tidak peduli. Kita tetap ke sana, ya?”


“Makanannya biasa saja. Bukankah kau juga bilang waktu itu?”


“Iya, tapi ada paket pasangan dan itu benar-benar…”


“Ran, sampai kapan kau akan seperti ini?”


“Mana pacarmu? Dia tidak datang, kan? Atau kau memang mengada-ada?”


“Kau bilang mengada-ada?”


“Iya, kau mengada-ada.”


“Aku hanya ingin merahasiakannya dari semuanya.”


“Kenapa?”


“Aku ingin menjaganya, aku tidak ingin terulang lagi seperti sebelumnya.”


“Ah, apa yang terjadi pada Sky?”


“Iya, itu keterlaluan.”


“Itu karena Sky yang tidak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang.”


“Mengapa Sky yang harus memenuhi ekspetasi orang-orang? Justru orang-orang memiliki ekspetasi yang berlebihan. Siapa pun bisa berpacaran sesuai dengan kriteria masing-masing. Tidak ada yang terlihat sepadan atau tidak.”


“Tapi memang dia tidak pantas untukmu, Kai.”


“Memangnya kenapa?”


“Keluarganya tidak jelas. Dia juga tidak secantik itu. Dia hanya berlagak polos.”


“Bukankah kau yang berlagak polos?” Sky dalam benaknya.


“Dia punya Ayah dan Ibu. Kau bilang dia tidak secantik itu? Kurasa kau perlu datang ke poli mata. Apa kau tidak bisa melihatnya? Dia terlihat menggemaskan. Dia cantik dan juga pemberani.”


“Kau payah dalam memberi penilaian, Kai.”


“Hei, kau tak berhak berkata seperti itu padaku. Pilihan itu sepenuhnya ada di tanganku.”


“Tapi, Kai…”


“Ran, sudahlah! Itu melelahkan, apa kau tidak lelah?”


“Kau kembali bersamanya, kan? Bukankah ucapanmu secara tidak langsung telah memberi jawaban?”


“Iya.”


“Hahaha, tidak mungkin!”


“Sudahlah! Pacarku akan datang. Baiklah, kita makan di tempat yang kau mau.”


“Tidak!”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak menginginkannya lagi.”


“Pertemukanku dengan pacarmu,” lanjut Rania.


“Tidak bisa.”


“Kau mencurigakan. Kalau kau tidak mempertemukannya, itu artinya kau kembali bersamanya.”


“Terserah kau mau menganggap seperti apa,” sahut Kai.


“Kai!”


Kai mengambil ponselnya. “Dia akan datang jadi, kau lebih baik…”


“Oke, aku akan pergi.”


“Tapi…”


“Makan malam besok.”


“Makan malam?”


“Iya, kau aku ingin makan malam di sana.”


“Aku tidak bisa.”


“Ah, kau pikir itu hanya sekedar makan berdua?”


“Oke, makan malam.”


“Dan…”


Perasaanku tidak enak. Rania tidak akan semudah itu. Bahkan Sky mendengar semuanya.


“Aku akan datang menyemputmu…”


“Di sini.”


Rasanya ada yang memukul kepalaku bertubi-tubi.


“Oke.”


“Bye!” ucapnya dan benar-benar menutup pintu.


Kai menghela napas lega.


“Hai!” Sky sudah berada di belakangnya.


“Sky…”


“Tidak apa, semua orang tahu kalau hubungan kita telah berakhir. Jadi, tidak masalah dengan makan malam itu.”


“Hei, hidungmu merah.”


“Berpisah denganku membuatmu malas memberisihkan tempat tinggalmu?” ucap Sky dengan suaranya yang terdengar seperti berada di dalam air.


“Aku akan membersihkannya. Maafkan aku, kau harus bersembunyi.”


“Tidak apa, mau bagaimana lagi tidak ada pilihan.”


“Baiklah, aku akan menata ruanganku dan kau membersihkan ruanganmu.”


“Tapi…aku ingin bersamamu.”


“Iya, nanti. Selesaian dulu semuanya. Aku baik-baik saja.”


“Aku yang tidak baik-baik saja, Sky. Aku merusaknya. Seharusnya tidak terjadi seperti ini.”


“Kai, tidak apa. Kita masih ada waktu banyak, oke?”


“Baiklah, kau ingin makan apa?”


“Oke, aku tahu apa yang kau inginkan.”


“Benarkah?” Sky tersenyum.


“Sky…”


“Aku menggunakan password yang sama,” Sky seperti membaca pikiran Kai.


“Aku juga,” sahut Kai.


Tiba-tiba…


Terbesit di dalam benakku.


Tentang makan makan Kai dan Rania.


Satu hari yang berakhir begitu cepat. Waktu menunjukkan pukul 7 malam.


Semua terjadi dengan tiba-tiba dan selalu tak terduga.


Terjawab sudah. Itu hanyalah rumor belaka. Hanya pikiran kacauku yang sempat memperngaruhiku untuk berpikir yang tidak-tidak.


Meski kembali lagi dengan suasana yang sama.


Rania.


Lagi-lagi soal Rania.


“Bagaimana kalau dia akan tahu nanti?”


“Apa dia berpura-pura tidak tahu?”


Isi kepalaku bergitu ramai.


“Apa aku harus melakukannya sebagai percobaan?”


Karena baru pertama kali, aku tidak tahu bagaimana caranya berpacaran dengan sembunyi-sembunyi?


Menjadi cuek atau saling tidak peduli lalu mengendap-endap saling bertemu…apa seperti itu?


Wah!


Aku hanya orang biasa yang berhak jatuh cinta, mengapa harus seperti ini? Tapi itu adalah keputusan yang tepat untuk kebaikanku dan Kai.


“Baiklah, aku akan mencobanya.”


Pukul 6 pagi.


Sky terbangun dan menemukan Kai tertidur di sofa dengan tumpukan kardus yang mengelilingi sofa.


Sky menepuk lengan Kai pelan. “Kai!”


Tidak sulit membangunkan Kai, ia hanya butuh ditempuh dan akan bangun. “Kau sudah bangun,” ucapnya dengan tersenyum.


Aku berbisik di telinganya dan tangan Kai melingkar di pinggangku.


“Kau, yakin?”


“Ya,” seru Sky dengan anggukan kepalanya dan tangan kanannya yang mengepal.


“Ah, kau sebut itu latihan?”


“Ya, apa kau setuju?” Sky menunggu jawaban dari Kai yang sedang menimbang-nimbang pikirannya.


“Tapi…”


“Bukankah kau telah mendengar ucapan Rania?”


“Iya, itu terdengar kejam tapi aku tidak bisa membuat semua orang menyukaiku. Tidak apa, akan kuhadapi.”


“Kau, yakin? Aku tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti itu.”


“Yakin aku akan baik-baik saja, Kai.”


Pukul 7 malam.


Sky datang lebih awal. Suasana yang ada membuatku yang hanya duduk sediri seperti terpojokkan.


Apakah semua yang datang tengah memasan menu pasangan itu?


Pakaian mereka juga cocok dengan tema makan malam yang resmi.


Bahkan aku terlihat salah dresscode.


Hanya memakai dress berhanan kai linen berwarna ungu dan menggunakan sneakers berwarna hitam.


Parahnya lagi, aku memesan menu pasangan. Bahkan pelayannya benar-benar sudah mewanti-wanti kalau aku tidak akan bisa menghabiskannya. Lalu aku meyakinkannya kalau aku bisa menghabiskannya.


“Itu mereka,” suara Sky lirih dan ia mulai melatih gerak-geriknya agar tidak terlalu kentara.


“Aku masuk.”—Kai


“Iya, kau terlihat tampan.”—Sky


Kai dan Rania akan ada di meja tepat di sisi kiriku.


Sky melihat apa yang ada di atas mejanya. Ada 3 jenis makanan dan masing-masing ada 2 porsi. Untungnya porsinya tidak terlalu banyak seperti yang pelayan itu terangkan dan kupikir itu hanya bisa dipesan untuk pasangan ternyata tidak.


Mereka telah duduk.


Jarak meja tak begitu dekat dan tak begitu jauh. Mereka akan tahu jika melihat ke arah luar. Itu tujuanku memilih meja di dekat kaca yang akan memerlihatkan keadaan luar.


“Sepertinya aku mencium aroma seseorang yang kutahu. Bukankah itu kau, Sky?”


Itu baru beberapa detik. Rania menyadari kehadiranku hanya karena aromaku?


Rania menatap ke arahku begitu juga dengan Kai.


“Wah, apa ini sebuah kebetulan? Bagaimana rasanya datang ke tempat seperti ini dan kau sendirian?” ucapnya.


“Aku tidak peduli tapi apakah kau bisa sepertiku?” jawabku.


“Hahaha, sepertimu? Untuk apa?”


“Bukankah kau melihat? Aku sedang bersama Kai.”


“Ah, benarkah? Apa kalian kembali bersama semacam…”


“Apakah kau ingin tahu?” Rania tersenyum seolah sedang mempermainkanku.


“Tidak.”


“Wah, apa yang kau pakai itu? Kau tidak salah tempat? Kau memesan menu pasangan tapi kau tidak punya pasangan?”


Sky tak mendengarnya.


“Aku dan Kai berpacaran,” ucapnya.


“Selamat untuk kalian,” sahut Sky dengan tersenyum.


“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.


“Kurasa pertanyaan itu lebih pantas untukmu, kau pikir aku akan percaya…kau dan Kai berpacaran?”


“Itu tidak mungkin, Rania.”


...****...