
Ken menyingkapkan rambut Sky yang jauh lebih panjang dari sebelumnya. “Kau sengaja memanjangkannya?” tanya Ken.
“Hm, ya. Tapi, mungkin aku akan memotongnya nanti.”
“Jangan!” Ken menghadang di hadapan Sky.
“Ini punyaku, bukan milikmu.”
“Apa bedanya punya dan milik?” tanya Ken.
“Hah? Tiba-tiba?”
“Daripada tidak ada yang dibahas. Kau dan aku selalu bertemu dengan membahas hal-hal berputar dengan itu-itu saja, terkadang juga justru membuatku kesal. Sekarang, apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?” Ken berbicara seperti kereta bertenaga cepat.
“Kau bertanya karena peduli atau hal yang lain?” Sky menepis tangan Ken.
“Sky, aku tidak ingin kau membahasnya.”
“Sejak kapan kau tahu?” tanya Sky dengan melihat ke arah mata Ken.
“Hanya seseorang yang benar-benar mengenalmu yang akan tahu,” jawab Ken.
“Ah, begitu rupanya. Tapi…”
“Sudah kubilang jangan meminta maaf!” potong Ken.
“Tapi, bagaimana kau bisa…”
“Kau berbeda, Sky. Kau selalu menjadi dirimu sendiri dan kau selalu peduli pada orang lain meski kau tahu orang itu tidak tulus padamu. Kau juga punya pilihan tergantung siapa yang menjadi lawanmu bicara…”
“Kau bisa saja melawan dengan kata-kata pedasmu atau tidak peduli dan membiarkannya begitu saja.”
“Itu yang membuatmu menyukaiku?” ucap Sky dengan senyumannya.
“Hei, kau sudah puas? Selain seperti apa yang kukatakan, kau juga dengan mudahnya membuat seseorang menciut.”
“Mana menciut? Kau tinggi jangkung bahkan aku tidak lebih tinggi dari ketiakmu,” sahut Sky.
“Dasar pendek!” balas Ken.
“Memangnya kenapa? Memang aku pendek dan kau suka.”
“Sky! Sekali lagi kau mengatakannya, aku akan…”
“Menciumku?”
“Hah?”
“Kau ingin itu?” Ken mendekat. Sky duduk pada pijakan tinggi di pinggir pantai. Kedua tangan Ken berada di sisi kanan dan kiri Sky.
“Tentu, tidak.”
“Bagaimana jika aku menginginkannya?”
“Bukan aku orangnya, Ken.”
“Bagaimana jika kau juga menginginkannya?”
“Tidak akan, mengapa kau berpikir aku akan menginginkannya?”
“Kau penuh ruag kosong,” Ken duduk di samping Sky.
“Hahaha, lalu kau merelakan dirimu untuk menjadi pelarianku?”
“Iya, jika harus seperti itu. Asalkan kau orangnya, Sky.”
“Wah, kau gila. Kau pikir aku akan satu-satunya? Kau bisa melakukannya dengan seseorang.”
“Kau bilang seseorang?”
“Itu kau, Sky.”
“Stop, Ken! Itu menggelikan. Aku tidak bisa membayangkannya.”
“Kenapa harus dibayangkan?”
“Jika aku bisa membayangkannya, berarti aku benar-benar jatuh cinta…”
“Padanya.”
“Wah, kenapa itu menyakitkan untukku?” Ken bergeser membuat jarak di antara dirinya dan Sky.
“Hahaha, seperti itu rupanya rasanyanya?” Sky melihat ke arah langit.
“Hei, kau tak perlu menjadi baik-baik saja kalau kau sendiri tidak baik-baik saja. Apa rencanamu setelah ini?” Ken kembali duduk di samping Sky. Tangannya merangkul di belakang.
“Tidak tahu.”
“Aku tidak tahu, Ken.”
“Kau sudah mengemasi semua barangmu?” tanyanya.
“Iya…”
“Ken, bukankah itu lucu?”
“Lucu?”
“Iya, berpindah-pindah tempat seolah itu yang terbaik. Nyatanya, justru kembali. Dan yang lalu, menjadi pilihan yang seolah itu juga yang terbaik. Sama halnya dengan seseorang, bisa juga membawamu kembali.”
“Kau ingin kembali padanya?”
“Jika itu mungkin?”
“Kau lebih gila, Sky. Kau akan menyakiti dirimu sendiri.”
“Sebenarnya, tidak ada tersakiti…hanya saja itu semua pilihan.”
“Ah, aku tidak mengerti maksudmu.”
“Syukurlah, kau justru menjadi Kakak tiriku.”
“Hei, sekali lagi ucapanmu itu…menyakitiku.”
“Bukankah itu lebih baik? Daripada harus terlihat memberimu harapan.”
“Sudahlah…”
“Hahaha, ma…”
“Kau meminta maaf lagi.”
“Ken, ma…”
“Sky!”
“Iya—iya, maafkan aku.”
“Kau tidak pulang?”
“Tempat tinggalku dekat. Pertanyaan itu seharusnya untukmu, Ken.”
“Baiklah, kembalikan pertanyaan itu untukku.”
“Tempat tinggalku jauh, tapi aku tidak ingin pulang.”
“Kau harus pulang, Ken. Kau baru saja pindah, aku tidak tahan melihatnya. Bagaimana bisa kau tidur dengan semua barang-barang yang berserakan di mana-mana?”
“Apa kau mau membantuku?”
“Tidak, sama sekali tidak. Pulanglah!”
“Kau keterlaluan.”
“Aku merindukannya, Ken.”
Sky menatap kedua mata Ken. Begitu dekat. Bahkan, kedua matanya berkaca-kaca.
“Aku ingin terus bersamanya, tapi itu akan menjadi semakin rumit.”
“Bagiku, dia seseorang yang…”
“Yang menjadi seseorang untukku, Ken.”
“Kau belum bertemu dengannya?”
“Belum dan…”
“Itu akan menjadi bahaya jika aku bertemu dengannya lebih cepat.”
“Iya, jika kau tak terkendali. Kau tidak bisa lagi menahan perasaanmu. Itu kau, Sky.”
“Kau telah menjadi seorang Kakak laki-laki yang sesungguhnya, Ken.”
“Wah, lagi-lagi itu menyakitiku. Dan ini jauh lebih menyakitkan.”
“Aku harus bagaimana lagi, Ken?”
“Tidak, bukan kau. Tapi aku yang seharusnya…”
“Hm, tidak apa, Ken. Jika kau masih ingin menyimpannya. Itu tidak mudah dan aku tidak masalah dengan itu, asalkan kau juga mengontrol dirimu sendiri.”
“Tidak, itu justru membuatku semakin memikirkan kau menjadi milikku. Hm, aku mengerti arti yang kau ucapkan. Punya dan milik, serupa tapi tidak juga.”
“Iya, terserah kau, Ken. Sekarang pulanglah!”
“Kau akan bertemu dengannya?”
“Tidak semudah itu, Ken. Mungkin sedang bersama Rania.”
“Mereka kembali dengan kehidupan mereka?”
“Tidak tahu,” Sky turun dari pijakan tinggiku.
“Aku pulang, Ken.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak usah, bukankan itu akan membuatmu berharap?”
“Baiklah-baiklah, kau menang. Aku payah.”
“Ken, terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Semuanya.”
“Tidak semuanya,” sahut Sky.
“Selain itu, Ken. Hahaha…”
“Baiklah, cepatlah pulang!”
“Kau juga, pulanglah!”
Sky dan Ken, berjalan ke arah yang berlawanan.
Begitu juga dengan apa yang mereka pikirkan.
Sky berjalan dengan melihat keadaan sekitar. Mulutnya bersuara dengan suaranya begitu lirih, “Aku merindukannya.”
Bahkan langkah kakinya menjadi tak terasa. Ia sudah sampai di depan tempat tinggal lamanya.
Ia berjalan menaiki tangga darurat. Kakinya terasa ringan. Tak berlangsung lama, ia sampai. Berjalan dengan menundukkan kepalanya. Ia hanya ingin sampai tanpa melihat keadaan sekitar.
Berjalan lurus dengan melihat langkah kakinya yang berjalan. Ia sudah berada di depan pintu. Menekan tombol tiap tombol dengan suaranya yang khas.
Pintu itu telah terbuka tapi…
Indera penciumannya begitu kuat.
Ia tidak akan salah.
Langkah kalinya yang seharusnya melangkah justru berada di tempat, begitu juga dengan sorot matanya. Sky tak lagi menunduk. Ia menyadarinya. Tak hanya ada dirinya seorang. Dengan menghitung mundur, sorot matanya beralih.
Sedikit demi sedikit.
Apa yang terlihat, sama seperti sebelum-sebelumnya. Seperti mengalami dejavu untuk kesekian kalinya.
Kai dan Rania berada di depan pintu yang sama.
Suasana yang aneh, meski itu tidak hanya satu atau dua kali terjadi.
Sky meletakkan jemari tangannya pada pegangan pintu.
Kakinya mulai melangkah maju meski keraguan itu lebih menguasainya.
Pandangannya mulai berpaling menghadap pintu.
Telinganya mendengar suara kaki yang mendekat.
Satu kakinya telah masuk ke dalam.
Aroma itu semakin tercium pada indera penciumannya.
“Sky…”
DEG!
Aromanya benar-benar mendekat.
Sky berusaha menjauh.
Tapi…
Itu bukan apa yang ia inginkan.
Sky berada dalam dekapan Kai.
“Aku merindukanmu, Sky.”
...***...