
Berakhirnya hari ini membuatku masih memikirkannya dengan rasa bersalah yang tak bisa kumengerti…mengapa rasa bersalah itu harus ada padaku?
“Bagaimana cara kau membuatnya seperti waktu itu?” Kai berada di dapur. Orang itu tetap kekeh ingin memasak untukku.
“Ah, yang kau makan bersama Rania dan membuatku kelaparan?”
“Kau mulai membahasnya lagi. Membuatku semakin menyesalinya karena telah melakukan hal semacam itu.”
“Baiklah, lupakan saja! Itu menjadi salah satu yang membuatku muak.”
“Jadi, lebih baik kau masak yang lainnya,” lanjut Sky.
Sky berbaring di sofa dengan bersembunyi di balik selimut. Memejamkan mata dan langsung terlelap.
Takut membangunkan Sky, Kai menyalakan mode getar pada ponselnya karena Rania terus menghubunginya.
Rania berada di depan pintu, memintanya untuk membukakan pintu. Ia tidak ingin menjadi salah paham untuk kesekian kalinya. Tapi hatinya juga bergejolak. Tidak mungkin membiarkannya menunggu di luar.
Belum terlalu malam tapi membayangkannya berada di luar sendirian, itu seperti sedang membawa beban di dalam dirinya.
“Kenapa kau selalu membuatku jatuh dalam kondisi seperti ini?”
Pertahanannya runtuh.
Suasana yang ada seperti tidak berpihak padanya.
Suara bell seperti menandakan sebuah babak baru yang akan segera dimulai.
“Biar aku saja,” suara bell mebangunkannya.
“Eh—Sky…”
“Sebentar…aku akan membuka pintu.”
“Itu—Rania.”
Langkah kakinya terhenti. “Ah, dia masih di sini?”
“Aku mengabaikannya semua teleponnya tapi dia terus menunggu di luar.”
“Dan membuatmu khawatir?” sambung Sky.
“Sky…”
“Baiklah, aku mengerti,” Sky melangkah pergi.
Perasaannya menjadi kembali bercampur aduk sekali lagi dan kesekian kalinya.
“Jika itu menyakitkan, maka itu bisa dibilang cinta.”
Bukankah seperti itu?
“Kau mencarinya?”
“Bolehkah aku masuk? Rania dengan mukanya yang seolah membeku.
“Kau mau apa?” Sky masih menahan pintunya. Kalau sampai Rania masuk dengan mendorongnya, ia akan merubah sikapnya pada Rania.
“Untuk Kai, untuk apa lagi?” tangannya sudah berada di pintu.
“Iya, untuk apa?” Sky mengulang ucapannya.
“Haruskah aku mengatakannya?” raut wajah Rania menjadi lebih dingin.
“Apa itu begitu penting?” Sky masih mengulur waktu.
“Apa pun itu akan selalu penting jika itu di antara aku dan Kai,” raut wajahnya cukup memberi tahuku bahwa dia tidak cukup sabar untuk menungguku membukakan pintu untuknya.
“Bukankah ini bukan waktu yang tepat? Bahkan Kai harus berbicara denganku.”
“Itu urusanmu, sekarang urusanku dengan Kai yang lebih penting.”
“Tapi Kai sedang bersamaku.”
“Kai bisa keluar bersamaku.”
Wah!
Tekadnya sangat kuat, tapi aku tidak mau menyerah.
“Kai sedang bersamaku, Rania.”
“Kurasa Kai yang lebih tahu siapa yang akan dia pilih. Bukankah begitu, Kai?”
“Sky, aku akan berbicara sebentar dengannya.”
Rania yang berada di hadapanku itu tersenyum puas seolah telah menjadi pemenangnya lalu berkata, “Kau sekarang mengerti…mana yang lebih penting?”
“Oke,” jawabku pada Kai.
“Aku akan kembali…,” Kai menatap ke arahku.
“Lucu sekali, mengapa dia jadi marah? Tidur? Kurasa belum waktunya,” Rania tersenyum sinis padaku.
“Sky…”
“Tunggu apa lagi? Bukankah kalian akan keluar membicarakan sesuatu yang penting itu?”
“Kau benar-benar marah? Haha…,” Rania justru membual.
“Kau ingin bersamanya, kan?” sahut Sky.
“Kau bicara apa, Sky?” Kai menggenggam tanganku.
“Kau juga ingin Kai memilih dan sekarang kau yang dipilih. Baiklah,” Sky melepas genggaman tangan itu dan berjalan masuk ke dalam.
“Sky, apa maksud ucapanmu?” Kai berjalan masuk.
“Bukankah kau telah mengerti maksudku? Itu melelahkan harus memiliki perasaan seperti ini. Dari awal memang sudah semestinya…tidak ada seseorang di sampingku dan aku memang berakhir seperti itu.”
“Dia telah menyadari tempat yang seharusnya pantas untuknya,” teriak Rania.
“Aku akan kembali, Sky.”
“Apa kau bisa tidak pergi untuknya?”
“Maafkan aku, aku harus pergi.”
“Baiklah, itu sudah cukup menjawab apa yang ada dipikiranku.”
“Sky, bukan seperti itu. Aku akan kembali.”
“Aku memintamu untuk tidak pergi bersamanya, apa kau bisa?” suaraku terdengar cukup keras.
“Aku hanya berbicara sebentar padanya.”
“Kita juga perlu berbicara, Kai. Apa dia lebih penting dari hubungan kita?”
“Bukan seperti itu, Sky. Bagiku kau juga penting tapi…”
“Tapi dia lebih penting, itu yang kau maksud?”
“Kai, di luar dingin…kau akan membiarkanku menunggumu di sini?” suara Rania juga cukup keras. Seperti sengaja meninggikan volume suaranya.
“Aku akan kembali, Sky.”
Kedua mataku berpaling. Suara pintu yang tertutup seperti berbicara, “Semua telah berakhir.”
Tidak ada tangisan.
Hanya perasaan yang menumpuk seperti gunung lalu mencoba untuk mendakinya. Terasa berat, seperti sedang diberi peringatan…tidak semestinya orang sepertiku ada di tempat setinggi itu dan memintaku untuk sadar akan kehidupan yang tidak berpihak padaku.
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
Apa definisi seseorang yang penting bagi kehidupan kita?
Mengapa seseorang itu menjadi penting?
Orang di masa lalu mengapa selalu di pernah usai?
Mengapa orang di masa lalu sering disebut dengan penghalang atas hubungan baru yang baru saja terjalin?
Mengapa Kai seolah tidak bisa menggunakan pilihannya?
Apakah aku bukan seseorang seperti Rania?
Apa aku tidak sepenting itu?
Bahkan orang-orang di luar sana memberiku penilaian yang jelek.
Semua yang ada di sampingku berujung akan meninggalkanku, apa itu akan terjadi lagi?
Aku tahu siapa pun itu seseorang di samping kita tak selamanya berada di samping kita begitu juga dengan hati manusia yang berubah-ubah. Tapi setidaknya…
Sky berada di dapur. Tidak ada satu pun yang Kai buat. Ia mengabil satu bungkus permen, beberapa makanan ringan, dan air mineral dengan es batu dalam gelas yang tertutup agar ia bisa membawanya sekaligus dengan satu tangan.
Jam dindingnya menunjukkan pukul 7 malam. Ia tidak mungkin tidur dan mungkin juga akan terjaga di malam hari. Sudah terlalu lama ia tidur.
Seperti biasa. Menyalakan lampu tidur yang ia letakkan di sofa untuk menggantikan lampu ruangan yang ia matikan. Ruangan yang gelap menjadikan suhu ruangan lebih sejuk. Sky berbaring dengan menaikkan selimutnya dan menyalakan TV dengan memutar film yang berjudul ‘happy old year’ yang sudah ia tonton beberapa kali.
Tangannya menggenggam permen, ia bisa menghambiskannya dalam sekejap.
Pandangannya fokus ke depan.
Meski ia sudah bisa menebak alur dalam cerita pada film yang ia tonton. Bagiku, meskipun beribu kali mengulang film yang pernah kita tonton…pasti akan memberikan kesan atau presepsi yang berbeda-beda.
Sama halnya dengan kehidupan ada maksud yang terselubung tak bisa langsung tahu fakta yang sebenarnya terjadi dan akan tahu pada saatnya nanti. Saatnya nanti—benar-benar tepat.
Pikiran yang ada dalam pikiranku akan selalu mengiringku dalam banyak opsi dengan versi dan skenario yang berbeda. Terbaik dan terburuk atau menjadi semu.
...***...