
Semua yang berlalu-lalang selalu membawaku pada ingatan yang sama.
Tidak ada yang berubah tapi masih terasa asing meski tidak seperti itu juga.
Memiliki perasaan yang tak terdefinisi sama halnya dengan perasaan yang berubah-ubah…yang tak tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya.
“Kau sedang bersama siapa?” suara Green di sampingku baru saja mengingatkanku bahwa aku sedang bersamanya.
“Kau,” dengan tatapanku yang kosong.
“Kupikir aku sedang berjalan sendirian,” balas Green lalu berjalan menghadang di hadapanku.
Langkah kakiku terhenti sebelum kepalaku menyentuhnya.
“Apa aku membosankan?” tanyaku dengan mendongakkan kepala yang menyesuaikan perbedaan tinggi badan di antara aku dan Green.
“Kau masih bertanya?”
“Maafkan aku, Green. Kau tadi bilang…kau ingin ke mana?”
“Hei, pikirkan dulu dirimu sendiri…apa kau tahu kalau kau benar-benar kacau?”
“Aku hanya memikirkannya sebentar dan kau tidak punya banyak waktu, Green. Maafkan aku, tapi bukankah aku seharusnya menemanimu? Tapi justru menjadi seperti ini.”
“Kau harus pulang dan beristirahat, Sky.”
“Tidak, aku tidak ingin pulang.”
“Ah, kau tidak ingin bertemu dengannya? Itu membuatku semakin…kau menjadikanku alasan untuk melarikan diri.”
“Tidak, aku hanya…hanya tidak tahu kita bisa bertemu atau tidak dan sedikit memikirkannya dengan perandaian yang mungkin akan menjadi entahlah…”
“Bukan kau yang terlambat, meski aku telah menyadarinya tapi aku justru berakhir tidak melakukan apa-apa. Aku yang terlambat, Sky.”
Apa yang kupikirkan dan ucapkan selalu tepat sasaran dengan respon yang Green ucapkan padaku.
“Dari pada kau, sebenarnya aku yang paling menyesali perbuatanku. Jika dipikirkan berulang kali tetap akan sama, itu soal waktu. Itu yang membuatku menyesalinya, Sky.”
“Rasanya campur aduk, Green. Dulu aku begitu menyukaimu, tapi aku terlalu berkecil hati karena kau mustahil untuk digapai.”
“Aku yang terlambat, Sky. Anggap saja seperti itu.”
Seseorang dari masa lalu mengapa selalu datang terlambat? Aku telah mengatakan berulang kali. Green juga menyebutnya seperti itu.
Rintik hujan yang tak seberapa tengah membahasi permukaan pada sore menjelang malam hari. Rania tidak membawa payung begitu juga dengan Kai. Mereka berada di halte, sedang menunggu Bus yang akan mengantar mereka ke apartemen Kai.
“Kenapa kau terus mengikutiku?” ucap Kai yang tak bisa lagi menahan rasa kesalnya pada Rania yang sudah sejak pagi mengikutinya.
“Tidak akan ada yang marah juga. Kau sudah bebas pergi ke mana pun dan dengan siapa pun,” jawab Rania.
“Kau pikir aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri? Kalau kau terus mengikutiku itu semakin membuat asumsi banyak orang…”
“Sejak kapan kau peduli dengan asumsi orang lain, Kai? Karena dia kau jadi kehilangan dirimu sendiri?”
“Kau tidak mengenalnya jadi, jangan asal bicara!”
“Ah, benarkah? Tapi aku lebih mengenalmu dari pada dia yang tiba-tiba datang dan menjadi pacarmu. Bukankah kita dulu saling menyukai, Kai? Kenapa kita tidak melanjutkannya saja?”
“Aku akan berjalan kaki. Kau saja yang naik Bus, sebentar lagi juga sampai. Kau juga tidak suka hujan. Jangan mengekor di belakangku!”
“Kau akan meninggalkanku, Kai?”
“Kau sudah bisa menjaga dirimu sendiri,” ucap Kai dan mulai berjalan meninggalkan Rania.
“Kai!” Rania tetap mengekor di belakang Kai dan terkena tetesan air hujan.
“Apa kau tidak pernah menyesalinya?” teriak Rania.
“Tidak, itu bukan apa-apa,” jawab Kai sambil tetap berjalan.
“Kau bohong, Kai!”
Rintik hujan yang awalnya hanya sebuah tetesan yang turun sampai ke permukaan justru menjadi rintik hujan yang begitu deras.
Kai membalikkan badannya. Menggenggam jemari tangan Rania lalu berteduh di bangunan kosong yang berada di seberang jalan.
“Bahkan kau masih peduli padaku,” Rania menepis tangan Kai.
Pukul 7 malam, hujan semakin deras. Sky dan Green berada di toko buku menghadap pantai yang begitu gelap. Pemadaman sedang terjadi sejak 30 menit yang lalu. Hanya toko buku yang terlihat sedikit terang dengan beberapa lampu emergency yang ada.
Suasana yang ada begitu mendukung untuk membicarakan soal masa lalu. Bahkan Green telah memulainya.
Ucapan Green seperti menjawab semua pertanyaanku di masa lalu. Begitu juga denganku yang menjawab pertanyaan Green.
“Apa yang akan terjadi jika kita di masa lalu menjalin hubungan?” ucap Green dengan tidak menatap ke arahku.
“Hmm, entahlah. Apa artinya hubungan jarak jauh bagimu?” ucapku.
“Ah, bukankah kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri, Green?”
“Hahaha, artinya kita akan berpisah?” tawa Green terdengar tidak seperti tawa yang sesungguhnya.
“Kurasa akan seperti itu meski aku bisa melakukannya tapi tidak mungkin hanya sepihak. Hei, bukankan kita hanya berbicarakan…”
“Hei, ini bukan omong kosong hanya saja…andai saja itu bisa terwujud,” potong Green.
Sky menghela napas dalam suasana yang senyap membuat suara napasnya cukup terdengar di telinga.
“Apa kau menyesalinya, Sky?” Green meletakkan tangannya di ujung kepalaku.
“Hmm, mungkin iya dan mungkin tidak. Entahlah, rasanya ingin marah tapi untuk apa marah? Green seharusnya kau…”
“Aku tidak bertemu denganmu dan membicarakan hal seperti ini, itu maksudmu?” Green seperti Kai yang tengah membaca pikiranku.
“Aku juga memikirkan soal itu, Sky. Tapi bukankah kita tidak pernah tahu…atau kau sempat memikirkannya?”
“Kurasa itu terjadi karena apa yang pernah kita pikirkan. Kau juga memikirkannya, kan?” Sky menepis tangan Green di kepalanya.
Andai saja…
Andai?
Bahkan sekarang ini justru menjadi omong kosong.
Perandaian yang tidak memungkinkan terjadi.
“Andai…,” Green menghela napas dengan tatapannya yang kosong. Aku melihatnya dalam kegelapan.
Kai dan Rania telah sampai di apartemen. Keduanya basah kuyup. “Kau bisa memakainya,” Kai memberikan pakaian ganti untuk Rania.
“Tidak mau,” tolak Rania dengan menyodorkan kembali pada Kai.
“Jangan merengek dan mencariku kalau kau sakit….cepat ganti dan aku akan mengantarmu pulang.”
“Kenapa bukan milikmu saja?”
“Ada apa dengan milik Sky?”
“Kenapa kau masih menyimpannya, Kai?”
“Cepat berganti pakaian sebelum kau…”
“Aku tidak mau! Aku hanya ingin memakai pakaian milikmu.”
“Itu sama saja, Rania.”
“Tidak, itu berbeda. Bukankah Sky juga memakai pakaian milikmu?”
“Tidak,” jawab Kai.
“Aku hanya ingin pakaian milikmu, Kai.”
“Baiklah…,” Kai berjalan mengambil pakaian tapi Rania justru menghentikan langkah kakinya.
“Biar aku saja,” ucap Rania.
“Hei, apa ini tempat tinggalmu? Kau tidak bisa seenaknya seperti itu.”
“Kai, kenapa kau jadi menyebalkan? Bahkan Sky sebebas itu bisa masuk. Kenapa aku tidak?”
“Baiklah, terserah padamu.”
“Kai, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini padaku?”
“Tak bisakah kau berhenti membuatku berada di posisi seperti ini?”
“Ah, apa kehadiranku membuatmu bimbang, Kai? Bukankah kau sudah mengatakannya perasaan yang kau punya hanya pada satu orang?”
Kai terdiam.
“Kai! Apa kau?”
Rania berjalan mendekat.
Benar-benar mendekat.
“Aku tidak akan melanjutkannya jika kau menolakku, Kai.”
Cup!
...***...