Suddenly

Suddenly
The Past Meets the Other Past



“Tidak mungkin?”


“Iya, tidak mungkin. Kecuali…”


“Dia juga mengatakannya.”


“Ah, kau perlu pembuktian dari Kai?”


“Tidak juga,” Sky berpaling dari tatapan Rania dan melahap makanannya.


Benar kata Kai.


Makanannya biasa saja. Bahkan bisa dikatakan kurang enak. Apakah ini hari tersialku? Karena harus menghabiskan semua makanan ini?


“Wah, kurasa kau perlu memperbaiki cara makanmu,” celotehannya yang tertuju padaku.


“Hei, kau tidak akan memakannya?” Kai baru terdengar suaranya.


Walau berusaha menyesuaikan. Mulutku tidak tahan untuk tidak berbicara pada Kai.


Makanan ini…


Benar-benar tidak enak.


Entahlah, mengapa orang-orang datang ke sini? Bahkan saat ini begitu ramai.


Aku telah menghabiskan 2 porsi Cordon Bleu. Tapi aku harus menghabiskan makanan yang lainnya.


“Kau yakin bisa menghabiskannya? Kau terlihat tertekan. Lihatlah wajahnya, hahaha…”


“Bukannya kau sedang makan malam bersama pacarmu? Kenapa kau terlihat lebih fokus dengan kehadiranku?”


“Aku fokus padamu? Kau gila, ya?” balasnya


“Sudah kubilang makanan disini tidak enak kenapa kau memaksakan diri?”—Kai


Ponselku yang bergetar telah menandakan pesan itu datang dari Kai.


“Benar-benar tidak enak tapi aku harus menghabiskannya.”—Sky


Selain mual. Energiku akan terkuras jika aku terus menanggapi ucapan Rania yang tidak ada habisnya.


Kurasa aku akan diam sejenak lalu melanjutkan makan.


“Apa kalian berbohong padaku?” Rania tiba-tina berbicara seperti itu. Membuat detak jantungku seolah berhenti berdetak. Lalu benakku berbicara. Apa aku dan Kai akan terangkap basah?


“Kalian?” sahut Kai.


“Iya, kau dan Sky.”


“Kau bicara apa? Soal aku dan Sky kembali bersama maksudnya?” Kai justru bertanya.


“Kau kembali bersamanya?” Rania mengarah padaku.


“Jika iya, apa kau akan melakukan sesuatu…seperti foto-foto itu?”


Kai dan Rania menatap ke arahku.


“Kau pikir aku tidak tahu?”


“Wah, ternyata kau melakukan hal semacam itu?”


“Kau mengikutiku dan Kai? Atau kau menyuruh seseorang?”


“Kau menuduhku?” suara Rania terdengar keras membuat beberapa orang di sekitar melihatnya.


Bukan hanya karena suara Rania yang baru saja terdengar keras, sebenarnya sejak tadi…beberapa orang terlihat penasaran dengan pembicaraanku dan Rania.


“Tidak apa, kalau kau tidak ingin mengakuinya.”


“Menurutku kau bukan untuk berbuat jahat. Hanya saja, kau ingin memastikan apakah Kai serius dengan pilihannya…bukankah seperti itu?” lanjut Sky.


“Aku tidak pernah melakukannya dan kau lebih baik tutup mulut kalau kau tidak tahu apa-apa.”


“Ya, kau benar. Aku lebih baik diam,” jawabku dengan tersenyum.


Suasana menjadi berubah.


Kai dan Rania tiba-tiba terdiam.


“Sky?”


Suara itu datang dari arah belakang.


Suara yang kukenal.


Suasana yang tak terduga justru terjadi.


Kupikir tidak akan ada lagi sebuah pertemuan setelah hari itu.


Orang itu berjalan mendekat dan menyadari sosok yang ia tahu. Kedua matanya melihat sesat lalu tersenyum padaku dan duduk di hadapanku.


“Sky…,” orang itu memanggil namaku seperti tidak pernah terjadi apa pun atau tidak mengingat beberapa hari sebelumnya.


Mulutku terasa aneh untuk mengucapkan namanya.


Mengapa di saat seperti ini selalu ada-ada saja?


Kurasa pilihanku justru membawa skenario kehidupanku yang berdampingan dengan masa lalu.


Sama-sama dari masa lalu dan bertemu.


“Green…”


Kurasa aku tidak perlu membahas apa yang terjadi di hari itu.


Anggap saja Green ada ditempat yang sama denganku lalu dia menyadari keberadaanku.


Tapi…


Kai?


“Kau datang sendirian?” tanyanya.


“Ya, kau?”


“Aku juga datang sendirian dan aku melihatmu.”


Green melihat ke arah meja yang masih penuh dengan makanan dan berkata, “Bukankah makanannya tidak enak?”


Sky mengangguk. “Iya, apa mukaku terlihat jelas?”


“Iya, hahaha…”


Aku benar-benar tidak tahu harus berbicara bagaimana dan seperti apa.


Apa yang akan terjadi?


Apa yang ada dipikiran Kai?


“Wah, bukankah mereka terlihat serasi, Kai?” ucap Rania.


“Sky telah bersama orang lain. Bukankah seperti itu, Sky?” Kai menatap ke arahku.


“Iya, itu benar.”


“Ah, benarkah?”


Suara Rania semakin terdengar lebih dari menyebalkan.


Green tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dengan dua tangannya menahan meja di antara sisi kiri dan kananku. “Aku akan membantumu menghabiskannya,” bisik Green sementara aku tidak bisa berkata-kata.


Sky menatap ke arah Kai yang tengah menatap ke arah Green.


Aku hanya bisa mengangguk karena aku pun tidak bisa menghabiskannya dan…


“Bukankah itu menjadi tidak adil baginya?” Kai tiba-tiba mengambil semua makanan yang berada di mejanya dan memindahkannya satu per satu di mejaku.


“Ah, kau menginginkan hal seperti itu? Oke!” jawab Green.


Kai duduk di sebelahku dan Rania menatapku dengan bola matanya hampir keluar. “Kau salah tempat,” ucapnya.


“Bukankah tempatmu di sana?” jawabku.


“Kau salah pasangan,” tangan Rania berusaha menarikku.


“Tanyakan saja padanya, kenapa harus aku yang pindah?”


“Hei, kau! Kau berisik,” ucap Green sedangkan Kai bungkam.


“Kai, kenapa kau diam saja?”


“Baiklah, duduklah!” ucapku lalu berpindah di sebelah Green. Barulah Rania duduk di sebelah Kai.


Aku tidak mengerti apa akan terjadi di antara Kai dan Green?


“Hei, apa yang kalian lakukan?” tanyaku.


“Dia memintaku bersaing menghabiskan makanan,” jawab Green.


“Hah? Untuk apa?”


Kai selalu ada-ada saja.


“Siapa yang menang…”


“Dia yang akan mendapatkan tiket ini,” Kai menunjukkan dua tiket bioskop.


Film itu…


Film yang kuinginkan.


Jangan-jangan Kai akan…


“Kai, itu tiket kita berdua kenapa kau…”


“Bukankah kita belum memutuskan untuk pergi?” potong Kai.


“Dan siapa yang mendapatkan tiket itu berhak mengajak di antara kalian berdua,” Kai melanjutkan ucapannya.


“Kai, keterlaluan!” teriak Rania.


“Baiklah, deal!” ucap Green.


“Tunggu! Untuk apa kalian harus seperti ini? Kai, kau…”


“Green tidak keberatan jadi, semuanya telah setuju,” Kai memotong ucapanku.


“Kau harus memenangkannya demi aku, Kai!”


“Tidak, bukankah pilihannya di antara dua orang…kau dan Sky?” jawaban Kai pada Rania.


Membuat detak jantungku berdetak kencang.


Sudah di pastikan Kai akan memilihku jika dia yang menang tapi bagaimana jika itu Green?


“Kau harus memilihku, Kai!” Rania yang tetap kekeh.


“Hei, kau lebih baik kau diam…kau berisik!”


“Hei, kau siapa…bahkan aku tidak mengenalmu. Kau yang lebih baik tutup mulut!” teriak Rania pada Green.


Mengapa jadi seperti ini?


“Dan kau! Kau pikir mereka berdua sama-sama akan memilihmu?” Rania dengan jemari tangannya yang mendorong bahu kiriku.


“Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Apa itu membuatmu tidak percaya diri? Bukankah kau merasa lebih baik dariku?” balasku.


“Aku akan mendapatkannya,” ucap Kai.


“Tidak, aku yang akan mendapatkannya,” ucap Green.


Suasana yang ada. Rasanya ingin meninggalkan tempat. Apa yang terjadi telah menjadi pusat perhatian banyak orang dan makanan-makanan yang berada di atas meja itu semakin membuatku mual.


Semua makanan berat dengan porsi yang mengenyangkan.


Kai mengatur timer yang sudah disepakati oleh Green.


“Mulai!”


...***...