Suddenly

Suddenly
Moving on?



Pemadaman listrik menghabiskan begitu banyak waktu hingga terjaga di malam hari.


Terkurung di dalam seperti tidak mungkin untuk pergi keluar.


“Kurasa, kita bertiga sedang berlindung dari kejaran ‘zombie’. Benar-benar ragu untuk keluar dan justru berpikiran yang macam-macam. Lalu bagaimana aku pulang?” listrik yang menyala membuat Jeff banyak bicara.


“Kau benar juga, Jeff. Apa di luar ada zombie? Serasa seperti itu. Membayangkan keluar untuk saat ini, membuatku ketakutan sebelum mencobanya. Ah, besok sabtu. Haruskah kita mengantar Jeff pulang?” ucapku dan bertanya pada Kai.


“Ah, iya. Sabtu akan ramai pengunjung. Sebaiknya kita memang harus mengantarnya tapi…itu juga membuatku khawatir.”


“Apa yang kau khawatirkan, Kai?” tanya Jeff.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Tidak ada suara bell atau kertas yang masuk selang 2 jam setelah penerangan kembali.


“Takut orang itu datang di saat kau sendirian,” jawab Jeff.


“Hei, tenang saja. Orang-orang di tolong buku seperti keluarga bagi kalian. Mereka juga sudah tahu keadaan kalian. Pasti mereka juga akan menjagaku.”


“Jeff, memang benar. Tapi kalau salah satu dari mereka menyamar?” itu kecurigaanku karena foto-foto itu yang diambil di toko buku.


“Ah, karena foto-foto itu?”


“Bagaimana kalau sekarang kita ke sana dan memeriksa CCTV? Kebetulan kunci ruangan itu sengaja kubawa.”


“Benarkah kita akan keluar?”


“Apa perlu menghubungi penjaga apartemen?”


“Di antara tidak perlu dan perlu,” jawab Kai.


“Tapi perjalanan cukup panjang, Kai.”


Jeff ada benarnya.


“Baiklah.”


Seperti menjelaskan waktu yang tepat…penjaga apartemen itu mengirim pesan padaku.


“Penjaga apartemen itu…mengirim pesan padaku.”


Kai dan Jeff merapat di sampingku.


“Tempatlah di dalam! Orang itu masih ada. Tapi jangan khawatir. Dari pihak apartemen sudah melaporkannya ke polisi dan polisi akan mendekat secara perlahan agar tidak terlalu terlihat.”—Penjaga Apartemen


“Tapi perasaanku tidak enak…”


“Perasaanku tidak enak terhadap penjaga apartemen itu,” sahut Jeff.


“Kenapa memangnya?”


“Dia yang datang untuk memberi tahu apa yang terjadi seolah dia sebelumnya pernah bekerja sama dengan orang itu sebelum tersadar dan datang pada kalian,” terang Jeff.


“Hei, kau seperti menciptakan teori-teori yang membuat prasangka-prasangka yang tidak-tidak,” ucap Kai.


“Itulah yang dinamakan sebuah teori, Kai. Benar-benar membuatku curiga pada penjaga apartemen itu.”


“Penjaga apartemen itu juga bersikap aneh,” ucapku setelah mengingat-ingat.


“Aneh bagaimana?” Kai semakin tidak mengerti.


“Bukankah sudah biasa menaruh paket di depan pintu? Bahkan itu dilakukan oleh kurir. Tapi akhir-akhir ini, orang itu memencet bell untuk memberikan paket itu padaku. Tidak hanya itu saja. Sorot matanya melihat lurus ke arah bagian dalam apartemenku. Lalu raut wajahnya juga dingin dan tiba-tiba berubah mejadi senyuman yang kurasa…tidak alami.”


“Wah, benarkah? Kenapa kau tidak bilang padaku, Sky? Wah, itu membuatku merinding. Ada apa dengan apartemen ini?” Kai menggenggam tanganku. Tangan Kai terasa begitu dingin.


“Baru terpikirkan olehku dan mengingatnya,” benar, kenapa aku bisa melupakannya?


“Ah, karena kau ketakutan jadi melupakan hal itu.”


“Sudah kubilang, bagiku dia aneh.”


“Kenapa aku tidak merasakan itu? Tapi karena kalian merasa seperti itu. Baiklah, perlu hati-hati dengan penjaga apartemen itu. Tapi…”


“Benar-benar menakutkan lagi jika penguntit itu, penjaga apartemen.”


“Hei! Tadi Jeff dengan teorinya. Sekarang kau juga, Kai.”


“Memang kita seharusnya pindah.”


“Aku tidak bisa, Kai.”


“Kalau aku pindah…bagaimana?”


“Tidak apa, itu pilihanmu. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Ini semua dari Ayahku.”


“Tapi…aku tidak bisa dan tidak tahu bagaimana nanti jika situasi yang kupunya sudah tak sama lagi. Kau benar-benar tidak ingin berubah pikiran untuk kebaikanmu sendiri setidaknya?”


Suasana menjadi tidak enak.


Jeff terdiam.


Kai dengan tatapannya yang kosong.


Aku, berkecamuk dengan apa yang ada di pikiranku.


Menjadi sunyi.


Waktu pun berjalan.


Kita hampir melewatkan makan malam.


Terjebak.


Foto-foto dan kertas-kertas itu berserakan di lantai.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan polisi yang penjaga apartemen itu bilang.


“Kalian tidak lapar?”


“Ingin memesan makanan?” ucapku memecah keheningan.


“Ya,” ucap Kai. Kai pasti sedang berpikir tentang hal yang sebelumnya. Kalau tidak ada Jeff, kupikir terjadi perselisihan.


“Biar aku saja yang memesan makanan,” sahut Jeff.


“Tidak biar aku saja,” jawabku.


“Kalian ingin makan apa?”


“Setidaknya itu bukan ramen,” Kai berbicara tanpa menatapku.


“Haruskah kita makan ayam goreng dengan banyak saus?” Jeff berbicara dengan memegang perutnya.


“Oke, ada lagi?”


“Dan juga pizza,” sambung Kai.


“Oke.”


“Makanan korea?” Jeff akan kalap sepertinya.


“Oke, deal!”


Sky mencari keberadaan ponselnya yang ternyata ada di bawah bantal. Jari-jari tangannya bergerak dengan cepat. “Sudah, aku sudah memesannya. Lalu…siapa yang harus mengambil pesanannya?”


“Kau…,” jawab Kai.


“Hei, kenapa dia, Kai?” Jeff menoleh pada Kai.


“Kurasa dia harus lebih berani, bukankah dia tidak bisa pindah?” Kai yang terlihat kesal.


“Baiklah, aku yang akan mengambilnya.”


Jeff melihatku melirik ke arah Kai lalu berganti padaku. Aku menyadarinya lalu mengangkat kedua bahuku seperti tidak tahu-menahu dengan ekspresi muka Kai yang terlihat kesal.


“Kita akan mengantarmu pulang, Jeff.”


“Kita?”


“Iya, kita yang akan mangantarnya, Kai.”


“Tidak.”


“Apa maksudmu?”


“Tidak sekarang. Kita semua akan menginap di sini sampai besok pagi baru kita mengantarnya. Kau tak keberatan, kan…Jeff?”


“Ah…”


“Baiklah, mau bagaimana lagi.”


“Sungguh tidak apa, Jeff?” ucapku.


“Tidak apa, Sky. Sungguh.”


Ting tong!


Jantungku berdegup kencang.


“Aku akan mengambilnya,” sahutku.


Orang itu memperlihatkan wajahnya dengan membuka maskernya.


Tak memungkiri, tanganku juga gemetar. Aku tidak langsung membuka sepenuhnya. Tapi mengaitkan besi pintu yang hanya akan membuka pintu sedikit, setidaknya memperlihatkan wajahku.


“Maaf, bolehkah kau menaruh makanan itu di bawah?”


“Penjaga Apartemen mengatakannya tadi padaku. Kau tidak sendirian di rumah, kan?”


“Ah…tidak. Terima kasih.”


“Berhati-hatilah.”


Sky mengangguk.


“Kau bisa melakukannya,” dengan cepat membuka pintu. Sambil dengan posisi jongkok. Mengambil makanan dengan mengopernya dari bawah menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kananku memegang handle pintu.


Total ada 4 kantong kresek yang lumayan besar dan satu kotak pizza berukuran besar.


Benar-benar mengopernya dengan buru-buru, bahkan terdengar cukup kasar. Begitu selesai. Langsung menutup pintu detik itu juga dan mengaitkan besi pada pintu itu kembali.


Jeff sudah berada di belakangku saat pintu telah tertutup. Membantuku membawa memakanan. Kai juga membantu membawanya tapi mukanya itu…masih terlihat kesal.


“Selamat makan,” Jeff berseru senang.


Setelah itu, tidak ada yang bersuara. Semuanya fokus pada makanan.


Kai menatapku begitu denganku—menatapnya.


Aku tidak tahu…


Benar-benar tidak bisa, tidak bisa menjauh dari tempat-tempat yang sering kukunjungi.


...***...