
“Dia selalu datang ke kampus di hari kau mencarinya,” jelas Rania.
“Tapi sama sepertimu, aku juga tidak melihatnya,” lanjut Rania.
“Baiklah, terima kasih.”
“Kau tidak ingin kehilangannya, kan?”
“Sudah kubilang itu tidak akan terjadi.”
“Aku tidak bisa membantumu karena akan menjadi semakin parah.”
“Iya, aku mengerti.”
Rania menepuk bahu Kai dan pergi meninggalkannya.
Tanpanya…
Ia berada pada ruang sunyi.
Seperti kembali pada waktu itu.
“Kau di mana, Sky?”
Tapi dia tidak benar-benar menghilang. Hanya saja…
Tidak dipertemukan.
Kai masih berada di kampus. Menunggu di depan kelasnya. Tapi kelas itu sudah selesai.
“Apa Sky hari ini masuk?” tanya Kai pada seseorang yang masih berada di kelas.
“Iya, masuk. Dia baru saja keluar.”
Orang-orang itu jusru mendapat bahan ocehan di saat Kai telah pergi.
“Ada yang terjadi pada mereka?”
“Bukankah akhir-akhir ini tidak melihat mereka bersama?”
“Tapi kemarin aku melihat Kai bersama Rania.”
“Wah, apa lagi? Mereka bersama lagi.”
“Sepertinya tidak. Kai dan Rania terlihat seperti sepasang teman.”
“Tapi kalau mereka kembali, bukankah tidak apa?”
“Tapi Kai terlihat begitu serius pada Sky.”
“Kau benar juga, bukankah itu terlihat juga sebenarnya?”
“Maksudmu, terlalu Kai terlalu kentara?”
“Iya. Dan sikap Sky yang menurutku yang lebih cuek…”
“Yang akhirnya justru memikat Kai, begitu?”
“Whoaa! Bukankah Sky terlihat luar biasa?”
“Memang sebenarnya tapi banyak yang membencinya karena terlihat tak sepadan.”
“Dia sebenarnya cantik tapi tidak populer.”
“Bukankah sekarang menjadi populer karena pacarnya itu? Hahaha…”
Tok…tok…tok…
“Apa itu menyenangkan? Pembicarakan orang lain dengan ketidaktahuan kalian?” Ken menutup mulut orang-orang itu.
Sama seperti Kai, Ken juga mencari keberadaan Kai.
“Sky, ada di sini?” tanya Kai.
“Ada apa lagi ini?”
“Apa yang kau lakukan?”
“Dia ada tadi setelah menyerahkan tugasnya.”
“Baiklah, terima kasih.”
“Aku melihatnya di parkiran.”
“Benarkah?”
“Iya, cepet tunggu apa lagi sebelum kau kehilangan…”
Kai sudah berlari. Orang-orang di club fotografi bertanya-tanya, “Mereka pasang yang unik.”
“Apa yang terjadi dengan mereka?”
“Sky akhir-akhir menjadi pendiam.”
“Hei, itu karena tangannya terluka.”
“Tangannya atau yang lainnya?”
“Sepertinya keduanya.”
“Rania, orang itu kenapa terus muncul di antara mereka?”
“Sky tidak membawa ponselnya lagi.”
“Tapi dia justru membawa ponsel lamanya.”
“Hah, benarkah?”
“Iya, aku melihatnya tadi.”
“Kuharap dia mendapatkan kebahagiaannya.”
“Pak ketua, Sky di masa lalu seperti apa?”
“Hmm…”
“Dia populer tapi dia tak sadar dirinya populer. Dia selalu cerita tapi orang-orang tidak pernah tahu dibalik kehidupannya.”
“Whoaa! Kau pernah menyukainya, ya?”
“Iya, siapa orang yang tidak menyukainya…pasti akan menyukainya.”
“Bukan seperti itu. Kau pernah menyukainya?”
“Ya.”
“Whoaa!”
“Sekarang?”
“Hei, kau gila, ya?”
“Hahaha, whoaa! Bukankah kita tengah menangkap basah ketua kami ini?”
“Hahaha…”
Kai berbicara dalam benaknya dengan pikirannya yang kalut.
Seseorang yang ia cari terlihat tertawa bersama beberapa temannya yang jarang terjadi kecuali bersama teman satu club.
“Sky…,” panggil Kai dan mendekat.
Sorot matanya melihat ke arahku tidak seperti biasanya. “Apa yang terjadi dengan tangannya?” Kai dalam benaknya dengan sorot matanya yang tengah memperhatikannya.
“Hai, Kai!” sapa salah satu dari mereka.
Sky tersenyum…
Langkah kakinya justru melangkah tanpa memperdulikan seseorang di hadapannya.
“Sky…”
“Apa yang terjadi dengan tanganmu?” Kai menggenggam tangan kiri Sky.
Tangannya terluka. Di balut perban dalam gendongan tangan. “Bukan apa-apa,” ucapnya dengan masih tidak melihat ke arahku.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Tidak perlu.”
“Kau akan jalan kaki dengan keadaan seperti itu?”
Sky berusaha melangkahkan kaki.
“Sky, kita harus bicara.”
“Bukan sekarang, Kai.”
“Kau akan terus kabur dan membiarkan semua menjadi semakin berlarut-larut?”
“Bukankah semua orang juga berhak memerlukan waktu untuk sendiri?”
“Beberapa hari ini, apa itu tidak cukup?”
“Kau memikirkan dirimu sendiri, Kai.”
“Tidak. Aku ingin cepat selesai, Sky. Kau akan terus marah padaku?”
“Kau tidak mengerti, Kai.”
“Turunkan ego…”
“Ego? Kau bilang ego? Kau harus mempertanyakan pada dirimu sendiri, Kai.”
“Sky…”
Sky menghela napas. “Baiklah.”
Kai hendak memeluknya tapi Sky lebih dulu berjalan di depannya. Rasanya seperti baru saja di tolak. Sky menolakku.
Mereka berada di dalam mobil dengan suasana yang sunyi. Sky melihat ke arah luar dengan tatapannya yang kosong. Membuat Kai mengingat, Sky menangis di hadapannya dan dia orang yang membuatnya menangis. Bahkan sekarang kedua matanya terlihat sehabis menangis. Apa yang terjadi dengan tangannya?
“Kau mau aku membeli cheesecake?”
“Tidak.”
“Lemonade?”
“Tidak.”
“Lalu kau ingin makan apa?” Kai benar-benar tidak tahu harus ke mana.
“Kau saja, aku sudah makan.”
“Apa yang terjadi dengan tanganmu?”
“Jatuh.”
“Bagaimana itu bisa terjadi?”
“Semua juga bisa terjadi.”
“Sky, bukankah kita akan berbicara baik-baik?”
“Bukankah aku terpaksa melakukannya? Ini bukan waktu yang tepat, Kai.”
“Lalu kapan menurutmu waktu yang tepat?”
“Bukan sekarang.”
“Besok?”
“Tidak tahu.”
“Kau bahkan tidak tahu dan bersembunyi dibalik alasan sebuah waktu. Kau sedang menyalahkan waktu.”
“Dan kau telah merusak momen. Untuk apa kau melakukan hal yang tidak perlu dilakukan seperti itu?”
“Aku hanya…”
“Hanya apa? Bosan maksudnya?”
“Iya.”
“Kau bosan denganku atau hubungan ini? Atau justru keduanya?”
“Keduanya tapi…”
“Oh, keduanya?”
“Bukan, aku hanya mencoba dengan reaksimu. Bukankah kita selalu seperti ini dan apa kau merasakannya? Terkadang aku juga merasa bosan.”
“Karena kita selalu bertemu, itu yang menjadi penyebabnya?”
“Iya. Maafkan aku, harus mengatakannya, Sky.”
“Aku tidak pernah merasa bosan, Kai. Mungkin ucapanku terlalu jauh. Tapi itu yang kurasakan. Bagaimana nanti jika kita benar-benar menjadi keluarga dan bahkan ini belum apa-apa tapi kau sudah merasa bosan? Meski sikapku terlihat cuek padamu bukan berarti aku tidak menyayangimu, Kai.”
“Aku hanya tidak bisa mengekspresikan seperti yang kau lakukan padaku. Tapi aku tidak pernah main-main tetang perasaanku padamu, Kai.”
Sky mulai menangis.
“Kalau pertemuan kita yang terlalu sering menjadi penyebabnya dan jika itu yang kau mau…”
“Tidak usah bertemu, Kai.”
“Tapi jangan salahkan aku jika aku benar-benar berubah karena jarak yang kau buat.”
Kai tidak berbicara.
Sky mengusap air matanya lalu pergi dari hadapan Kai. Kai melihatnya berlalu tanpa berbuat apa-apa…
Tidak.
Tidak seperti itu.
Sinyal-sinyal yang akan selalu datang terlambat jika itu soal cinta. Terjadi pada Kai.
Meski benar-benar terlambat.
“Sky…”
Terjadi lagi.
Berulang kali.
Tidak ada keberadaan Sky, meski tidak lagi mengganti passwordnya. Sky seolah sengaja untuk tidak terlihat.
Kai melihat ke arah pintu seolah Sky akan datang dan mendekatinya.
“Sky…”
...***...