
“Ken…”
“Kau belum tidur ternyata?”
“Belum. Ken…”
“Bicaralah.”
“Apa kau pernah menyukai seseorang tapi, kau tidak yakin?”
“Menyukai seseorang tapi tidak yakin? Sepertinya baru saja terjadi,” jawab Ken.
“Hah, kau baik-baik saja?”
“Ya. Itu cinta terlarang.”
“Hah, serius? Jadi, kau mundur…”
“Mundur tanpa perlahan,” potong Ken.
“Bagaimana kau bisa melakukannya?”
“Karena aku bukan kau.”
“Ken!”
“Hari ini, apa kau menyukainya? Kurasa dia bukan laki-laki yang baik untukmu. Kau basah kuyup, apa yang sebenarnya terjadi?”
Sky terdiam untuk beberapa detik.
Ken tahu itu. Pasti tidak akan mudah bagi Sky untuk berterusterang.
“Tidak, bukan dia.”
“Ada lagi, sesuatu yang mengganggumu?” sahut Ken.
“Apa kau pernah bertemu seseorang tapi, kau merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya dan ternyata kau benar…”
“Lalu bertemu dengannya?” lanjut Ken.
“Ah, mudah ditebak, ya?”
“Kurasa kau dan aku, satu sama lain telah saling mengisi.”
“Kau lagi-lagi membuatku geli. Maksudnya, kau dan aku telah menjadi selayaknya Kakak dan Adik?” aneh, suasana hatiku membaik dengan cepat. Ken memutuskan malam itu untuk tinggal menemaniku.
Ken tidur di sofa tak jauh dari ranjangku. Ken orang terniat yang pernah kutemui. Dia selalu prepare dari segala hal tanpa cela.
Kakak sambungku itu meninggalkan beberapa potong pakaiannya di lemari pakaianku. Bahkan pakaian dalamnya. Karena pakaian dalam itu, ada perdebatan sengit di antara dua orang yang tiba-tiba menjadi dekat dengan waktu yang singkat.
“Pernah. Kurasa orang itu kau…,” Ken berbicara sembari berjalan mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu tidur.
“Maksudnya?”
“Bercanda, haha.”
“Hei, apa kau sudah mengantuk? Sepertinya kau akan lebih melantur dan itu membuatku tidak percaya dengan ucapanmu. Selamat tidur, Ken.”
“Jadi, kalian bertemu hari ini? Pantas berakhir seperti itu. Itu akan menjadi sulit untuk menyampaikan perasaan kalian.”
“Benarkah seperti itu? Wah, kau tahu kata-kata itu dari mana? Tak kusangkah kau juga bisa berbicara dengan serius.”
“Sudah kubilang, aku tidak seperti yang kau bayangkan.”
“Ken…”
“Sky…”
“Kau dulu.”
“Tidak. Kau dulu, Ken.”
“Kau saja.”
“Hmm, Ken…”
“Ya?”
“Ken, semoga kau menemukan seseorang yang membuatmu tidak terjebak dalam kepura-puraan. Maafkan aku, terlambat menyadarinya.”
“Hei, sudahlah itu sudah berlalu. Ingat saja hari ini. Baiklah, kuharap seseorang itu cepat datang padaku.”
“Giliranmu.”
“Selamat tidur, Adikku.”
“Itu saja?”
“Iya, aku hanya ingin mengatakan itu.”
“Oke, selamat tidur, Ken.”
Malam itu, kalau tidak ada Ken mungkin aku tidak akan bisa terlelap.
2 jam setelah kehebohan yang Kai perbuat di kampus.
Dirinya dan Kai telah menjadi headline news di forum khusus mahasiswa berbagi infomasi apa pun yang terjadi di kampus.
Bahkan tentang Yuta dan Kale yang pastinya ada sangkut-pautnya denganku, ada di forum itu.
“Ada apa?” Kai melihatku menundukkan kepala.
“Kau sudah lihat ini?” Sky menunjukkan di layar ponselnya.
“Ah, itu. Memang benar, kan.”
“Wah, tanggapan apa itu…kau masih bisa santai?”
“Kau takut?”
“Tidak.”
“Sky, sudah kubilang tidak akan ada lagi yang mengganggumu. Kalau pun ada, aku tidak akan tinggal diam.”
Sky melahap burger yang lebih besar dari jemari tangannya itu dengan tatapan yang kosong.
“Sky, apa kau menyadari sesuatu?”
“Apa?”
“Haha, baiklah kalau kau tidak ingat.”
“Apa?”
“Tidak. Selamat makan.”
Ponselku berdering.
Itu Ken.
Belum sempat mengangkatnya, Ken mematikannya lebih dulu. Lalu mengirim banyak pesan.
“Siapa? Apa itu penting?” tanya Ken.
“Seseorang.”
“Ah…”
Cup!
Tidak!
Sial!
Sky memalingkan pandangannya ke arah luar. Ia mengumpat untuk dirinya sendiri. Memejamkan mata. Tangan kirinya mengepal.
Sayangnya ia tidak bisa ke mana-mana. Hujan terlalu lebat. Kai membawanya di parkiran di rooftop di sebuah bangunan tua. Kata Kai, 20 menit lagi film yang akan mereka tonton segera di mulai. Ya, bangunan tua itu adalah bioskop.
Kai, apa dia manusia prepare seperti Ken?
Di belakang pengemudi, ada 1 kantong kresek besar yang isinya banyak berbagai snack.
Sebelum membawaku ke tempat ini, Kai berhenti di sebuah kedai yang sepertinya sudah berumur. Dia membeli burger berukuran jumbo yang tak kusangkah-sangkah, rasanya tak kalah dengan tempat yang jauh lebih terkenal.
“Kai…”
“Nanti saja, setelah film selesai.”
Kai menyalakan penghangat dan memberiku sebuah selimut dan juga bantal yang berbentuk awan. Satu lagi, sekotak tissue. “Siapa tahu kau membutuhkan,” ucap Kai.
“Aku sudah pernah menontonnya,” untuk memecah pikiranku yang berkecamuk, lebih baik berbicara.
“Sama.”
Kai terlihat fokus. Kedua matanya tidak berpaling sedikit pun meski ia sibuk dengan ponselnya yang berdering dan sesekali mencari beberapa camilan yang berada di dekatnya. Lalu memakai kaca matanya dan tak lama kemudian melepasnya.
Rasa kantuk mulai menyerangku.
Obat flu yang kuminum, telah bereaksi.
Kalau tidak minum, akan semakin parah.
Kedua mataku terasa berat.
Kepalaku sedikit pening.
“Selamat tidur, Sky.”
Kai telah berpaling.
Tidak lagi menghadap depan, sesungguhnya ia hanya berpura-pura untuk memecah kecanggungan yang sebenarnya terjadi.
Tetapi itu tidak terlihat dari luar. Kai sanggup menutupinya.
“Ken?”
“Entahlah,” Kai tidak peduli. Pemandangan di sampingnya, telah menguasai kedua matanya.
Kai tersenyum tanpa ia sadari.
“Aku menyukaimu,” suara Kai lirih.
“Tidak peduli, aku tetap menyukaimu.”
1 jam telah berlalu.
Film yang mereka tonton sudah selesai.
Sky masih tertidur pulas.
Kai tidak pernah berpaling. Hujan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.
Ia perlu fokus untuk mengantarnya pulang dengan hati-hati.
Tetapi pikirannya menjadi berkecamuk, “Ken?”
Lalu, ia berhenti.
Berhenti di tempat yang sudah ia rencanakan.
Sudah pukul 7 malam.
Kai memutuskan untuk kembali. Ia berhenti di dekat apartemen lamanya.
“Sky…”
“Sky…”
Tidak ada jawaban.
Ia menimbang-nimbang pilihannya.
“Baiklah.”
Kai melakukannya dengan hati-hati.
Pukul 10 malam.
Kai benar-banar tidak bisa tidur.
Menyalakan lampu ruangan dan mematikan lampu tidur.
“Hei, Sky!” sontak membuat Kai ingin menutup matanya dan berlari menjauh. Dilihatnya Sky duduk dengan sorot matanya yang membuatnga tegang.
“Kau!”
“Ka—u tertidur dan…”
“Harusnya kau membangunkanku!”
“Maaf tapi…”
“Hahaha, apa kau takut?” sesungguhnya, aku benar-benar melakukan kebodohan. Untuk apa aku seperti ini?
“Hei, kau berani bercanda denganku?” sorot mata Kai berbeda.
“Jangan mendekat!” tegas Sky.
“Apa kau ingin mengatakannya sekarang?”
“Eh, mungkin.”
“Baiklah, pelan-pelan saja.”
“Hmm, aku tidak yakin tentang perasaanku. Tetapi, aku tidak pintar berbohong memang ada sesuatu yang terjadi di antara kau dan aku.”
“Aku akan menunggumu,” tatapan Kai itu, membuatku goyah.
Sial!
Rasanya campur aduk.
Tapi semua yang terjadi terlalu cepat.
Aku tidak ingin gegabah seperti Kai.
“Perasaan itu ada tapi entahlah,” dadaku terasa berat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan perlu untuk mengeluarkan semuanya tapi tidak untuk sekarang.
“Begitu cepat terjadi. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana kau.”
“Kau benar-benar akan menungguku?” lanjut Sky.
“Iya, sampai kesabaranku habis.
“Hei, kau mengancamku?”
“Aku tidak suka penolakan tapi, aku tahu kau juga menyukaiku.”
“Kau menghibur dirimu sendiri?”
“Wah, ucapanmu itu menyakitkan.”
“Benarkah?”
“Sedikit,” Kai mendekat. Mengacak-acak rambutku. Memberiku tissue tepat di hidungku.
“Kau membuatku malu, apa itu membuatmu jijik?”
“Dulu, kau lebih parah.”
“Wah, apa kau mengikutiku di masa lalu?”
“Sudah kubilang aku seorang penguntit. Aku akan menceritakan semuanya kalau kau…”
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera menjawabnya.”
“Bagaimana kalau itu di malam tahun baru?” usul Kai.
“Hmm, malam tahun baru?”
“Hmm, oke.”
“Kau yakin, Sky?”
“Ya, aku selalu menepati janji.”
“Kuharap kau menepati janji.”
Pukul 11 malam.
“Wah, apakah kau bisa mengantarku? Ken akan marah padamu kalau kau tidak mengantarku pulang.”
“Hahaha…”
“Hah, ada apa denganmu?”
Kai tak sanggup menahan tawanya. “Kau akan tahu setelah kau membuka pintu keluar, hahaha…”
Sky berjalan menuju pintu keluar dan menuntup pintu kembali.
“Hah?”
Ting…tong…
Krek!
“Hahaha…”
“Hei, kau benar-benar psychopath. Kau pindah benar-benar tepat di sebelahku?”
Pantas tetangga yang berisik itu meninggalkan tempat tinggalnya.
“Hei, kau tidak tahu bagaimana usahaku untuk mendapatkannya.”
“Ah, iya. Baiklah…”
Kai tersenyum lepas.
Rambutnya yang panjang sedikit berubah. Sepertinya ia memotong rambutnya beberapa senti.
“Kai…”
“Iya?”
“Kau tidak akan menghilang, kan…sebelum aku mengatakannya padamu?”
“Ah, kau takut itu akan terjadi lagi. Itu tidak akan terjadi.”
Sky tersenyum. “Selamat tidur, Kai.”
“Selamat tidur, Sky.”
Kai menyentuh kepalaku sebentar lalu, melambaikan tangan padaku.
Jantungku tidak aman.
Apa ini benar-benar terjadi?
PLAK!
“Aw!”
...***...