
“Mereka akan bersentuhan?”
“Ssssttt!”
“Mmmbbmm…”
Sky spontan menutup kedua mata Ken dan Kai.
Tetapi itu menjadi percuma, mereka terlalu kuat.
“Ganti film horor, ya?” pinta Sky.
“Gak mau!” tolak Kai.
Ken pun, “No, Sky!”
“Ah, kalian penakut.”
“Kai, apa kau benar-benar tidak berubah pikiran? Sky akan sering mengajakmu menonton film yang menyeramkan,” goda Ken.
“Tidak apa, tidak masalah,” jawab Kai santai.
“Oke,” Sky tersenyum.
Suasana yang tak biasa ada di dekatku ini, mengingatkanku pada diriku sebelum di hari ini tiba.
Bukan lagi sunyi tetapi juga kosong. Semua kulakukan sendiri.
Menonton banyak film sampai benar-benar bosan.
Makanan pun sama, tidak ada yang berubah dari menu makananku. 1 minggu penuh pun, aku bisa melakukannya. Makan dengan menu yang sama. Apakah aku tipe yang setia? Wah, itu konyol dan menggelikan.
“Kalian tidak lapar?”
“Kau ingin makan apa, Sky?” Lagi-lagi, mereka kompak.
“Wah, tak bisakah setelah aku berbicara baru kau yang berbicara?”
“Kau yang suka meniru.”
“Baiklah, biar aku saja yang pesan makanan,” Sky menjadi penengah di antara dua sejoli.
Ken dan Kai seperti pasangan yang sedang tidak akur. Andai mereka perempuan dan laki-laki.
“Ken, kau tahu ponselku di mana?”
“Di sini,” Kai yang menjawab.
“Kenapa bisa ada padamu?”
“Wah, kau pelupa. Kau yang memberikannya padaku.”
“Ah, iya.”
Kai dan aku, baru saja bertukar kontak dengan sembunyi-sembunyi agar Ken tidak curiga.
Sulit untuk menghentikan ocehannya, itu Ken belum lagi Kai. Ken yang pertama dan Kai yang kedua, mereka sama-sama banyak bicara.
Membuatku lelah.
Mereka masih bersemangat sedangkan aku, energiku terkuras habis.
Ting…tong…
“Itu makanannya.”
“Biar aku saja,” sahut Kai.
Ya, menu yang sama.
“Sky, kau memesan ramen…”
“Iya, ramen itu.”
Ting…tong…
“Kau memesan makanan lagi?” tanya Ken.
“Tidak. Biar aku saja, Ken.”
Suasana yang baru saja menyertaiku harus sirna dengan sekejap.
Memang benar, tidak bisa dipungkiri.
Kebahagiaan datang beriringan bersama dengan kesedihan. Seperti tidak terpisahkan, tanpa kita sadari.
Memang sulit mencoba untuk tidak terlena tapi begitu datang menghampirimu, rasanya telah ditenggelamkan sampai mulutmu dibuat membisu lalu hanya bisa terdiam dengan tatapan yang kosong dan juga pikiran yang berkelana.
Ibu dan Keen, mereka tersenyum padaku yang terpaku dengan kedua tangan yang mengepal.
“Sky, kenapa kau…”
“Ayah…”
Ken menatap ke arahku, tanganku yang tiba-tiba menjadi dingin menjadi hangat karena genggaman tangan Ken.
“Untuk apa kalian ke sini?” ucap Ken. Tubuh Ken menutupiku.
“Setidaknya biarkan kami masuk,” ucap Ibu yang masih tersenyum.
Mereka pun masuk. Melihat sekitar dengan kedua mata yang mengernyit.
“Siapa, dia?” Ibu langsung menunjuk Kai.
“Untuk apa Ibu datang ke sini? Bukankah ini pertama kalinya?” Kai tidak ada sangkut-pautnya dengan kedatangan Ibu dan Keen. Itu menggangguku saat Ibu menunjuk ke arah Kai.
“Siapa, dia?” Ibu masih kekeh.
“Kai…,” Kai dengan memasang muka polos.
Lalu Kai melanjutkan, “Teman masa kecil, Sky.”
“Teman masa kecil? Itu tidak mungkin. Dia tidak punya teman. Bahkan, Yuta dan Kale…mereka juga bukan seorang teman.”
“Kau bukan pacarnya?” tatapan Ibu pada Kai begitu tajam.
“Ah, apa Ibu terlalu ikut campur? Hahaha…”
Hah?
Omong kosong macam apa ini?
“Apa kau perlu uang? Kau tidak punya apa-apa,” Keen mengernyitkan mata dan dahinya lalu, berjalan mendekatiku dengan tangannya yang menyentuh unjung kepalaku.
Ucapanku benar, tidak bisa disebut sebuah keluarga.
“Kalian datang untuk mencariku, kan?” Ken menggenggam tangan Sky saat Kai akan melakukan hal yang sama.
“Itu bukan salahnya. Kalian sungguh kelewatan. Aku sudah berencana untuk pindah, jauh sebelum aku tinggal di rumah itu dan sudah kuputuskan…”
“Kalian bukanlah sebuah keluarga yang semestinya…,” lanjut Ken, suaranya seperti sedang memahami isi hatinya.
“Kau pikir kau bisa apa tanpa Ayah?”
“Ayah pikir, bisa hidup tanpa Ibu? Itu terlalu dini. Jangan terlalu memaksakan diri, itu juga menyakitkan untuk Ayah. Bukankah begitu?” suasana menjadi berganti. Aku mengerti bagaimana perasan Ken.
Tangan Ken yang hangat menjadi dingin dan gemetar.
Kai menatap yang seharusnya ada di tangannya itu, menjadi tidak membuatnya kesal. Ia hanya memikirkan soal Sky dan fakta jika Sky hanya menganggap Ken adalah seorang Kakak laki-laki. Sebatas itu, ia dapat menyimpulkan.
“Teruslah tidur dalam kenangan buruk yang membuatmu semakin terpuruk, mengerti?” ucap Keen, kemudian berlalu dengan suara pintu yang begitu keras.
“Kau juga, apa kau yakin Ayahmu akan datang menemuimu?” Ibu berbicara padaku, tangannya meremas Kedua bahuku.
“Jika Ayah benar-benar kembali, orang pertama yang ia temui adalah aku bukan Ibu.”
BRAK!
Tes…tes…tes…
“Ken…”
Entahlah, aku tidak sanggup lagi.
“Tidak apa, menangislah,” Ken memelukku.
“Kenapa justru kau yang menghiburku? Seharusnya aku yang…”
“Menghiburmu…huaaahh…”
“Hei, ramennya sudah mengembang,” Kai berjalan mendekat.
“Siapa peduli soal ramen di saat seperti ini, huaaahhh…,” jawab Ken dan Sky kompak. Mereka menangis bersama seperti seorang anak yang kehilangan mainannya.
Sementara, Kai?
Kai terpaksa memakan ramen yang sebenarnya tidak membuatnya ingin memakannya. Ia memakannya dengan perlahan. Tetapi perasaannya menjadi campur aduk.
Hujan kembali hadir, pukul 4 sore.
Kai tidak menghabiskan ramen yang sudah mengembang itu sendiri.
Ken dan Sky, mereka juga telah menghabiskannya.
Masing-masing dari mereka memikirkan banyak hal.
Mereka terdiam untuk beberapa menit, lalu saling berbicara dan kembali terdiam.
“Sky, aku pulang,” ucap Ken dengan menundukkan kepala.
“Baiklah, tidurlah! Kau perlu istirahat, Ken.”
“Kau, juga.”
“Eh, Kai…”
“Baiklah,” Kai beranjak dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Kau mau ke mana, Kai?”
“Pulang, kau menyuruhku pulang, kan?”
“Tidak.”
“Ah…”
“Hmm, itu pasti membuatmu tidak nyaman. Maafkan aku atas apa yang terjadi hari ini. Kau baik-baik saja, kan?”
“Hei, justru aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja?”
“Iya, akan selalu baik-baik saja. Sudah lama terjadi dan semakin membuatku terbiasa dengan situasi seperti ini,” Sky tersenyum tipis.
“Apa kau perlu pelukan dariku?” Kai yang mencoba untuk tetap santai seperti biasa.
“Tidak!”
“Tapi…”
“Hmm, kau mau aku untuk mendengar ceritamu?”
Kai lagi-lagi membaca pikiranku.
“Kau membaca pikiranku?”
“Mungkin, hehe.”
“Hei!” ada garis senyuman di wajahku.
“Kai…”
“Hmm?”
“Kalau di antara kita saling mengisi satu sama lain, apakah akan membuatmu takut?”
“Takut?” sahut Kai.
“Iya. Bukankah itu membuatmu takut?”
“Hah?”
“Ah, kau tidak mengerti arah ucapanku, ya?”
“Memangnya apa yang kau takutkan?” Kai justru bertanya.
“Banyak.”
“Bukankah kita hidup dikelilingi banyak hal?”
“Kau punya cinta tetapi tiba-tiba di tengah-tengah perjalanan sesuatu menghalangi langkahmu dan kau berakhir jatuh pada berbagai pilihan. Bukankah itu juga ada dipikiranmu, Kai?”
“Suatu saat kau juga bisa goyah atau kau juga bisa membohongi dirimu sendiri atau juga kau memilih menyerah…”
“Di antara kita, apa akan seperti itu, Kai?”
...***...