
“Ah, dia baru saja pergi kira-kira 10 menit yang lalu. Kenapa kau meninggalkannya?”
“Jangan tanya, itu membuatku semakin menyesali perbuatanku.”
Kai berlari dengan rasa bersalah dan ketakutan akan sesuatu yang bisa saja terjadi.
Tidak bisa menghubunginya karena ia tahu, Sky akan mengabaikannya.
1 jam berlalu, waktu yang cukup lama membuatnya tersadar telah melakukan kesalahan yang fatal.
Seluruh ruangan menjadi berantakan. “Apa itu, Sky?” Rania dengan air matanya yang masih menetes.
“Apa kau harus seperti ini? Hei, kau dan aku tidak pernah saling menyakiti sebelumnya. Itu masa lalu, Rania.”
“Hah, apa kau sangat menyukainya?” Rania mencengkeram bahu Kai.
“Tidak akan ada yang berubah. Kau pasti tahu itu.”
“Ah, cinta pertamamu itu? Itu konyol. Hei, Kai! Kau pikir aku bodoh, kau hanya ingin menghindariku saja tapi perasaanmu padanya…itu tak berarti apa-apa.”
“Sudah kubilang di antara kau dan aku telah menjadi masa lalu. Kau bilang, kau dan aku harus tetap bersahabat dan kita sudah melalui itu tetapi tetap aku tidak bisa kembali seperti apa yang kau mau.”
“Kau egois, Kai. Kau tidak pernah melihatku.”
“Cukup! Jangan seperti ini, Rania. Apa pun itu kau tidak berhak memintaku untuk memenuhi kemauanmu. Kau pasti akan bertemu seseorang yang jauh lebih baik daripada aku yang kau tahu justru menyakitimu.”
“Tidak. Tidak, Kai. Kau yang terbaik. Tak bisakah kau melihatku sekali saja? Aku akan bersikap baik, hmm?” Rania mencoba untuk memeluk tetapi Kai menepisnya.
“Aku benar-benar menyukainya.”
PRANG!
Rania tak bisa dikendalikan. Menangis dengan histeris. Memporak-porandakan semua barang yang ada di sekitarnya.
Benar-benar kacau.
“Kau akan menyesalinya.”
BRAK!
“Rania…”
“Kau, kenapa? Apa yang terjadi?”
“Apa kau puas?” Rania menepis tangan Sky dari tangannya.
“Tidak mungkin kau…”
“Haha, kau pasti membelanya. Perasaan yang kau punya itu telah melewati batas.”
“Lukamu harus diobati.”
“Kau peduli atau hanya berpura-pura bersikap baik?”
Ada luka gores di jari tangannya. Banyak noda di pakaiannya, tinta berwarna hitam. Matanya sembab. Rambutnya juga berantakan.
“Apa kau ingin pulang dengan seperti itu?”
“Bukan urusanmu.”
“Baiklah.”
Sky menutup pintunya tetapi tak lama ia kembali. Menggenggam tangan Rania dan membawanya masuk.
“Duduklah di sini.”
“Apa kau sengaja tinggal bersebelahan dengannya?”
“Tidak. Dia yang baru saja pindah.”
“Ah, kau merasa besar kepala?”
Sky tidak peduli dengan ucapan Rania. Ia mengambil kotak obat dan mengobati luka di jari tangan Rania.
“Pakai ini. Tidak mungkin kau pulang dengan pakaian itu.”
“Tidak perlu dikembalikan,” lanjut Sky.
Itu kaos lengan panjang yang tak pernah kupakai. “Jelek,” ucap Rania. Tetapi orang itu tetap memakainnya.
Tanpa berpamitan atau berbasa-basi denganku. Rania langsung pergi begitu saja dari hadapanku.
Pukul 3 sore, di gedung perkuliahan.
“Apa kau dengar? Mereka ternyata tidak pernah berpacaran.”
Semua orang sedang membicarakan topik yang sama.
Entah, kabar itu datang dari mana dan kupikir kehidupan perkuliahanku akan tetap menjadi biasa seperti semula.
Mereka justru melontarkan kata-kata yang tak pantas padaku.
“Wah, bukankah itu ulah Sky?”
“Benar-benar tidak tahu diri. Dia merebut Kai dari Rania.”
“Kai dan Rania tidak bersalah.”
“Dasar *****!”
Mereka melempariku dengan botol kosong yang mereka ambil dari tempat sampah.
Menyorakiku saat aku berjalan.
Melontarkan kata-kata kasar.
“Kau aman di sini, Sky.”
Ruang club fotografi menjadi tempat persembunyianku selama ini.
“Kalian melindungiku karena aku bagian dari kalian atau kalian tidak ingin dipermalukan?” ucap Sky dengan tatapannya yang kosong.
Kupikir, itu akan menjadi akhir.
Akan sulit bagiku untuk percaya pada seseorang.
Tetapi itu tidak terjadi.
Mereka justru memberiku selamat dan jelas membuatku bingung dengan reaksi mereka.
“Wah, kupikir itu hanya ada di sebuah cerita ternyata tidak juga.”
“Hei, Sky! Selama ini kau benar-benar menyembunyikan fakta itu?”
“Hei, kau terbuat dari apa? Kenapa kau begitu kuat?”
“Maafkan aku, Sky. Sempat termakan omongan yang aku sendiri tidak tahu kebenarannya.”
“Hei! Kalian bicara apa? Apa maksudnya?” bukannya mendapat jawaban mereka justru tersenyum padaku dan menggodaku.
Mereka tersenyum seperti kau sedang tertangkap basah berciuman atau ketahuan kau punya pacar.
“Kenapa kalian? Hei!”
“Sky kau harus bersembunyi di sini dan tunggu, kau tidak boleh pergi ke mana pun!”
Ren, ketua club fotografiku itu menyuruhku bersembunyi di lemari.
“Hei, kau gila, ya? Untuk apa aku bersembunyi di lemari? Sebenarnya ada apa?”
“Sssttt!” mereka memegang kedua tanganku dan dengan mudahnya mereka memasukkan ku ke dalam lemari.
“Kalian merundungku karena orang-orang itu berbicara buruk tentangku?” teriak Sky.
“Haha, tidak.”
“Kalian mau ke mana?”
“Meninggalkanmu.”
“Dan menguncimu dari luar, haha.”
“Sekali lagi selamat, Sky.”
“Bye, Sky!”
BRAK!
Mereka benar-benar melakukannya.
“Apa kau punya rencana, Sky?”
“Tidak, haha.”
“Ponselku?”
“Tidak. Aku tidak boleh keluar.”
Ren berbisik padaku. Katanya, aku harus bertahan. Tidak sekali pun keluar dari lemari itu.
“Haruskah aku percaya?”
“Wah…”
“Apa aku sedang masuk ke dalam permainan mereka, karena aku adalah anggota baru?”
“Ah, bisa jadi.”
“Benarkah?”
“Ada yang seperti ini?”
Keringat mulai bercucuran.
Tidak tahu sudah berapa lama berada di dalam lemari.
Pikirannya kembali berkelana.
Masih pada hal yang sama.
Terdengar suara pintu yang terbuka. “Sky…”
Kai?
“Kai…”
“Kai…”
“Kau di mana?”
“Aku tidak boleh keluar, kenapa kau bisa ada di sini? Kau tahu aku ada di sini?”
“Hahaha. Hei, bo…maksudku…”
“Iya, aku bodoh,” sambungku.
“Kau yang bilang, bukan aku.”
Krek!
“Hai…,” kata terucap pertama kali dari mulut Kai.
Kai benar-benar bersinar. Entahlah, aku melihatnya seperti itu.
Aroma shampo milik Kai, menusuk indera penciumanku.
“Haha, apa yang kau pikirkan selama di dalam lemari?”
“Itu pertanyaan konyol. Apa semua ini atas perintahmu? Kau bekerja sama dengan teman-temanku?”
“Mereka tahu semuanya.”
“Tahu tentang kau dan aku,” lanjut Kai.
“Apa maksudmu?”
“Selamat kau lulus,” Kai mendekat tepat di mukaku.
Sky spontan menutup mulutnya.
“Kau takut?”
“Jangan menatapku seperti itu!” Sky mendorong Kai menjauh.
Kai tidak peduli.
Cup!
Kecupan itu mendarat di kening. Itu, tidak membuatku kaget.
“Maafkan aku, Sky.”
“Apa ini rencanamu?”
Kai mengangguk.
“Termasuk bersembunyi di dalam lemari?”
“Iya, hehe.”
“Wah, kau…”
“Aku tidak ingin kau menjadi sulit untuk percaya pada orang lain setelah kejadian yang kau alami.”
“Kau peduli padaku? Persahabatan atau cinta?” ucapku terang-terangan.
“Semuanya karena itu kau. Tetapi bukankah itu cinta?”
“Jadi?”
“Pertama kali kita bertemu itu adalah hari menjadi kau dan aku,” ucap Kai.
“Toko buku?”
“Iya.”
“Oh…”
“Sky…”
“Iya?”
“Hei, kau tidak senang?”
“Senang, kenapa?”
“Wah, kau membuatku gugup dengan ekpresimu sekarang ini.”
“Hmm, kau sudah membuatku berdebar berkali-kali dan sekarang…”
“Apa cara ini membuatmu berdebar?” Kai memelukku erat.
“Tidak.”
Tes…tes…tes…
“Kai, kau menangis?”
“I—ya, huaaaahhh…”
“Kupikir ka—u dan aku ti—dak ada kesempatan untuk bersama.”
“Hahaha, hei!”
“Jangan lihat mukaku!” Kai buru-buru menenggelamkan kepalaku dalam pelukannya.
“Wah, ternyata kau…hahaha…”
“Apa itu cukup menghiburmu?”
“Iya, tak kusangkah kau ternyata…”
Kai dan aku, telah bersama. Seperti ucapan Kai, menjadi kau dan aku.
...***...