Suddenly

Suddenly
Still with the Same Atmosphere but Not really



“Bukankah kau bersama Kai?”


“Di mana ruangannya?”


“Kau belum jawab pertanyaanku.”


“Ken, kau meneleponku bukan untuk itu, kan? Di mana, Ibuku?”


Barulah Ken mengarahkanku tanpa berbicara. Detak jantungku sudah berdegup kencang. Setelah sekian lama tidak bertemu, tidak mungkin tidak membuatku menjadi tenang.


Begitu pintu di buka suasana menjadi berubah. “Untuk apa kau ke sini?” itu yang dikatakan Ibu begitu melihatku.


“Untuk Ibu. Apa yang terjadi, Bu? Di mana suami Ibu?”


“Kau mencariku?” suaranya menusuk di telingaku.


“Kalian tidak perlu datang ke sini.”


“Bukankah Ken datang untuk kau dan aku datang untuk Ibuku? Setidaknya aku masih mengingat pernah ada seorang Ibu yang melahirkanku.”


“Ah, begitu rupanya,” dengan raut wajahnya seperti mempermainkanku.


“Jawab pertanyaanku sekali saja dan aku akan pergi. Apa yang terjadi, Ibu?”


“Hahaha, kau lucu sekali. Untuk apa aku menjawab pertanyaanmu?”


“Sudah kubilang, Bu. Aku tetap anak yang kau lahirkan dan tetap ada di saat seperti ini. Apa yang terjadi dengan Ibu? Apa kau membuatnya terlalu banyak berpikir?” Sky melihat ke arah Keen.


“Apa kau sedang kekurangan sampai kau merubah sikapmu menjadi seperti ini?” tak kusangkah itu keluar dari mulut Ibu.


“Kupikir yang dimaksud dengan perubahan itu lebih berlaku untuk Ibu. Aku hanya ingin Ibu tetap menjaga kesehatan Ibu, itu saja.”


Sky langsung meninggalkan tempat dengan Ken yang mengikutinya.


“Kau mau ke mana?” Ken menahan tanganku.


“Kembali.”


“Biar aku mengantarmu,”


“Tidak, Ken.”


“Haruskah kita seperti ini?”


“Kau yang telah memberi jarak padaku, Ken. Bagaimana bisa kau memberi pertanyaan itu padaku? Iya, memang aku salah telah menuduhmu tapi…”


“Baiklah, memang seharusnya seperti itu.”


Ken pergi meninggalkanku.


“Kurasa dia sudah tidak ada di sini,” ucap Rania.


Pukul 10 malam. Sky tahu film kedua sudah dimulai. Pikirannya yang berkecamuk mulai kembali membuat ragu.


Apakah Rania akan duduk di sebelah Kai menggantikanku?


Apa Kai menungguku atau justru sebaliknya?


Rania, apa dia benar-benar telah berubah?


Segala keraguan dan tanda tanya besar mengepungku.


Setidaknya kebaikan itu datang padaku, jarak yang masih bisa kutempuh dengan berjalan kaki.


Sembari memikirkan segala keraguanku yang ada padaku.


Lampu penerangan cukup terang dan tidak hanya aku saja yang menjadi pejalan kaki.


Setelah kejadian itu, terjadi sedikit perubahan pada diriku.


Keluar seorang diri bagiku itu sudah biasa dan telah menjadi rutinitas. Semenjak kejadian itu, keluar seorang diri membuatku tidak nyaman.


Lebih sering melihat ke arah belakang. Mendengar suara langkah kaki. Memilih tempat yang yang lebih-lebih ramai dan hari ini setelah sekian lama tidak berjalan sendirian di malam hari yang dulu terlalu sering kulakukan kali ini aku seperti mendapatkan kesempatan itu kembali.


Ponselku kehabisan battery dan membuatnya bertanya-tanya, apa Kai menghubungi atau Rania juga?


Langkah kakiku terus terhenti mengikuti apa yang sedang dipikiranku.


Hari mulai gelap tapi langkah kakiku tak kunjung sampai.


“Aku harus mencarinya,” ucap Kai.


“Tidak perlu,” ucap Rania.


“Kenapa? Bukannya kau mendukungku?”


“Hei, harusnya kau yang lebih mengenalnya daripada aku.”


“Iya, lalu kenapa?”


“Bukankah dia sedang mengatasi keraguannya dengan pikirannya yang juga kacau? Biarkan saja, dia mungkin sedang mengatasinya. Meski dia akan ragu dan kembali ragu, dia tahu di mana tempat yang seharusnya,” jelas Rania.


“Aku tidak mengerti maksudmu.”


“Karena kau bodoh, Kai.”


“Hei!”


“Iya, kau bodoh.”


“Apa kau tahu mengapa aku tiba-tiba menghubungimu dan mengganggu kalian? Aku tahu itu juga bukan yang kau harapkan. Tapi kau hanya bersembunyi dan menjadikanku sebuah alasan.”


“Sky, juga mengatakannya padaku.”


“Memang benar ucapannya. Kau bodoh, Kai!”


“Iya, aku bodoh.”


“Kau benar-benar payah kalau soal cinta.”


“Lalu mengapa kau bisa menyukaiku?”


“Hei, kau tidak bisa menyerangku dengan mengatakan seperti itu.”


“Karena bukan hanya Sky yang kacau, kau juga. Kau tinggal menunggunya datang.”


“Bagaimana kalau tidak datang?”


“Kau tidak percaya padanya? Bahkan aku percaya padanya. Dia pasti datang.”


“Kalau tidak?”


“Hubunganmu akan berakhir dan kau akan menyesal kehilangan seseorang sepertinya.”


“Apa yang kau lihat dari Sky? kukira kau benar-benar membencinya.”


“Aku membencinya karena dia tidak membenciku setelah apa yang kuperbuat.”


“Wah! Kau mulai bisa berpikiran dewasa?”


“Hei, kau juga berkacalah! Kau tidak mungkin terus-menerus seperti ini, kan? Kau harus lebih mengenali seseorang yang berarti bagimu.”


“Kau asal bicara seolah aku sedang mempermainkannya.”


“Wah, rasanya ingin kutarik kembali apa yang terjadi di kehiduapanku sampai aku berbuat seperti itu. Aku menyesal telah menyukaimu.”


“Sungguh menyesal, Kai.”


“Syukurlah, aku menyesal menyukaiku.”


“Kai, bodoh!”


“Rania, kau!”


Rania membuka pintu dan keluar. Lalu mengetuk kaca. Kai membukanya. “Apa lagi? Apa yang ingin kau bicarakan dengan orang bodoh sepertiku?”


Rania tersenyum. “Dia datang, semoga beruntung bodoh!”


“Hei, kau!”


Lambaian tangan Rania dari luar memperlihatkan kehadiran Sky yang bisa Kai lihat dengan kedua matanya.


Perlukan hangat itu tak kusangkah…


Rania memelukku dan berbisik di telingaku, “Kau perlu memukulnya, agar dia lebih mengenalmu.”


Perasaan lega itu mulai datang padaku.


Kai membukakan pintu dengan satu tangannya. Di dalam menyambutku dengan pelukan. “Maafkan aku,” ucap Kai.


Sky melepas pelukan itu. “Maafkan aku, kau pasti bosan karena aku mengabaikanmu.”


“Aku seperti anak kecil yang merengek lalu marah. Maafkan aku, Sky.”


“Iya, tidak apa. Aku juga bersalah pergi begitu saja tanpa memberi tahumu.”


“Apa terjadi sesuatu? Perasaanku tidak enak saat kau tiba-tiba keluar.”


“Ken tadi yang menelepon. Ibuku masuk rumah sakit dan ya, seperti yang bisa kau tebak. Aku datang dan keadaan tetap sama, tidak menganggapku ada.”


Kai memelukku kembali. “Bukankah kau punya Kai?”


“Ya.”


“Hei, kau masih marah karena kentang goreng dan karena itu kau membeli kentang goreng baru?”


“Bisa-bisanya kau mengambil kentang gorengku begitu saja.”


“Kau marah hanya kerena itu?”


“Tidak hanya itu. Kau menyebalkan hari ini, Kai.”


“Kau juga, Sky.”


Sky melepas pelukan itu. “Kurasa kita akan lebih fokus di film yang ketiga. Sayang sekali…”


“Siapa yang bilang?”


“Bukankah sekarang film kedua?”


“Iya, tapi masih ada film yang keempat.”


“Hah?”


“Iya, aku juga membeli tiket film yang keempat.”


“Kau menghambur-hamburkan uang, Kai.”


“Tidak.”


“Wah, senangnya menjadi orang sepertimu.”


“Kau juga, senangnya menjadi orang sepertimu.”


“Kau yang lebih-lebih, Kai.”


“Kau yang justru lebih-lebih, Sky.”


Brrrrrrrrrr…


“Itu perutku, hehe.”


“Hahaha, kau sama sekali belum menghabiskan makananmu,” Kai memberinya kembali makanan yang kutinggalkan begitu saja.


“Terima kasih.”


“Sebentar…kau tidak jalan kaki, kan?”


“Hmm, tidak.”


“Hei, kau tidak bisa berbohong.”


“Hehe…”


...***...