Suddenly

Suddenly
The Last Thing Left



“Ren!” teriakku dari kejauhan.


Langkah kakiku begitu cepat begitu melihatnya. Keringatku bercucuran meski sejuknya udara dingin tengah menusuk-nusuk permukaan kulit.


Rangkaian kata-kata telah tercatat di dalam benakku tapi tidak tahu nanti apa yang akan terucap dari mulutku.


“Ren!” langkah kakiku berhenti tepat tak jauh dari Ren yang menatapku dengan tatapannya yang seolah masih ragu.


Orang itu terlalu kentara dengan earphone yang ia pakai. Hanya sebuah earphone dan sebuah persembunyian.


“Tak perlu melepasnya karena kau pasti dengar,” ucapku.


Ren tidak melepas earphonenya.


“Ren…”


“Aku hanya ingin kau mendengarnya.”


“Kau tidak perlu berusaha mengakhiri perasaan yang kau punya dan tak perlu juga menjauh hanya karena ingin melupakan. Kau juga sama sepertiku dan semua orang…yang berhak memiliki perasaan yang tak tertahankan meski tak sesuai harapan.”


“Aku tidak sedang memberimu sebuah harapan tapi mengendalikan perasaan yang ada padamu. Bukankah pada kenyataannya di kehidupan yang sedang menyertaimu itu akan semakin membuatmu mendekat…jika kau sedang menghindari sesuatu seperti yang kau lakukan padaku?”


“Itu yang ingin kuucapkan…perasaan yang ada padaku, Ren.”


Sky melangkah mundur.


“Bye, Ren!” dengan tersenyum dan kembali dengan langkah kaki yang begitu cepat.


Langkah kakiku tak memintaku untuk berbalik arah untuk melihat keberadaannya. Jika berbalik sama halnya memberi harapan padanya karena akan menjadi sebuah ungkapan yang disebut dengan saat.


Langkah kakinya telah memberinya arah tanpa ragu.


Meski bukan hari ini, setidaknya telah terbesit di benaknya seperti langkah kaki yang ia punya.


“Kau datang sendiri?” ucap seseorang sebagai pengganti Jeff.


“Ya.”


“Dia datang tak lama setelah kau datang,” ucapnya.


“Ah, iya.”


“Kau tidak…”


“Aku baik-baik saja,” potongku.


“Nikmati waktumu seperti biasanya,” ucapnya.


Sky mengangguk dan tersenyum pada Nell. Ia duduk menghadap ke arah pantai. Matahari akan segera turun, keramaian yang ada menunggu saat-saat itu.


Pemandangan yang ia lihat akan tetap sama di matanya meski telah melihatnya berulang kali. Tidak akan berubah dan itu selalu indah meski juga akan berlalu.


Sama halnya dengan pemandangan seseorang yang telah mengisi hati, ada kalanya rasa jenuh itu pasti datang tapi bukan seseorang itu yang justru membuatmu jenuh.


Tapi…


Dirimu sendiri yang berubah.


“Apa kau mengerti maksudku?” Sky berbicara dengan suara yang hampir tidak bisa di dengar oleh siapa pun walau masih berada di tempat yang sama.


Sky menyusuri barisan buku-buku yang telah tertata rapi. Meski ada perubahan pada tatanannya, tidak merubah suasana yang ada dan semua ingatan yang masih tersimpan.


“Apa yang kau pikirkan?” Nell menepuk bahu kiriku.


Pemilik toko buku sudah berganti tangan dan tidak tahu keberadaannya. “Kau sudah tahu kabarnya?” tanyaku.


Nell menggelengkan kepalanya. “Sebenarnya…itu yang Pak Isyo mau.”


“Kurasa Pak Isyo sudah lama merencanakannya,” Nell melanjutkan ucapannya.


“Iya, sepertinya. Bahkan aku belum sempat bertemu dengannya.”


“Kurasa karena Jeff,” Nell selalu mengatakan seperti itu. Semua kecewa dengan Jeff tapi bukan berarti tidak peduli lagi dengannya.


Rekan kerja Jeff termasuk Pak Isyo juga bergantian datang mengunjungi Jeff tapi mereka melarangku untuk menemuinya.


“Aku akan mengunjunginya besok,” ucapku yang spontan membuat raut wajah Nell berubah.


“Kau tidak ingat pesan Pak Isyo?” Nell berulang kali juga mengatakan itu.


“Sudah waktunya keluar dari tempat persembunyianku,” jawabku.


“Kau bukan pergi sendirian, kan?”


“Kau mau menemaniku, Nell?”


“Tidak perlu memintanya aku akan menemanimu tapi sayangnya besok aku tidak bisa.”


“Aku akan…”


“Tidak, Sky! Kau tidak boleh menemuinya sendirian.”


“Ayolah, Nell!”


“Tidak!”


“Kecuali kau bersama…”


“Tidak…”


“Dia juga terlihat tidak baik-baik saja. Bahkan bercerita…”


“Itu pilihannya, Nell.”


“Hahaha, kenapa aku harus percaya padamu?”


“Hei! Meskipun aku tak selama yang lainnya, tapi aku merasakan hal yang sama.”


“Ah, benarkah? Tapi…kau tahu maksudku, kan?”


“Iya, kau pasti bisa melaluinya. Bukankah sudah cukup banyak yang kau lalui?”


“Nell, terima kasih.”


“Hei, aku tidak berusaha menghiburmu tapi memang mengatakannya yang sebenarnya.”


Sky tersenyum. “Iya, aku tahu.”


“Pulanglah dan tidur yang cukup!”


Sky mengangguk dan berkata, “Baiklah, aku pulang. Bye, Nell!”


“Dan ingat kau tidak boleh pergi sendirian untuk menemuinya, mengerti?”


“Wah, kau ingin menggantikan Ken?”


“Sky, aku serius.”


“Iya—ya, baiklah.”


Langkah kakiku terasa berat untuk berjalan ke arah pulang.


Masih ingin melangkah untuk pergi ke suatu tempat tanpa harus melihat pintu di sebelah.


Benar-benar tidak ingin pulang.


Sebenarnya…ia tak sepenuhnya pindah. Masih ada beberapa barangnya di apartemen lamanya.


Terpikirkan olehnya hanya beberapa saat dan tanpa ragu langkah kakinya melangkah.


Semalam saja.


Tapi…


Itu telah menjadi omong kosong belaka.


3 hari berlalu dan aku masih di apartemen lama.


Seperti ucapan Nell, aku tidak jadi menemui Jeff setelah menarik ke belakang pada ingatanku…rasanya ketakutanku masih menghantuiku.


Membuatku semakin ragu dan semakin memikirkan yang tidak-tidak.


Mungkin lain kali tapi tidak tahu pasti.


Aku pun memikirkan reaksi Jeff saat bertemu denganku bahkan jauh-jauh hari keraguan itu telah memberiku peringatan.


Tapi aku masih berusaha mengelaknya hanya karena ingin mendengar Jeff berbicara di hadapanku.


Apakah aku akan melihat sisi lain dari Jeff yang tidak pernah kulihat sebelumnya?


Selain itu…


Aku tidak ingin menjadi mimpi buruk yang bisa teriang-iang di dalam benakku.


Atau tiba-tiba terbangun dan tak bisa kembali terlelap.


Sky berjalan lurus hanya menatap ke arah pintunya. Ia tidak peduli dengan apa pun selain hanya membuka pintu dan masuk.


Kegelisahan yang tiba-tiba muncul selalu menyertainya setiap langkah kaki yang melangkah dan mendekat pada pintu.


Memutar setiap momen yang pernah ada, itu tidak bisa dihindari.


Ruang kosong yang ada padanya tetap sama tidak semakin luas atau justru menyempit.


Perasaannya pun tetap pada orang yang sama.


Meski kehidupan tidak selalu memihaknya dan terkadang juga membuatnya lelah, terkadang juga tidak adil…baginya semua kembali pada pilihan.


Aku merindukannya tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Apa yang ada pada ruang kosongnya?


Aku berusaha menghindari pikiranku yang berasumsi.


Asumsi yang bisa mengacaukan pikiran dan membuat berpikiran yang tidak-tidak di malam hari.


Terbawa pada alam sadar dan terbangun dengan pikiran yang justru membuat semakin berpikiran yang tidak-tidak.


Waktu?


Semakin dalam semakin aku menyadari bahwa aku telah bertaut dengan waktu.


Itu cukup melelahkan dan benar-benar terasa. Seakan-akan semua alasan dibaliknya adalah waktu.


“Apa yang harus kulakukan?”


“Agar aku bisa kembali padamu?”


Kedua mata yang bertemu selalu dipertemukan di tempat yang sama.


Selain hanya sebuah kebetulan yang memungkinkan bisa terjadi, apa yang terjadi sebenarnya?


...***...