
Tinggal menghitung waktu menjelang malam tahun baru. Benar-benar tak terasa, rasanya baru saja terjadi. Ucapanku pun menjadi berubah-ubah di antara bertaut dengan waktu dan tidak.
Sama halnya dengan perasaan yang kumiliki saat ini.
Semuanya bercampur aduk.
Membaur bersama pikiran.
Pikiran yang sering kali tak sejelan dengan hati dan ucapan.
Matahari masuk melalui sedikit celah di jendela—memberikan efek yang membuatku tidak pernah tidak menyukainya. Jemari tanganku dengan cepat meraih kamera dan mengabadikannya sebelum berlalu bersama langit kelabu yang hanya muncul beberapa saat.
Green telah pergi sesuai dengan permintaannya—tidak memperbolehkanku untuk datang.
Setelah hari itu Green belum menghubungiku meski aku telah menghubunginya.
Ya, tidak mungkin tidak membuatku bertanya-tanya.
Bahkan sedikit mengganggu pikiranku.
Apa terjadi sesuatu?
Atau Green justru ingin semua berlalu dan berakhir?
Semua orang bisa melakukannya dengan mudahnya. Kehidupan membuat semua orang mudah untuk berpura-pura.
Sama halnya denganku di hadapan Green.
Bahkan aku terlihat seperti tidak tahu diri. Seperti tidak terjadi apa-apa atau seperti Green dan aku di masa lalu sebelum keterbukaan itu terjadi.
“Kau akan kembali terjebak…,” ucapku pada diriku sendiri.
Tidak ada masalah dengan stock makanan. Hanya berada di tempat tinggal yang baru—bedanya.
Entah hujan akan turun atau tidak meski menyadari telah berada di bulan musim penghujan.
“Siapa tahu…cuaca juga bisa tidak menentu, bukankah seperti itu?”
“Tapi tetap saja tidak ada pengaruhnya untukmu. Kau tetap tidak pergi keluar, Sky.”
Sky duduk di dekat jendela. Menyikap sedikit gorden berwarna kuning yang akan memperlihatkan keadaan luar.
Hiruk-pikuk di tengah teriknya matahari menarik perhatiannya. “Haruskah keluar sebentar saja?”
“Ke mana?”
“Keliling toserba?”
Jemari tangannya bergerak cepat mengambil cardigan lalu melihat potret dirinya yang jauh terlihat berbeda dari biasanya karena terlalu malas untuk berganti pakaian.
Ia memakai crop tee berwarna putih dengan celana longgar berwarna kelabu dan cardigan blue Sky.
“Apa ini berlebihan?”
“Tidak.”
Mengambil tote bag dengan memasukkan payung dan juga botol air mineral. Rambutnya yang mulai panjang dibiarkan terurai.
Langkah kakinya begitu ringan. Meski tak seringan apa yang ada dipikirannya.
Sesampainya di lift telinganya harus mendengar orang-orang yang sedang membual. Begitu kencang.
Earphone yang sudah terpasang di telingaku tetap tidak akan berguna.
Mereka para Ibu-ibu yang tengah membicarakan teman mereka sendiri.
“Bukankah dia akan bercerai?”
“Benar-benar tidak tahu malu…berapa usianya? Bercerai?”
Mulutku rasanya ingin memberi tahunya. Tapi percuma saja orang itu akan berlagak menjadi si maha benar.
Ting!
“Permisi,” ucapku yang akan turun di lantai dasar.
Mereka sama sekali tidak memberiku jalan dan justru melanjutkan ucapan mereka dengan volume yang masih begitu kencang.
Apa mereka tidak akan turun?
Atau hanya berkeliling dengan menggunakan lift dan hanya untuk saling membual?
Wah!
Cara mereka berbicara membuatku merinding. Bukan hanya mulutnya yang komat-kamit tapi juga gesturnya yang begitu mengekspresikan alur topik yang sedang dibicarakan. Sebenarnya tidak masalah tapi mereka tidak peduli dengan sekitar. Gestur yang mereka perlihatkan hampir menyelakai orang lain. Entah itu hampir dipukul atau hampir terdorong…rasanya menjadi was-was berada di dekat mereka.
Terlambat sudah, pintu lift telah tertutup kembali. Naik 2 lantai. Kurasa mereka akan turun di lantai itu.
“Anak mudah zaman sekarang urat malunya sudah putus, apa kau tahu para anak mudah di lantas itu?”
“Benar-benar membuat malu. Aku juga pernah mudah tapi tidak seperti itu.”
“Kau umur berapa?” Ibu dengan rambut pirang tiba-tiba melihat ke arahku yang diikuti juga dengan ibu-ibu yang lainnya.
“Saya?” meski aku tahu tidak ada orang lagi selain para ibu-ibu dan hanya aku.
“Iya, siapa lagi.”
“Saya 18 tahun,” jawabku dengan tersenyum.
Bahkan pintu lift telah terbuka dan tak lama tertutup kembali.
Salah satu dari mereka menekan tombol pada lantai 10.
Lantai 10?
Sebenarnya mereka akan turun di lantai berapa?
Perasaanku jadi tidak enak.
Hanya mengobrol dengan memencet tombol lift atau mereka bukan untuk berniat jahat, kan?
Berniat jahat?
“Kau tinggal sendiri?”
“Iya, saya tinggal sendiri. Maaf Ibu mau turun di lantai berapa?”
“Bukan urusanmu turun di lantai berapa.”
“Iya, itu bukan urusanmu.”
“Hei, kau anak mudah bersikaplah dengan sopan!”
Wah!
Benarkah itu yang kudengar? Bukan urusanmu turun di lantai berapa?
Punya masalah hidup apa mereka? Aku hanya bertanya bahkan dengan sopan.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 10.
“Maaf—Permisi…saya harus turun di lantai ini,” ucapku.
“Ah, kau tidak ikut bersama kami?” raut wajah yang mereka tunjukkan padaku benar-benar menakutkan.
Sial!
Apa ini?
“Maaf!”
Brak!
Bruk!
Sky mengambil ponsel dengan posisi layar ponselnya sudah membuka kamera dan langsung memotret sebelum pintu lift tertutup.
“Apa itu? Apa maksudnya?” Sky menoleh ke kanan dan kiri tidak ada siapa pun.
Mengapa aku selalu dikelilingi orang-orang aneh yang mencurigakan?
Sky turun 2 lantai dengan menggunakan tangan darurat. Lalu memutuskan untuk 1 lantai lagi. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Di lantai 7 ia menekan tombol lift dan tidak ada siapa pun.
Pikirannya belum sepenuhnya tenang karena bisa saja bertemu dengan orang-orang aneh itu.
Detak jantungnya berteriak kencang. Rasa was-was terus mengawasinya. Angka telah menunjukkan angka 3. “Kumohon tetaplah…”
Ting!
Lantai 2.
Sial!
Pemandangan macam apa ini?
Kai dan Rania.
Ketegangan yang terjadi memang berkurang tapi ketegangan itu menjadi porsi yang berbeda.
Sky terdiam dengan menganggap hanya ada dirinya seorang dan fokus pada dirinya sendiri.
Begitu pintu lift terbuka langkah kakiku melangkah.
“Ah, kau sedang mengabaikan kehadiranku dan Kai?” suara Rania di belakangku.
Percuma juga bersuara. Dia akan tetap menganggapku seperti orang bodoh dan dia yang membodohiku.
Aku tidak menghentikan langkah kakiku. Terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
Kehadiran mereka di hadapanku mengingatkanku pada malam tahun baru itu.
Akankah terjadi?
Mereka sama-sama membawa kantung belanja.
Teriknya matahari telah menyengat di permukaan kulitnya.
Langkah kaki di belakangku masih bisa kudengar.
“Aku tak perlu mengantarmu,” suara Kai terdengar di belakang.
Bruk!
Rania menabrak bahu kiriku.
“Sky…”
Aku tidak mempercepat langkah kakiku atau memperlambat bahkan tidak menghentikan langkah kakiku.
Kai berjalan di sebelah sisi kananku. Tanpa berbicara dan terus berjalan begitu saja.
Matahari semakin berjalan tepat di atas kepala. Sky mengambil botol air mineralnya dan meminumnya sambil berjalan.
Tapi…
Kai menghentikan langkah kakinya. Menggenggam jemari tanganku dan berkata, “Duduklah…”
Kai berdiri di hadapanku. Menutupiku dari teriknya matahari.
Kai mendekat—mengancingkan cardigan yang kukenakan.
Tanpa berbicara Kai menggenggam tanganku erat dan kembali berjalan dengan teriknya matahari yang masih menyengat.
...***...