
Wajah bu Sukma seketika langsung berubah pucat.
Dokumen riwayat medis Naya sampai terjatuh dari tangan nya.
Sementara Sanum dan Nur masih terdiam tak bisa berkata apa apa.
Bahkan Lidia, mulut nya menganga begitu lama, mata nya tak berkedip sedikitpun.
"Sudah jelas bukan ...??, jadi, saya bingung ketika ibu mengatakan bahwa Naya masih ada sampai sekarang..., mungkin Naya yang kalian maksud adalah Naya yang lain", ucap dokter Marlin menjelaskan kenyataan yang ada.
"Ta, ta...., tapi..., dia......di, dia....", ucap bu Sukma terbata bata sambil beberapa kali menepuk kedua pipi nya.
"Apa mata ku sudah rusak..??, tapi kamu juga melihat nya kan Sanum...??", seru Lidia heran.
"Apa maksud nya ini Nur ...!!", ucap lirih Sanum memandang ke arah Nur yang juga masih nampak syok.
"Memang benar kata ibu..!!, dalam catatan itu, Naya mengalami luka yang sangat parah, sehingga ada pendarahan di otak nya, saat ia sampai ke sini, dia sudah di nyatakan meninggal saat itu, jadi mustahil itu Naya yang sama yang kalian ceritakan masih hidup sampai sekarang", ucap dokter Marlin mengatakan kenyataan berdasarkan riwayat medis Naya 10 tahun silam.
"Apakah mungkin dia ke rumah sakit lain dan mencangkok otak baru Marlin..??", seru bu Sukma masih tak mempercayai bahwa Naya yang ia lihat bukan Naya yang sama yang ikut bekerja dengan ibu nya saat ia masih kecil dulu.
"Tidak ada yang nama nya cangkok otak buk, bahkan jika ada, peralatan di kota ini belum memadai, dan satu lagi..., tempurung nya sudah retak saat kecelakaan itu, jadi mustahil ia masih hidup", ucap dokter Marlin membuat Lidia merasa mual.
"Retak ma...!!, seru Lidia ketakutan.
Beberapa saat kemudian.
Mereka nampak berjalan keluar dari rumah sakit dengan keheningan masing masing.
Otak mereka saling berfikir keras mencerna kenyataan yang telah mereka dapat hari ini.
"Mama yang sebagai seorang guru, hari ini merasa sangat bodoh karna hal ini..!!", ucap bu Sukma berjalan lesu masuk ke mobil nya di ikuti oleh Sanum, Nur dan Lidia.
Di sepanjang perjalanan pulang, tak ada percakapan apapun di antara mereka.
Mereka terus memikirkan, siapa itu Naya...??, dan apa yang terjadi pada nya setelah dokter menyatakan bahwa Naya telah meninggal 10 tahun lalu.
Tak terasa, mobil bu Sukma telah berhenti di depan rumah Sanum.
"Ini gak bisa di biarin..!!, bisa gila aku..!!", seru bu Sukma kembali melajukan mobil nya tanpa memberi kesempatan untuk Sanum turun dari mobil nya.
Ia terus melajukan mobil nya sampai tepat berhenti di sebrang jalan rumah Naya.
"Dia masih ada di luar..!!, aku harus tanya dia langung..!!", seru bu Sukma melirik jam tangan nya.
"Tante mau ngapain...??", tanya Sanum menghentikan bu Sukma.
Sanum, Nur dan Lidia hanya mengikuti dan melihat apa yang sebenar nya ingin bu Sukma lakukan.
Kini bu Sukma telah berdiri di hadapan Naya.
Bu Sukma mencoba menarik nafas dan bersikap santai agar Naya tak terusik.
"Sayang...??, Naya..??, masih ingat tante gak...??", tanya bu Sukma mencoba berinteraksi dengan Naya yang sama sekali tak mau menatap nya.
Lalu bu Sukma mengingat satu hal, ia kemudian mencoba menyanyikan lagu kesukaan Naya saat dulu sering tidur siang bersama bu Sukma.
Lagu itu membuat Naya menoleh pada nya.
Saat itu juga, mbak Fara tiba tiba keluar dari rumah dan langsung memarahi bu Sukma.
"Sudah aku bilang..!!, jangan ganggu anak ku...!!, dia sedang sakit...!!", teriak mbak Fara histeris dan mencoba mengusir bu Sukma serta Sanum dan Lidia.
Saat ia mencoba mendorong Sanum, tangan nya terhenti dan memilih menghindar dari Sanum, ia seakan merasa tak suka atau bahkan merasa takut akan kehadiran Sanum di sekitar nya.
"Heh Fara...!!, sebenar nya kamu apakan anak kamu ini...??", seru bu Sukma tak terima dengan sikap mbak Fara pada nya.
"Bukan urusan ibuk..!!", teriak mbak Fara seperti orang kesetanan.
Di tengah pertengkaran mereka.
Tiba tiba Naya mengucapkan sepatah kata pertama nya setelah 10 tahun lama nya ia bungkam.
"Tolong..", ucap lirih Naya sembari meneteskan air mata.
Membuat mbak Fara merasa bahagia dan juga takut.
Ia bahagia karna anak nya sudah mau berbicara lagi.
Dan ia juga takut karna kata yang ia ucapkan ialah tolong, terlebih di hadapan bu Sukma dan yang lain nya.
"Naya...??", seru bu Sukma mencoba mendekati Naya lagi.
Tapi tangan nya segera di tepis oleh mbak Fara.
Dan dengan cepat, ia membawa Naya masuk ke dalam rumah mereka.
"Antara nyata dan tidak", ucap Nur membuat Sanum kembali mencerna apa yang telah terjadi pada Naya sebenar nya.
Kenapa juga mbak Fara seakan risih melihat kehadiran ku di sini...??, apakah ada hubungan nya dengan kemiripan ku dengan wajah Naya...??, gumam Sanum dalam hati pergi meninggalkan rumah itu sekali lagi dengan tangan kosong.