
Selama perjalanan bisnis, Zivana nampak murung tak seperti biasanya.
Ia terus memikirkan perkataan Sanum dan nasehat dari sang ibu.
Mungkin perkataan Sanum dan mami benar, nyatanya sudah 5 tahun ini pencarianku sia sia, gumam Zivana dalam hati.
Tiba tiba lamunanya terbuyarkan saat ia menatap keluar dari kaca mobil.
Sontak ia nampak terkejut dan segera bergegas untuk turun.
"Berhenti mas...!!", seru Zivana membuat Marsel seketika menginjak rem karna terkejut akan seruan dari sang istri yang sangat tiba tiba.
"Astagfirullah..!!", seru Marsel menatap aneh Zivana yang langsung turun dari mobil dan bergegas berlari seakan mengejar sesuatu ketika mobil mereka berhenti.
Zivana terus berlari tak tentu arah.
Seakan ia mengejar sesuatu yang orang lain bahkan tak melihatnya.
"Awas mobil sayang...!!", seru Marsel mencoba mengejar Zivana yang terus berlari tanpa henti.
"Tunggu...!!", seru Zivana seketika berhenti berlari dengan nafas yang kembang kempis.
"Bagaimana dia bisa melihatku..??", seru Fitri menghentikan langkah kakinya.
"Kamu Fitri kan...??", seru Zivana terbata bata sambil mencoba menstabilkan nafasnya.
"Bagaimana kamu bisa melihatku tanpa seizinku..??", seru Fitri heran, pasalnya terakhir kali keluaga Zivana bisa melihatnya itu karna memang Fitri membuat dirinya nampak dihadapan mereka.
"Itu tak penting, bukan kamu saja yang bisa memutuskan semua itu", seru Zivana merasa dirinya beruntung bisa melihat mereka.
"Kenapa kau mengejarku...??", ketus Fitri.
"Dimana Nur..??", seru Zivana mencoba mendekati Fitri.
Sebelum Fitri sempat menjawab.
Rain tiba tiba muncul di belakang Fitri.
"Fit .....!!, bukannya itu bundanya Nur..??", seru Rain mencoba mendekati dan mengitari Zivana.
Ia tak tau jika Zivana yang sekarang bisa melihat kaum mereka.
"Dia masih cantik seperti dulu ya..., emmmmmm, kalau aku hidup bakal aku cari calon istri kayak dia", seru Rain berdiri di hadapan Zivana.
Melihat tatapan mata Zivana yang mengarah kepadanya.
Rain terkejut dan mulai mundur perlahan.
"Fit....., dia kok kayak bisa liat aku ya...??", ucap lirih Rain di telinga Fitri.
"Hantu begooo......!!", seru Fitri menarik kuping Rain.
"Aduhhh, duh...!!, serius nanyaaaaaa fitriiii..!!", seru Rain mengusap telinganya.
"Masih gak nyadar...!!, dia itu emang bisa liat kita...!!", ucap Fitri kesal.
"Apa untungnya...??", seru Fitri makin kesal.
Sementara Rain dan Fitri berdebat.
Marsel kebingungan melihat istrinya berdiri diam di tepi jalan seakan ia sedang menatap sesuatu.
"Ayo kita pulang", ucap Marsel lembut menarik tangan Zivana.
"Tunggu mas...!!, Fitri harus jawab dimana Nur ..!!", seru Zivana membuat pertengkaran antara Fitri dan Rain berhenti, dan membuat Marsel juga terkejut.
"Apa yang kamu bicarakan..??", tanya Marsel heran.
"Iyaaa..!!, disini ada Fitri sama Rain temannya Nur mas, mereka pasti tau dimana Nur", seru Zivana penuh harap.
"Sayang...!!, kita sudah sepakat gak akan bahas masalah ini lagi", ucap Marsel mencoba memberi pengertian pada sang istri.
"Maaf mas, aku sudah coba semampuku", ucap Zivana tak mampu menahan air matanya, yang membuat Marsel tak tega melihatnya.
"Okey....!!, jika kamu melihat mereka, kenapa aku tidak...??", seru Marsel makin heran.
Zivana hanya diam menatap sang suami.
Jika mas Marsel tau yang ku lakukan, pasti dia akan marah, gumam Zivana dalam hati.
"Itu tak penting mas", ucap Zivana terbata bata.
"Itu penting buatku...!!", seru Marsel tegas.
Di saat Zivana dan Marsel berdebat akan kemampuan Zivana yang bisa melihat Fitri dan Rain.
Fitri dan Rain mencoba kabur dan menghilang dari tempat itu.
Zivana yang mengetahuinya mencoba menghentikan niat mereka.
"Jangan...!!, tunggu...!!", teriak Zivana semakin membuat para pengendara lain yang berlalu lalang menjadi penasaran akan tingkah Zivana yang aneh.
Tapi nampaknya usahanya sia sia.
Fitri dan Rain menghilang tanpa bisa dicegah oleh Zivana.
"Sudahlah..!!", seru Marsel kesal.
"Ini semua gara gara kamu mas...!!, aku kehilangan mereka gara gara kamu..!!", seru Zivana menangis dan berlari menuju mobilnya.
Tanpa mereka ketahui, dari kejauhan.
Nur menyaksikan Ayah dan Bundanya setelah sekian lama mereka berpisah.
Ia ingin sekali mendekat, tapi seketika ia mengurungkan semua niatnya.
"Lebih baik jika kalian melupakanku", ucap Nur menghilang meninggalkan Zivana yang sedang terpukul karna kehilangan harapan untuk mendapat sebuah petunjuk di mana Nur kini berada.