Nur

Nur
Gara gara mumi.



"Bunda tinggal dulu ya", ucap Zivana sambil membereskan piring kotor di meja makan.


"Iya bunda", ucap Sanum membereskan kursi yang ada.


"Kamu senang....??", seru Nur mendekati Sanum.


"Pastinya dong, hahh....!!, akhirnya aku bisa makan enak", ucap Sanum sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Sekarang ikut aku yuk...!!", ucap Nur sambil berjalan menuju ke arah taman belakang rumah.


"Kemana...??", tanya Sanum tapi tak mendapat jawaban dari Nur.


Ketika Sanum mengikuti Nur, Zivana kebetulan melihatnya dan langsung penasaran di buatnya.


Ia mengikuti entah kemana kedua anaknya akan pergi.


Tiba tiba Nur menembus masuk ke pintu gudang peralatan berkebun.


Sanum tanpa berfikir dahulu, terus melangkah mengikuti Nur.


Brukkkk...!!!


"Aduh...!!", seru Sanum mengelus dahinya.


"Astaga", ucap lirih Zivana dari kejauhan sambil menepuk jidatnya.


"Mana bisa aku nembus pintu kayak dulu", ucap Sanum merasa malu dengan dirinya sendiri.


Lalu Sanum membuka pintu di depannya dan masuk ke dalam gudang, ia terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya.


Terlihat Rain sudah sangat lemah di pangkuan Fitri.


"Rain....??, badanmu...??", seru Sanum terkejut melihat Rain yang kehilangan sinar tubuhnya.


"Hai Sanum...., aku ikut senang kamu sudah jadi manusia lagi", ucap Rain sambil meringis kesakitan.


"Rain terus melemah sejak ia diserang oleh mami Morra waktu itu", ucap Fitri.


"Lalu kita harus apa ..??", ucap Nur.


"Rain hanya minta satu hal pada kita, semayamkan ayahnya", ucap Sanum memandang ke arah mumi di pojok ruangan.


Tiba tiba pintu gudang terbuka.


Zivana terkejut dan menahan jeritannya saat melihat mumi di ruangan itu.


"Ada apa ini anak anak...??, jangan melakukan hal hal aneh lagi...!!", seru Zivana mengejutkan Sanum beserta yang lainnya.


"Kita gak ngapa ngapain kok bunda", ucap Nur menenangkan Zivana.


"Kita hanya coba bantu Rain", ucap Sanum.


"Kenapa dia lemas seperti itu...??", seru Zivana memberanikan diri menghampiri Rain dengan terus waspada pada mumi di depannya.


"Dia di serang mami Morra", ucap Fitri.


"Apa tidak bisa kita obati dia..??", ucap Zivana membuat yang lain saling pandang.


Melihat raut wajah mereka Zivana menyadari bahwa idenya itu memang terdengar konyol.


"Oh ya, kalian roh ya..., maaf, maaf", ucap Zivana merasa malu.


"Rain hanya ingin kita menguburkan ayahnya secara layak", ucap Sanum.


"Memang di mana ayahnya..??, biar bunda bantu", ucap Zivana.


Nur dan yang lainnya pun kompak menatap ke arah almari kaca tempat mumi ayah Rain berada.


"Jangan bilang....", seru Zivana syok menebak apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.


Mereka bertiga hanya mengangguk, membuat Zivana makin syok dibuatnya.


Dalam bayangannya pun sempat terlintas, ia dan anak anak menguburkannya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain, mengingat kondisi ayah Rain yang sudah sedemikian rupa.


Nyangkul aja gak bisa..!!, gimana sih kamu Zivana...!!, gumam Zivana dalam hati.


"Tenang......", ucap Zivana sambil menarik nafas dalam dalam.


"Gimana bunda..??", seru Sanum tak tega melihat Rain terus kesakitan.


"Biar bunda coba beritahukan sama ayah dulu ya, kalian jaga Rain", ucap Zivana berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


Tak berapa lama kemudian.


Nampak bu Sara duduk terdiam dengan mulut menganga, beserta Marsel yang masih nampak syok di ruang keluarga.


"Itu mustahil Zivana...!!", sontak bu Sara memijat kepalanya yang terasa pusing seakan habis terkena benturan keras.


"Tapi itu memang adanya mi....", seru Zivana terus mencoba meyakinkan suami dan maminya.


"Tapi sayang, siapa yang bisa mengawetkan orang di jaman modern seperti ini..??", seru Marsel masih tak percaya dengan cerita Zivana.


"Kau ingat mami Morra, dialah biang dari semua ini", ucap Zivana merasa kesal mengingat wajah mami Morra.


"Jika itu benar, lalu kita harus apa...??", seru bu Sara.


"Kita harus makamkan dia mi, biar dia bisa istirahat dengan tenang", ucap Zivana.


"Ngeri ah...", ucap bu Sara merinding.


"Mas...??", seru Zivana terus berusaha agar mereka setuju.


"Kita lihat dulu aja ya mi", ucap Marsel bangkit dari tempat duduknya.


Tiba tiba dari arah belakang.


Sanum sudah datang membawa mumi ayah Rain.


"Gak usah capek capek yah, nih kita udah bawa ayah Rain", Seru Sanum membuat syok Marsel dan bu Sara yang baru pertama kalinya melihat sebuah mumi langsung dihadapannya dengan kondisi melayang pula.


"Astaga....", ucap bu Sara mencoba menghilangkangkan rasa takutnya akan mumi yang tengah melayang dan mulai mendekatinya.


Padahal kenyataannya, almari mumi itu tidak melayang dengan sendirinya.


Ada Nur dan Fitri yang berusaha keras mengangkatnya dan membawanya ke hadapan semuanya.


"Ya ampun Nur, gak kuat lagi nih", ucap Fitri merasakan tulang tangannya mulai bergeser akhibat menahan beban yang begitu berat.


"Tahan Fit, kita taruh pelan pelan", ucap Nur.


Tetapi tangan Fitri sudah tak bisa menopangnya lagi, tangannya putus dan membuat almari itu jatuh menggebrak lantai.


Bunyinya membuat bu Sara dan Marsel lebih ketakutan lagi.


"Itu almari kenapa sih....!!", seru bu Sara segera meringkuk ketakutan di bawah meja.


Sedangkan Marsel dengan sigap bersembunyi di belakang Zivana.


Hanya Zivana yang tak ketakutan, karna apa yang ia lihat tidak seperti yang terlihat oleh Marsel dan bu Sara.


"Udah gpp, itu cuma Nur sama Fitri kok", ucap Zivana mencoba menenangkan Marsel dan bu Sara.


"Kalian bawa ke gudang lagi gih, ayah akan bantu urus pemakamannya besok, ayah janji...!!", ucap Marsel berusaha mencuri pandang pada mumi di hadapannya walaupun ia merasa ketakutan.


"Yes....!!, makasih ayah, bunda, nenek", ucap Sanum dengan santainya lalu pergi dari ruang keluarga.


"Main yes aja...!!, kita lagi kan yang berat", ketus Fitri mengangkat kembali mumi ayah Rain bersamaan dengan Nur kembali ke gudang taman.


Nampak bu Sara dan Marsel bernafas lega karna mumi itu telah pergi dari hadapan mereka.


"Ya ampun, gara gara mumi..!!, bisa berhenti jantung mami....!!, untung malaikat maut gak liat", ucap bu Sara sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya.