
Sejak kedatangan Mami Morra ke kediaman Zivana, Nur merasa ada sesuatu yang terus mengawasinya.
Sudah berhari hari Nur merasakannya, tapi ia tak menemukan apa apa.
"Hujan pergilah, datanglah lain hari...", nyanyian Nur tiba tiba terhenti ketika sekilas ia melihat bayangan berlari kencang di belakangnya.
Siapa itu...??, gak mungkin manusia bisa lari secepat itu..??, gumam Nur dalam hati dan terus melanjutkan nyanyiannya.
Tiba tiba bayangan itu melintas lagi.
"Siapa itu..??", seru Nur dengan wajah marah.
Terlihat sepasang mata mengintipnya dari balik almari Sanum.
Nur menghampirinya dan dengan kibasan tangannya, almari itu langsung terbuka dengan sendirinya.
Kosong..!!.
Itulah yang ada di hadapan Nur saat itu, selain baju milik Sanum, ia tak melihat siapapun di sana.
Nur membalikkan badan dan berjalan menuju pintu kamar.
Tiba tiba dengan cepat ia kembali menghadap ke arah lemari.
"Kena kau...!!", seru Nur menatap tajam seorang anak laki laki yang meringkuk ketakutan di dalam almari.
Nur memandanginya, ia bukan seorang manusia.
Melainkan sebuah roh seperti Nur.
"Siapa kamu..!!", seru Nur menarik paksa anak laki laki itu untuk keluar dari almari.
Anak itu hanya memandang takut ke arah Nur.
"Halllah....!!, kita itu sama sama roh, hantu..!!, gak usah berlagak kamu sedang lihat apa..!!", seru Nur membuat anak laki laki itu mencoba untuk memberanikan diri menatap Nur.
"Siapa kamu...??", seru anak laki laki itu.
"Aku emang hantu, tapi aku juga gak bego bego amat ..!!, yang nyasar kesini kamu, kok kamu yang tanya aku...!!, harusnya aku dong yang tanya..!!, kamu itu siapa...??", ketus Nur mengelilingi anak lelaki itu dengan melayang layang di sekelilingnya.
"Aku Rain", ucap Rain singkat.
"Lalu...?? kenapa kamu bisa ada di rumahku..??", ucap Nur heran.
"Aku terlempar keluar dari kalung saat mami Morra menakutimu", ucap Rain menjelaskan kenapa ia bisa ada di sana.
Nur pun terkejut.
Ia lalu mengingat sebuah cahaya yang keluar dari kalung itu,
Mungkin itu sebuah portal sehingga Rain bisa terpental keluar dari kalung itu.
"Kamu selama ini di dalam kalung..??", seru Nur tak percaya.
"Ya...!!, mami Morra mengurungku beserta yang lainnya di sana", ucap Rain memandang ke arah jendela dan memperhatikan hujan yang sedang turun, lalu tiba tiba ia tersenyum.
"Kenapa kamu bisa ada di dalam kalung..??", seru Nur tak memperhatikan bahwa Rain sedang menikmati turunnya hujan dihadapannya.
"Dan apa cairan merah di dalam kalung itu..??", tanya Nur penasaran, tetapi agaknya pertanyaan Nur sudah tak diperhatikan lagi oleh Rain.
Ia menghilang dan muncul di luar kamar menikmati guyuran hujan.
Nur yang masih ingin tau lebih banyak tentang Rain, menghilang lalu muncul di sampingnya.
"Kamu suka hujan..??", seru Nur.
"Sangat suka, sudah lama aku tak melihat dan merasakannya", ucap Rain terus bermain dengan air hujan.
Nur yang juga baru pertama kali diguyur hujan pun merasakan keasyikan yang tengah dirasakan oleh Rain saat itu.
Mereka bahkan bermain bersama seakan mereka telah kenal dan berteman cukup lama.
Setelah hujan reda.
Mereka duduk di ayunan taman belakang rumah.
"Kenapa kamu suka hujan..??", tanya Nur.
"Ibuku sangat suka akan hujan, dan ia menamaiku pun Rain yang artinya hujan, hujanlah yang bisa mengingatkanku akan senyuman dan kasih sayang dari ibuku semasa aku hidup", ucap Rain memandang ke arah bintang bintang di langit.
"Bagaimana kamu meninggal..??", tanya Nur penasaran.
"Entah..!!, mereka semua merahasiakannya dariku, yang aku tau, aku terus saja bolak balik ke rumah sakit, dan sering sekali aku melakukan cuci darah, hingga tubuhku tak kuat lagi dan akhirnya aku meninggal", ucap Rain mengusap air matanya.
"Tapi kamu masih beruntung bisa mengenal orang tuamu, kasih sayang nyata dari mereka, tidak sepertiku....", ucap Nur memandang ke arah ruang keluarga tempat Sanum sedang bercengkrama riang dengan Zivana dan Marsel.
"Itu keluargamu..??", tanya Rain.
"Ya...!!", seru Nur.
"Kenapa kamu bisa meninggal..??", tanya Rain.
"Itu yang masih aku cari tau, aku meninggal saat dilahirkan, tapi kenapa aku tertahan di dunia ini..??, mungkin aku harus mencari sebab itu", ucap Nur menatap Rain.
"Jadi teman...??", seru Rain mengulurkan tangannya di hadapan Nur.
Nur yang melihat ketulusan Rain pun membalas senyumannya dan uluran tangannya.
"Teman...!!", seru Nur terus berayun bersama Rain.
"Oh ya, besok aku akan kenalkan kamu dengan teman temanku", ucap Nur terus bercerita tentang Fitri dan roh roh lainnya.
Tiba tiba Zivana melihat ke arah jendela, menatap ke arah ayunan taman belakang rumah mereka.
"Mas..!!, kenapa 2 ayunan itu bergerak bersama..??", tanya Zivana heran, karna biasanya ia hanya melihat satu ayunan saja yang bergerak, itupun Nur lah yang melakukannya.
"Nur kedatangan teman bunda, jadi mereka berayun bersama", ucap Sanum berlari ke arah jendela dan melambai ke arah Nur dan Rain.
Marsel dan Zivana yang terkejut membiarkan semuanya yang telah terjadi.
"Biarkan, dia juga punya hidupnya sendiri", ucap Marsel membuat Zivana mengerti bahwa Nur juga butuh berinteraksi dengan sesamanya.