Nur

Nur
Berbagi Raga



Sejak Rain pergi, Nur terlihat tak selincah biasanya.


Bahkan Fitri pun jarang sekali datang dan bermain bersama Nur dan Sanum lagi.


Sanum yang melihatnya juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang Nur rasakan.


"Nur...!!!", seru Sanum duduk di ayunan mendekati Nur.


Nur hanya menunduk dan terus berayun.


"Aku juga sedih kehilangan Rain, dia juga temanku", ucap Sanum menatap pepohonan yang bergoyang diterpa angin.


Mendengar itu, seketika Nur menghentikan ayunannya.


Ia tatap satu satunya saudara yang ia miliki.


"Benarkah ....??", tanya Nur tak menyangka bahwa Sanum memiliki empati untuk roh roh seperti dirinya itu.


"Mengapa tidak..??, aku senang sekali saat bermain bersama kalian, begitupun dengan Fitri", ucap Sanum membuat Fitri muncul di sampingnya.


"Sanum suka Fitri...??", seru Fitri gembira.


"Kita kan teman...!!", seru Sanum tersenyum dan mengulurkan jari kelingking persahabatan mereka.


"Tapi....., orang tuamu tak akan suka Sanum", ucap Fitri mendekat ke arah Nur yang sealam denganya dan meragukan pertemanan yang ditawarkan Sanum saat itu.


"Jika aku bisa memilih, aku tak akan meminta untuk dilahirkan selamat sedangkan saudaraku tidak, aku akan memilih meninggal bersamanya", ucap Sanum membuat Nur meneteskan air matanya.


Nur dan Fitri pun memeluk Sanum.


Baru kali ini mereka memiliki seorang teman manusia yang bisa memahami mereka terutama bagi Fitri sendiri.


"Kita pasti bisa menolong Rain", ucap Sanum tersenyum.


"Bagaiamana caranya..??", tanya Fitri kehabisan akal.


"Kami tak berdaya Sanum..!!", seru Nur merasa itu sangat mustahil untuk dilakukan.


"Nur bisa manfaatin tubuhku", seru Sanum memegang tangan Fitri dan Nur.


Nur dan Fitri lantas saling berpandangan.


"Bunda dan ayah sudah melarangku untuk itu", ucap Nur melepas tangan Sanum dari tangannya.


"Aku saja tak keberatan, dan yang terpenting mereka tak boleh tau tentang semua ini", ucap Sanum mengutarakan rencananya, membuat Fitri dan Nur tersenyum bahagia.


Akhirnya ada harapan bagi mereka untuk menyelamatkan Rain.


Tanpa mereka sadari, Zivana tak sengaja mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan.


Saat ia akan menegur Sanum, langkahnya terhenti.


Anakku sudah besar, niatnya baik, lalu apa alasanku untuk menghentikannya..!!, gumam Zivana terus mendengarkan rencana Sanum yang ia utarakan pada Nur dan Fitri.


Seakan naluri keibuannya ikut berbicara, Zivana tak melarang rencana Sanum kali ini, ia cuma bisa berdoa agar Allah senantiasa melindungi anak anaknya.


Keesokan paginya.


Mereka sudah siap berlatih di halaman belakang rumah.


"Kamu siap Sanum..!!", seru Nur memberi aba aba pada Sanum jika dirinya akan masuk kedalam raga Sanum.


Sanum hanya mengangguk tanda ia setuju.


Sekarang Sanum dan Nur tak ada bedanya lagi.


Mereka sudah bisa menguasai penyatuan antara roh dan tubuh mereka berdua.


Mereka berlatih setiap harinya untuk bisa mengendalikan kemampuan mereka.


Dan selang beberapa hari saja, Nur bisa keluar masuk tubuh Sanum dengan durasi waktu yang cukup lama.


Bahkan Ia juga bisa menggunakan kekuatannya saat ia berada di tubuh Sanum.


Sedangkan kali ini juga, roh Sanum tetap bisa sadar saat roh Nur mendominasi tubuhnya, bahkan Sanum juga bisa merasakan menjadi sebuah roh bebas tanpa raga seperti Nur.


"Aku tak percaya kita bisa", ucap Nur tersenyum pada roh Sanum yang berdiri di hadapannya.


"Kita berhasil", ucap Sanum kegirangan.


Tiba tiba Zivana berjalan mendekati mereka dengan membawa dua gelas susu dan meletakkannya di meja taman.


"Yuk sayang..!!, minum susu dulu", ucap Zivana dengan senyumannya yang mengembang.


"Cobalah duduk dipangkuan bunda", ucap Sanum kepada Nur.


Nur pun menuruti nasehat Sanum.


Nur kemudian duduk di pangkuan Zivana dan meminum susu buatannya sampai habis.


"Lezat sekali bunda", ucap Nur baru pertama kali ini merasakan susu buatan bundanya.


"Siapa dulu dong yang buat", ucap Zivana mendekap anaknya itu, seakan keduanya menikmati kebersamaan mereka kala itu, mereka sama sama terpejam dan merasakan ikatan batin antara ibu dan anak yang belum pernah mereka jalin sebelumnya.


"Aku sayang banget sama bunda", ucap Nur dari dalam raga Sanum.


"Bunda juga sayang banget sama Nur", ucap Zivana membuat Nur dan Sanum terkejut.


"Apa bunda...??", seru Nur beranjak dari pangkuan Zivana.


"Bunda tak salah kan..??, kamu Nur anak bunda", ucap Zivana membuat Nur makin kebingungan.


"Bagaiamana bunda bisa tau..??", ucap Nur ketakutan kalau nantinya Zivana akan marah akan hal itu.


"Bunda gak marah kok, mungkin kalau kamu gak masuk ke tubuh Sanum, bunda gak akan pernah bisa memeluk dan menciummu seperti tadi, Sanum pasti juga senang melihat adiknya bisa dipeluk sama bunda, ya kan...!!", ucap Zivana membuat Nur menangis dan kembali memeluk erat bundanya.


"Bunda gak tau bahagianya Nur saat ini", ucap Nur tersedu sedu di pelukan Zivana.


"Maafin bunda ya Nur, bunda terlalu sering salah mengerti ke kamu, kamu juga anak bunda, bunda sayang sama kamu", ucap Zivana mengusap air matanya.


Sementara Sanum juga ikut bahagia melihat Nur akhirnya bisa merasakan apa yang Sanum rasakan sebagai anak ayah dan bunda.


"Ini pasti gelas susu untuk Sanum ya bunda", ucap Nur mencoba kembali tersenyum.


"Iya...!!, kan tuan putri bunda ada 2", ucap Zivana mencolek hidung Nur.


Seketika Nur saling berpandangan dengan Sanum dan mereka sama sama mengangguk dan tersenyum.


Dalam sekejap, Sanum telah kembali menguasai raganya, dan roh Nur telah berhasil keluar dari raga Sanum.


"Bunda ....!!", seru Sanum memeluk bundanya.


Melihat hal itu, Zivana bisa mengetahui bahwa kali ini Sanum lah yang sedang berada di hadapannya bukan Nur lagi.


"Minum susu sayang..!!", ucap Zivana memberikan segelas susu pada Sanum yang segera diteguk habis oleh Sanum.


"Makasih bunda", ucap Sanum mengecup pipi Zivana.


"Mulai sekarang, bunda akan buatkan 2 gelas susu untuk kalian", ucap Zivana mencium kening Sanum.


"Gemuk dong Sanum nanti", ucap Sanum membuat Nur dan Zivana tertawa.