
Marsel dengan segera menginjak rem mobilnya.
Dengan raut wajah emosi, ia keluar dari mobil dan membawa Zivana ikut serta dengannya.
"Mas...!!, kenapa kita kesini..??, kita sudah di tunggu Sanum dan mami di rumah", ucap Zivana memandangi sang suami yang terus menariknya memasuki area pemakaman.
"Lihatlah di depanmu...!!", seru Marsel melepas genggaman tangannya.
Dipandanginya sebuah makam yang sangat berarti bagi kedua pasangan itu
Yang tak lain ialah makam Nur.
Dengan mata yang mulai basah, Zivana memegang kedua tangan suaminya.
Dan seketika itu juga langsung di tepis oleh Marsel.
"Nur...!!, anak kita...!!, lihatlah makamnya..!!, kenapa kau masih berusaha mencarinya..??", seru Marsel mengguncang bahu Zivana.
"Kamu tau kan Nur masih di dunia ini...??, buktinya tadi aku masih bertemu dengan teman temannya", seru Zivana menunduk.
"Dari mana kamu tau itu..??, bahkan aku saja tak melihat apa apa..!!, hanya kamu yang bertingkah aneh di tepi jalan raya..!!", seru Marsel kesal.
"Tapi mas...!!, aku yakin Nur masih ada di sini, kita berhutang maaf padanya", ucap Zivana mendekati makam sang anak.
"Sadarlah Zivana..!!!, kita sudah menyakitinya berulang kali, kenapa kamu masih mau mencarinya yang hanya akan membuatnya sakit lagi...!!, buang kebimbanganmu itu..!!, lebih baik kita ikhlaskan dia walau berat..", ucap Marsel mencoba menasehati Zivana.
"Bagaimana aku bisa melupakannya..??, aku sudah mencobanya dulu, saat aku harus menerima kenyataan pahit saat ia dilahirkan dalam kondisi meninggal dan aku sudah bersusah payah waktu itu untuk melupakannya, lalu dia muncul dengan semua tingkahnya, dan...!!, kamu mau aku mencoba melupakannya lagi..??, tak semudah itu mas..!!, dia itu darah dagingku, bukan bonek toko yang bisa ku beli lagi", ucap Zivana menangis di pusaran Nur.
"Lalu...??, bagaimana bisa kamu melihat kaum mereka sedangkan aku tidak..??", seru Marsel merasa ada yang di sembunyikan dari dirinya dengan mengulang pertanyaannya lagi.
Zivana hanya terdiam dan sesenggukan menatap batu nisan Nur.
Bagaimana jika ayahmu tau...??, gumam Zivana dalam hati.
Dengan segera, Marsel membuat Zivana berdiri dan menghadapnya.
"Apa ada yang tidak aku ketahui sayang..??", ucap Marsel menatap tajam ke kedua mata Zivana.
"A, aaa, aku...", ucap Zivana terbata bata.
"Aku membuka indra ke enamku mas...!!", seru Zivana sambil membalikkan badannya.
Marsel amat terkejut mendengar pengakuan dari Zivana.
Ia seakan tak percaya, keputusan sebesar itu bisa ia putuskan sendiri tanpa berbicara dulu dengan dirinya.
"Ini bukan kamu...!!", ucap Marsel kecewa dan terduduk di tanah.
"Maaf mas...!!, jika aku meminta izinmu, pasti kata tidak yang kuterima", ucap Zivana sambil berbalik lagi menghadap Marsel dan mencium kedua tangan sang suami sebagai permohonan ampunnya.
"Apakah itu semua adalah alasan sesungguhnya di balik alasanmu kembali bekerja..??", tanya Marsel menerka nerka.
Zivana langsung saja mengangguk dan menangis dihadapan Marsel.
"Aku membuat alasan ingin melupakan Nur jika kembali bekerja hanya untuk menutupi alasanku yang sebenarnya, yaitu mencari keberadaan Nur sekarang", ucap Zivana sesenggukan.
"Astagfirullah...!!", seru Marsel terkejut, ternyata tebakannya benar tentang itu semua.
"Tolong jangan beri tahu yang lain mas, aku mohon...!!, aku sudah terlanjur sejauh ini", ucap Zivana memohon.
Lalu tanpa menjawab sepatah kata pun.
Marsel mencoba mendekap dan memeluk Zivana.
Ia mencium jilbabnya dan seakan mencoba memberitahukan bahwa ia mengabulkan permintaan Zivana.
Sesulit itukah menjadi seorang ibu..??, gumam Marsel dalam hati sambil memandangi makan sang anak.
Marsel lalu teringat, dalam setahun terakhir, tingkah Zivana sangat aneh.
Ia sering ketakutan tanpa sebab di berbagai tempat baru, bahkan di rumahnya sendiri.
Mungkin itulah saat di mana ia mulai membuka indra keenamnya yang ia bicarakan itu.
Ia mencoba beradaptasi dengan kemampuan barunya yang bisa melihat hal hal gaib di sekitarnya.