Nur

Nur
Raga pengganti...1



Dia putri ku...!!....


Naya itu putri ku...!!...


Dan tak ada yang bisa merubah itu....!!...


Gumam mbak Fara dalam hati sembari mondar mandir di dalam rumah nya dan terus memandang sang anak yang tak berekspresi sama sekali.


"Kenapa kembaran Nur bisa sampai ke sini....??", seru mbak Fara gelisah.


"Aku gak menyangka keluarga bayi itu bisa tinggal sangat dekat dengan ku", ucap mbak Fara duduk di sofa dan mencoba mengingat kejadian di masa silam.


Ingatan nya kembali mengingat kelucuan Naya 10 tahun yang lalu.


Anak satu satu nya mbak Fara dengan suami nya Daren.


Lalu ingatan nya beralih cepat di beberapa saat sebelum kecelakaan itu terjadi.


Karna ada pekerjaan kebun yang tidak bisa ditinggalkan.


Mbak Fara mengajak Naya berbelanja ke pasar untuk kebutuhan dapur bu Sukma tanpa di antar sang suami.


Saat ojek yang mereka naiki melintas di sebuah lampu merah.


Tiba tiba rem ojek yang mereka tumpangi tak berfungsi.


Sehingga motor yang mereka tumpangi tertabrak bis yang sedang melintas di persimpangan.


Membuat Naya terpental cukup jauh dari tempat kejadian.


Mbak Fara begitu histeris saat itu.


Tangannya yang patah dan kepala nya yang berdarah tak membatasi nya untuk berlari menuju Naya yang sudah di kerumuni oleh banyak orang.


Ingatan nya kemudian membawa nya ke suasana rumah sakit yang begitu membuat nya frustasi.


Dokter mengatakan, bahwa Naya tidak bisa di selamat kan lagi.


Mbak Fara menjerit kesetanan saat itu.


Suami nya yang waktu itu baru tiba di rumah sakit juga langsung terduduk ke lantai mendengar ucapan dokter yang menyatakan Naya telah meninggal dunia.


Saat mbak Fara masih histeris.


Marsel terlihat melintas di samping mereka dengan panik nya, membawa Zivana yang sedang pingsan dan pendarahan menuju ke ruangan igd untuk di tangani oleh dokter.


Mbak Fara sangat terpukul akan kematian Naya.


Dan karna mereka tak memiliki biaya untuk mengurus jenazah Naya.


Beruntung pihak rumah sakit merasa iba kepada mereka, dan membiarkan mereka pergi tanpa menahan tubuh Naya di sana tanpa mempersoalkan biaya.


Saat itu mereka tak berfikiran akan meminta bantuan siapapun terutama pada bu Sukma.


Fokus mereka hanya kepada Naya dan rasa sakit mereka karna kehilangan nya.


Saat mbak Fara dan suami nya berjalan menuju ke kamar jenazah, rasa nya nyawa mereka ikut melayang saat itu.


Tatapan mereka kosong dan penuh dengan keputusasaan.


Mereka melintasi ruangan tempat Zivana di rawat, dengan berjalan begitu saja melewati Marsel yang sedang tertunduk menangis di depan pintu igd.


Tak lama kemudian.


Setelah Marsel masuk ke ruangan dokter.


Mereka melihat seorang suster keluar dari ruang igd dan mendahului mereka dengan membawa mayat seorang bayi yang telah lahir, mayat itu di tempat kan di sebelah mayat Naya.


Tangisan mbak Fara kembali pecah saat penutup tubuh Naya di buka.


Mbak Fara langsung menggendong nya sembari terisak isak dengan satu tangan di perban, mereka melangkah meninggalkan rumah sakit dengan kenyataan pahit yang ada.


Ingatan mbak Fara lalu membawa nya ke saat dimana Naya di semayamkan.


Bertepatan dengan itu, Marsel pun sedang mengurus pemakaman Nur.


Proses pemakaman Nur sangat berbeda dengan proses pemakaman Naya yang amat sederhana.


Saat itu mereka juga tak sengaja mereka mendengar bahwa anak Marsel sebenar nya terlahir kembar, tetapi naas, salah satu dari mereka harus meninggal saat itu.


Setelah para pelayat meninggalkan mereka.


Daren, suami mbak Fara memandang ke arah pekuburan Nur.


Ia lalu menoleh ke batu nisan sang anak.


"Bagaimana jika kita hidupkan kembali Naya anak kita...??", ucap Daren pada istri nya yang masih sesenggukan.


"Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan kembali anak kita", ucap mbak Fara mengusap nisan Naya.


"Kamu ingat ajaran ibu mu tentang ilmu nya..??", ucap Daren.


"Ilmu hitam ..??, kebangkitan kembali...??, bagaimana mungkin...??, tubuh Naya sudah tak sanggup untuk bertahan, tempurung kepalanya sudah retak", seru mbak Fara kembali menangis.


"Bagaiman kalau kita ambil raga yang sudah tak bernyawa...??", ucap sang suami mengutarakan ide nya.