Nur

Nur
Jangan buat Nur marah.



"Assalammualaikum yank...!!, coba lihat siapa yang datang..!!", seru Marsel saat pulang dari kantor.


"Walaikumsalam mas, siapa Mas...??", seru Zivana yang sedang asyik bermain dengan Sanum dan juga Nur.


"Mami datang", ucap Marsel tersenyum bahagia.


"Mami...??", seru Zivana seakan bermimpi.


"Iya...!!!, apa gak boleh..??", ketus mami memasuki rumah dan segera duduk di sofa.


"Ya boleh dong mi", seru Zivana mengulurkan tangannya.


Tapi lagi lagi tak di hiraukan oleh bu Rukmi, sementara ia melewati Zivana begitu saja.


"Sabar..!!, sudah lama mami tak kemari", bisik Marsel pada Zivana.


Zivana hanya mengangguk dan mencoba tersenyum di depan suaminya.


Menghargai bahwa bu Rukmi masih ibu dari suaminya.


"Mi..!!, ini Sanum, dia sudah 3 tahun bulan ini", ucap Zivana memperkenalkan Sanum pada bu Rukmi.


"Mami tau lah..!!, siapa lagi anak di rumah ini selain Sanum", seru bu Rukmi membuat Nur menatap tajam ke arah Sekar yang sedari tadi menemani mereka bermain.


"Nyonya...!!", seru Sekar melirik ke arah Nur membuat Zivana tau jika Nur sedikit tak suka dengan perkataan neneknya.


"Ada Nur juga mi", ucap Zivana membuat bu Rukmi dan Marsel terkejut.


"Apa maksudmu..??", seru bu Rukmi tak mengerti.


"Maksudnya anak kami kan kembar, jadi meskipun dia sudah tak ada kami tetap menganggapnya ada di sini", ucap Zivana mencari alasan yang masuk akal.


Mendengar ucapan Zivana, Nur tersenyum dan memandang ke arah Sekar lagi.


Menandakan bahwa ia merasa dihargai berada di sana.


"Emang udah gila kamu.!!", ketus bu Rukmi membuat senyuman Nur memudar.


Nur sudah mulai kehilangan kesabarannya, wajahnya sudah terlihat tak bersahabat.


Sekar yang melihatnya mencoba memberi isyarat pada Nur dengan menggelengkan kepalanya, agar Nur tidak berulah di depan neneknya.


"Trus dia siapa..!!", seru bu Rukmi memandangi Sekar dengan tatapan menghina.


"Dia baby sister kami mi", ucap Marsel memperkenalkan Sekar.


"Kampungan...!!, cari yang bagusan dikit napa..!!", seru bu Rukmi tak menghiraukan Sekar yang mendekatinya.


Bu Rukmi malah menjauh dan berjalan ke arah kamarnya.


"Maaf ya Sekar, mami memang seperti itu", ucap Zivana mencoba meminta kemakluman dari Sekar.


"Gpp nyonya", ucap Sekar membawa Sanum ke kamarnya, sedangkan Nur entah telah menghilang kemana.


"Zivana...!!, bawain tas mami..!!", seru bu Rukmi dari kejauhan.


"Iya mi..!!", seru Zivana mengambil tas mertuanya dan membawanya ke kamar.


Beberapa saat kemudian.


Nur telah berpindah tempat ke sebuah panti asuhan.


Nampak beberapa anak yang bernasib seperti Nur sedang bermain di taman bersama anak anak panti yang masih hidup.


Mereka memiliki teman masing masing, tapi sama halnya seperti Nur, hanya orang orang tertentu saja dan beberapa anak lah yang bisa melihat dan berinteraksi dengan mereka.


"Kalian tak bosan di sini..??", ucap Nur menghampiri teman temannya.


"Sangat bosan...!!", keluh mereka.


"Apakah diantara kalian bisa menampakkan diri..??", ucap Nur.


"Kita bisa, tapi waktunya singkat, biasanya kami gunakan saat ingin menjaili manusia", ucap seorang roh anak laki laki.


"Kalian juga sudah cukup untuk membuat orang yang melihat wujud kalian lari terbirit birit, dan sisanya biar kami yang urus", ucap Nur tersenyum.


"Ayo kita senang senang..!!", seru seorang roh anak perempuan.


______


"Tidur aja ah...!!", ucap bu Rukmi bersiap untuk tidur dan melepas kaca matanya.


Tiba tiba ac di kamarnya menjadi panas.


"Panas banget sih..!!", seru bu Rukmi kembali bangun dan meraba remot ac di sampingnya.


"Nah gini kan enak..!", ucap bu Rukmi kembali tidur.


Tapi hal itu pun terulang kembali.


"Ya ampun...!!, gak punya duit apa ya Marsel..!!, kamar maminya di kasih ac rusak, bener bener deh..!!", seru bu Rukmi kesal.


Bu Rukmi meraba laci dimana ia meletakkan kaca matanya.


Nur dengan segera mengambilnya dan menyuruh seorang roh lain menggebrak jendela.


"Astaga..!!, apa itu..??, Marsel...!!", teriak bu Rukmi ketakutan, sembari pandangannya kabur tanpa kaca matanya.


Lalu seorang roh laki laki menarik selimut bu Rukmi hingga melayang di udara.


Mereka melakukan tugasnya masing masing.


Memecahkan vas bunga, membuat suara menakutkan, dan menahan pintu agar bu Rukmi tak bisa keluar.


"Ya ampun...!!, tolong...!!", teriak bu Rukmi ketakutan sambil membuka pintu kamar yang seakan terkunci dari luar.


"Zivana..!!, pasti ini kerjaan kamu ya...!!", seru bu Rukmi marah bercampur ketakutan.


Lalu Nur mengembalikan kaca mata bu Rukmi di lacinya.


Bu rukmi yang samar samar melihat sebuah kaca mata miliknya langsung bergegas mendekat dan memakainya.


Ia terkejut melihat isi kamarnya yang berantakan dan beberapa barang melayang tak wajar di udara.


Saat itu juga Nur memberi kode kepada sepasang roh laki laki untuk menampakkan dirinya di hadapan bu Rukmi.


Mereka memakai wujud yang terseram yang mereka bisa.


Aksi mereka berhasil membuat bu Rukmi ketakutan bukan main.


Dengan bersusah payah membuka pintu kamar.


Bu Rukmi lari terbirit birit menuju ke ruang keluarga.


Sampai ia menabrak Sekar yang sedang mengambil susu untuk Sanum.


"Masyaallah..!!, kenapa nyonya..??", seru Sekar mencoba menenangkan bu Rukmi.


"Ada setan...!!", seru bu Rukmi berlari kembali sampai berada di depan kamar Marsel dan Zivana.


Sementara Sekar yang penasaran mencoba mencari keberadaan Nur.


Jika firasatku benar, ialah yang membuat kekacauan ini, gumam Sekar dalam hati sambil bergegas masuk ke dalam kamar Sanum.


"Nur...!!", seru Sekar masuk ke kamar Sanum.


Dan seketika ia melihat Sanum dan Nur sedang asyik bermain bersama.


Sekar mendekati Sanum dan mencoba bertanya padanya.


"Sanum...!!, apakah dari tadi adik Nur ada di sini bersamamu..??", tanya Sekar memegang kedua bahu Sanum dan menatap matanya.


"Iya mbak, dari tadi Nur disini", ucap Sanum kembali bermain.


"Sanum yakin..!!", ucap Sekar masih ragu.


"Iya mbak....!!, itu susu Sanum kan..??, aku minum ya, makasih mbak", ucap Sanum meneguk susunya sampai habis tak tersisa.


Sekar memandangi Nur dengan penuh kecurigaan, sedangkan Nur berlagak sibuk dengan mainannya.


"Ya udah, Sanum tidur dulu ya, mbak mau keluar sebentar", ucap Sekar keluar dari kamar Sanum.


Nur pun tersenyum pada Sanum.


"Kakak memang yang terbaik", ucap Nur menghilang dari pandangan Sanum.


Di depan kamar Zivana, bu Rukmi mengetuk pintu dengan amat kerasnya.


Sehingga Zivana dan Marsel bergegas bangun dan membuka pintu kamar mereka.


"Marsel...!!", teriak bu Rukmi ketakutan.


"Ada apa mi..??", seri Zivana melihat bu Rukmi sangat ketakutan.


"Mami mau pulang..!!!, sekarang..!!", seru bu Rukmi menarik narik tangan Marsel.


"Emang ada apa mi..??", seru Marsel bingung.


"Banyak hantu dirumahmu..!!", seru bu Rukmi memandangi kesekeliling rumah.


"Gak ada hantu di sini mi..!!", ucap Zivana menenangkan Bu Rukmi.


"Kamu boong..!!, pasti ini kerjaan kamu kan..!, kamu yang suruh hantu hantu itu nakutin saya..!!", seru bu Rukmi marah.


"Mi..!!, Zivana gak tau apa apa..!!", seru Marsel membawa bu Rukmi menjauh dari Zivana.


"Ehh tunggu Sekar...!!, kamu dengar kan ucapan mertua saya..??, apa itu semua perbuatan Nur..??", tanya Zivana saat melihat Sekar melintas di depannya.


"Saya pikir juga begitu nyonya, tapi setelah saya cek, bukan Nur pelakunya", ucap Sekar membuat Zivana lega.


"Syukurlah..!!, mungkin mami cuma berhalusinasi", ucap Zivana berjalan mengikuti suami dan mertuanya ke arah teras depan.


"Emang dasar istri kamu gak suka sama Mami ya..!!", seru bu Rukmi masih terus dengan omelannya.


"Sudahlah mi..!!, ini terus gimana..??, mami mau benaran pulang atau besok aja aku antar..??", ucap Marsel.


"Pokoknya mami gak mau di sini", ucap bu Rukmi sambil memegang lehernya yang merinding.


"Gini aja, mami aku antar ke hotel ya, besok aku antar pulang, okey..!!", ucap Marsel memapah maminya masuk ke dalam mobil dan bergegas meninggalkan rumah menuju hotel.