
Merasa kesal dengan penolakan dari bu Sara, mami Morra sangat murka.
Dengan segera ia melampiaskan kemarahannya, memporak porandakan seisi rumah.
"Arkkkkkkkhhh..!!, kurang aj*r..!!, berani sekali dia menolak tawaran kerjasamaku..!!", teriaknya sampai membuat para tetangga mendengar teriakannya.
Tetangga yang merasa khawatir, akhirnya memutuskan menghubungi pemilik rumah sewa yang di tempati oleh mami Morra.
Beberapa saat kemudian.
Pemilik rumah beserta beberapa warga datang kekediaman mami Morra.
Mereka terkejut saat masuk ke dalam rumah dan melihat seisi rumah yang sudah berantakan.
Dan lebih terkejutnya lagi, saat mereka tak menemukan mami Morra di sana, melainkan seorang nenek nenek yang asing di mata mereka.
"Siapa kamu...??, beraninya merusak rumah saya...!!", seru pemilik rumah berkacak pinggang.
"Saya mami Morra, apakah kamu lupa..??", ucap mami Morra dengan tatapan tajam penuh amarah, membuat semua warga merasa agak merinding dibuatnya.
"Saya itu gak pikun ya...!!, orang mami Morra aja lebih muda dari saya, ngaca dong nek..!!, umurmu aja gak bisa buat nipu kita kita..!!", seru pemilik rumah menunjuk nunjuk mami Morra tanpa rasa takut.
"Jeng, ngeri ah sama dia", bisik seorang tetangga dibelakangnya.
Mendengar itu, mami Morra lebih emosi lagi.
Ia mengebrak lantai dengan tongkatnya hingga membuat rumah itu bergetar.
Semua orang panik, bahkan sang pemilik rumah lari terbirit birit di buatnya bersamaan dengan warga lainnya.
Tapi saat ia sampai di gerbang rumah, ia menghentikan langkahnya.
"Ingat ya nek....!!, pergi dari rumah saya, atau saya panggil polisi..!!", teriak si pemilik rumah lalu kembali berlari meninggalkan rumah itu.
"Dasar manusia jaman sekarang...!!", seru mami Morra menghilang dari sana dalam sekejap mata.
Beberapa saat kemudian.
Ia muncul kembali di kamar Sanum.
"Kamu harus mati..!!", seru mami Morra memandang Sanum yang tengah tidur di ranjangnya.
Saat itu Nur bahkan Sekar sedang tak ada di sisinya.
Membuat mami Morra lebih leluasa mendekati Sanum.
Saat mami Morra ingin mencekik leher Sanum.
Tanpa sengaja ia melihat garis kekebalan di telapak tangan Sanum.
Ia melotot tak percaya melihatnya.
Garis itu...!!, gumam mami Morra tak percaya.
Kemudian, ia mengurungkan niatnya dan memantrai Sanum agar tertidur sangat lelapnya.
Mami Morra mendekap Sanum dan segera menghilang bersamanya.
Beberapa saat kemudian.
Mami Morra dan Sanum muncul kembali di tempat yang berbeda.
Kali ini mereka berada di rumah kuno milik mami Morra.
Nampak Sanum tetap tertidur pulas di ranjang mami Morra.
"Ternyata ada gunanya juga kamu ya..!!", seru mami Morra tertawa dengan kencangnya meninggalkan Sanum yang masih tertidur.
Sementara di kediaman Zivana.
Semuanya sedang panik saat menyadari Sanum telah menghilang.
Bahkan Fitri dan Nur pun ikut terus mencari Sanum di setiap tempat.
Zivana terus menangis histeris di dekapan Marsel.
Kedua orang tua Zivana dan Bu Rukmi pun nampak telah berada di sana.
Berbeda dengan yang lainnya, bu Rukmi nampak biasa saja dan amat tenang.
Ia malah mulai bosan mendengar tangisan Zivana dan memutuskan untuk duduk di meja makan dan menuang segelas air putih.
"Drama...!!", ketus bu Rukmi meneguk air di gelasnya.
Drrrrtt....
Drrrttt..., (telfon bu Rukmi berdering).
"Mami...??, ngapain dia..??", seru bu Rukmi mengangkat panggilan vidio di ponselnya.
Ia terkejut saat melihat wajah seorang nenek di hadapannya.
"Mami....??", seru bu Rukmi tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Jangan berani berani meledek penampilanku..!!", seru mami Morra memperingatkan.
"Iyaa, iyaaa mami, maaf", ucap bu Rukmi ketakutan.
Melihat bu Rukmi asyik dengan ponselnya saat keadaan genting.
Saat ia ingin marah, ia terkejut melihat wajah seorang nenek nenek yang nampak tak asing di hadapannya.
"Oh...!!, jadi kamu biang keroknya...!!", teriak bu Sara membuat bu Rukmi dan yang lainnya terkejut di buatnya.
Mereka semua lalu bergegas mendekat ke arah bu Rukmi dan bu Sara.
"Ada apa mi...??", seru Marsel kebingungan melihat kemarahan di wajah mertuanya.
Melihat mereka semua mendekatinya, bu Rukmi mencoba menyembunyikan ponselnya, tapi tiba tiba...!!!....
"Tunggu...!!, biarkan mereka melihatku...!!", seru mami Morra lantang dari ponsel bu Rukmi.
"Kamu tanya mami mu ini...!!", seru bu Sara menunjuk nunjuk bu Rukmi.
Mendapat perintah dari mami Morra, bu Rukmi seolah ingin menolak, tapi rasa takutnya lebih besar dari pada harga dirinya di hadapan keluarganya.
Dengan terpaksa, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada semuanya.
"Wahh...!!, kebetulan semuanya sedang berkumpul", seru mami Morra menyapa mereka semua.
Membuat mereka semua heran dengan wajah yang nampak tak asing tapi mereka sama sekali tak mengingatnya.
"Emmm, mungkin kalian tak lagi mengenaliku, aku Mami Morra, dan kalian jangan khawatir, dalam waktu dekat aku akan kembali muda dan cantik berkat anak kalian", ucap Mami Morra tertawa terbahak bahak.
Membuat semua yang mendengarnya amat terkejut.
Bahkan bu Rukmi pun ikut terkejut dibuatnya, pasalnya ia tak ada sangkut pautnya dengan menghilangnya Sanum kali ini.
"Sanum...!!, apa maksudmu Sanum..??, kembalikan anakku...!!", teriak Zivana histeris.
Kemudian Sekar dan bu Sara mencoba menenangkannya dengan sekuat tenaga.
Marsel menatap tajam ke arah bu Rukmi.
Melihat tatapan anaknya, ia sudah mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sang anak.
"Mami bersumpah..!!, mami tak ada sangkut pautnya dengan ini", seru bu Rukmi dengan nada meyakinkan.
"Tolong kembalikan anak kami", seru Marsel memohon pada mami Morra.
"Tenang..!!, anak kalian aman di sini", ucap mami Morra menunjukkan Sanum yang masih terlelap di ranjang kamarnya.
"Sanum...!!!", seru Zivana terus saja histeris.
"Tapi....., aku sangat membutuhkan jiwa anakmu", seru mami Morra membuat semuanya histeris dan panik.
"Apa maumu...!!", seru Zivana dengan nada mengancam.
"Aku mau penukaran", ucap mami Morra membuat semuanya saling berpandangan.
"Apa yang kamu mau...??, sebutkan saja..!!", seru Marsel dengan gamblangnya.
Mami Morra pun tertawa.
"Manusia jaman sekarang dan dulu sama saja, pasti dalam pikiran kalian hanya ada uang dan harta", ucap Mami Morra.
"Lalu apa maumu..!!", teriak Marsel sudah kehilangan kesabarannya.
"Aku inginkan Nur..!!", seru mami Morra di dengar oleh Nur dan Fitri yang saat itu tak sengaja muncul di kejauhan.
Fitri terus memandangi Nur.
Sedangkan Nur terbelalak tak percaya akan semua yang ia dengar.
"Aku setuju...!!!", seru Zivana menghapus air matanya dan mencoba untuk kuat.
Perkataan itu sangat membuat Sekar, Marsel dan yang lainnya terkejut.
Bahkan untuk Nur pribadi.
Rasanya dirinya telah hancur saat itu juga.
Ia menangis dalam diam dan terduduk di lantai.
Fitri yang melihatnya sangat tak tega melihatnya.
"Kenapa Bunda...??", seru Nur dalam kekecewaanya.
"Kenapa kamu sangat menginginkan Nur
.??", seru bu Sara.
"Sanum memiliki garis kekebalan di tangannya, otomatis Nur juga memilikinya, akan lebih mudah bagiku menggunakan Nur untuk kepentinganku, dari pada manusia seperti Sanum, ahhh sudahlah...!!, kalian tak akan mengerti...!!, aku tunggu kedatangan kalian..!!", seru mami Morra menutup panggilan vidionya.
Semua nampak menangis, mereka terus memikirkan kedua anak yang sama sama penting keberadaannya.
Sementara Nur terus saja terduduk meratapi nasibnya.
Ia merasa tak beruntung sebagai seorang anak manusia bahkan sejak ia dilahirkan.
Bahkan ia tak beruntung sebagai sebuah roh.
Ia merasa tak ada yang menginginkannya layaknya seorang anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dari semua orang.
Fitri hanya bisa merangkulnya, menemaninya dalam suka dan duka.
Mami jahat...!!, gumam Fitri dalam hati.