Nur

Nur
Musuh yang tak bisa di lawan



"Hai sayang...!!", seru mami Morra telah berada di belakang Sanum.


Seketika badan Sanum berkeringat dingin, nafasnya tak beraturan.


Telfon rumah tak terasa telah terjatuh dari genggaman nya.


Sesaat kemudian, Sanum mencoba mengatasi ketakutannya.


Ia menarik nafas sambil menelan ludah.


Ia berbalik badan menatap mami Morra yang masih berada di raga sang nenek.


Mami Morra tersenyum licik kepada Sanum.


Sanum mencoba mundur dan menjatuhkan sebuah vas bunga.


Berharap sang kakek mendengar keributan yang ia sengaja ciptakan.


"Hahaha, cukup cerdas...!!, tapi tak secerdas diriku...!!", seru Mami Morra tertawa dengan kencangnya.


"Kakek...!!", teriak Sanum berharap sang kakek mendengarnya kali ini.


"Kamu masih tak mengerti ya", ucap Mami Morra mengucapkan sebuah mantra dan memunculkan sebuah patung di sampingnya.


"Apa maksud mu...!!", seru Sanum mencoba untuk lebih berani meskipun ia sendirian.


Seketika Mami Morra membalikkan patung itu sehingga kini patung itu menghadap ke arah Sanum.


Mata Sanum terbelalak tak percaya.


Nafasnya ikut tak beraturan.


"Kakek...!!, kembalikan kakek ku seperti semula", seru Sanum histeris.


"Bisa apa kamu...??, hahaha..!!, sekarang kamu hanya sendirian, menggertak ku pun tak ada artinya", seru mami Morra merasa menang saat itu.


"Apa mau mu...??", tanya Sanum.


"Beri aku semua garis kekebalan itu, dan aku tak akan mengganggumu dan keluargamu", ucap mami Morra memberi sebuah penawaran.


"Tidak...!!, jika memang kamu tak akan menggangguku, kamu akan tetap mengganggu orang lain juga bukan..!!!", seru Sanum menyembunyikan tangannya di balik badannya.


"Lancang ..!!, itu bukan urusan mu..!!", teriak mami Morra.


Sementara di tempat lain.


Mobil Zivana terus melaju kencang menuju ke rumah bu Rukmi.


Ia sangat khawatir dengan kondisi Sanum yang sendirian di rumah yang mungkin ada mami Morra di sana.


Tiba tiba Marsel membuka matanya dan mengeluarkan cahaya merah di kedua bola matanya.


Membuat Fitri dan Nur terkejut dan berteriak.


"Masyaallah...!!, kalian kenapa...??", seru Zivana sambil mengerem mobilnya dengan cepat.


"Ayah...!!", ucap Nur mencoba mendekati sang ayah yang seperti bukan dirinya.


Seketika Marsel keluar dari mobil dan secepat kilat menghilang dari sana.


"Mas ....!!", teriak Zivana bergegas keluar dari mobil dan mencoba mencari keberadaan Marsel.


"Ya ampun ...!!", ucap Fitri masih nampak syok dengan apa yang ia lihat.


"Kenapa dengan ayah ku Fit...??", seru Nur mencoba keluar dari mobil dan ikut mencari keberadaan sang ayah.


"Lalu, bagaimana Fit...??", seru Zivana amat gelisah dengan nasih suaminya.


"Kita datangi dalangnya...", seru Fitri mengajak Zivana dan Nur masuk ke dalam mobil dan bergegas ke kediaman bu Rukmi.


___


"Ayah...!!", seru Sanum amat senang melihat kedatangan sang ayah.


Ia segera berlari dan memeluknya, tanpa ia tahu bahwa sang ayah berada di bawah kendali mami Morra.


"Aku siap kapan pun mami perintahkan..!!", seru Marsel membuat Sanum terkejut dan melepas pelukannya.


"Ayah..!!", seru Sanum menangis sembari berjalan menjauh dari sang ayah yang tanpa adanya respon terhadap Sanum.


"Sekarang bisa apa kamu Sanum...??", seru Mami Morra dengan senyum liciknya.


"Jahat...!!, kamu jahat...!!", teriak Sanum berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Kejar dia...!!", seru mami Morra memberi perintah pada Marsel.


Marsel segera bergegas mendekati kamar Sanum.


Ia mendobrak dobrak pintu kamar dengan kerasnya.


Membuat Sanum segera mengunci pintu dari dalam dan mengganjal nya dengan sebuah meja rias.


"Bunda...!!", seru Sanum menangis sesenggukan.


Tak berselang lama.


Mobil Zivana telah berhenti tepat di halaman rumah.


Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dan terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Astaga...!!, kek...!!", seru Zivana tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Benar kan dugaan ku, selama ini mami Morra bersembunyi di sini", ucap Fitri memandang ke arah raga bu Rukmi yang menatap tajam ke arah mereka bertiga.


"Belum cukup kamu usik keluarga ku..!!", teriak Zivana marah.


"Nur..!!, itu ayah mu..!!", seru Fitri membuat Zivana ikut menoleh ke arah yang Fitri maksud.


"Mas...!!, sadar...!!", seru Zivana mencoba mendekati suami nya.


Tapi ia malah di dorong hingga jatuh tersungkur.


"Bunda...!!", seru Nur mencoba menolong Zivana.


Tatapan Zivana kini berpusat pada sebuah vas di sampingnya.


Ingin rasa nya tangan itu meraihnya dan memukulkannya pada tubuh lelaki di hadapannya demi menyelamatkan Sanum.


Tapi tangannya juga gemetar, ia tak sampai hati melakukannya.


"Aku tau, ia ibarat musuh yang tak bisa kamu lawan bukan...??", ucap Fitri seketika menoleh ke arah mami Morra.


"Kenapa kamu begitu marah sayang ...!!, nikmati lah pertunjukan ini selama kamu bisa", seru mami Morra kembali tertawa.


"Biadab kamu.....!!", teriak Zivana kembali bangkit dan mengarahkan vas itu ke arah mami Morra.


Pyar...........