
"Nur..!!", seru Fitri mengguncang guncang tubuh Nur.
"Kamu gak apa apa..?", seru Sanum.
"Apakah aku kembali...??", ucap Nur sembari memandang lekat lekat wajah Fitri dan Sanum.
"Ya...!!, dan kenapa kamu seperti terkejut begitu...??", seru Fitri heran melihat tingkah Nur.
"Yeeee, aku kembali...!!", seru Nur melompat lompat kegirangan.
"Saraf kali dia ya", bisik Fitri di telinga Sanum.
"Hus..!!, kita gak tahu kan apa yang ia lihat di dimensi lain Fit", ucap Sanum membungkam mulut Fitri.
"Nur, Nur...!!, memang di dimensi lain kayak gimana sih...??, cerita dong...!!", seru Fitri mengguncang guncang bahu Nur.
"Jelek...!!, pokoknya aku gak mau lagi kesana..!!", seru Nur menggelengkan kepala.
Dari lantai atas, nampak Marsel dan Zivana berlari menuju lantai bawah dengan tergesa gesa.
"Ada apa ini...??", seru Zivana amat khawatir mendengar kegaduhan mereka di lantai bawah.
"Bunda....!!", seru Nur memeluk sang bunda.
"Kenapa sayang...!!", tanya Zivana heran dengan sikap Nur.
"Aku cuma senang bisa lihat bunda dan ayah lagi", ucap Nur tersenyum bahagia.
"Itu Nur, sayang...??, kenapa dia...??", tanya Marsel yang masih tak bisa melihat wujud Nur.
"Entahlah...", ucap Zivana juga merasa aneh dengan tingkah Nur.
"Nur mencoba melintasi waktu bunda, tapi dalam beberapa saat ia kembali lagi dan bersikap aneh seperti itu", ucap Sanum.
"Kamu bilang beberapa saat..!!, aku di sana sudah hidup bahkan 5 tahun lamanya", ucap Nur berkacak pinggang.
Membuat Fitri dan Sanum menganga dan saling pandang.
"Benar kata mu Fit, dia udah saraf kali", bisik Sanum pada Fitri.
"Bagaimana kamu melakukannya Nur...??, dan, apa yang berusaha kamu cari..??", ucap Zivana membelai pipi Nur dengan lembut.
"Dia memakai ini", ucap Sanum menyerahkan kotak musik itu pada Zivana.
"Kenapa kalian main main dengan benda ini...!!, ini sangat berbahaya..!!", seru Zivana merasa mereka sudah kelewat batas.
"Benar itu...!!, setidaknya kalian tidak mencoba hal yang bisa menyakiti diri kalian sendiri", ucap Marsel mencoba menasehati Nur.
"Sayang ...!!", ucap Zivana.
"Kenapa...??", seru Marsel.
"Nur ada di sisi sebelah kanan mu", bisik Zivana.
"Emm, salah ya...!!", ucap Marsel menahan malu.
"Ya ampun...", ucap Fitri menepuk jidatnya.
"Nur, apakah aku di dimensi lain bisa hidup bahagia..??", ucap Fitri penasaran.
Lalu, Nur menceritakan semua yang telah ia alami.
Membuat Zivana, Sanum dan Fitri nampak syok di buatnya.
Hanya Marsel yang tak terpengaruh cerita Nur.
Sebab Marsel tak bisa mendengar apapun yang Nur sampaikan.
Sedangkan yang lain, masih berdiri mematung mendengarnya cerita Nur, sampai mereka tak tahu bahwa Marsel telah pergi ke kamar bu Rukmi.
"Aku jadi bayi lagi...!!", seru Sanum menepuk nepuk kedua pipinya seakan tak percaya perkataan dari Nur.
Sementara Fitri menarik kedua kepangnya dengan perasaan geram.
"Jadi meskipun masa lalu di rubah, aku tetap bernasib buruk..??, bahkan aku jadi mumi...??", seru Fitri tak percaya.
"Bunda gak apa apa...??", ucap Nur menarik narik baju Zivana.
Tetapi Zivana tetap tak bergeming sedikitpun.
Tingkat syok nya berada pada level tertinggi hingga membuat Zivana berdiri mematung cukup lama.
"Bunda....!!, sadar bunda...!!", seru Sanum mengguncang tubuh Zivana.
"Syukurlah kamu bisa kembali Nur, bunda tak bisa membayangkan jika masa itu yang jadi kehidupan dan masa depan bunda", ucap Zivana lemas terduduk di sofa.
Tiba tiba kotak musik di tangan Zivana terbuka dengan sendiri nya.
Membuat Zivana terkejut dan tak sengaja menjatuhkannya ke lantai.
Tiba tiba, seberkas cahaya keluar dari kotak musik.
Sesaat kemudian, sebuah wujud mulai terbentuk di hadapan mereka.
Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya tersenyum di hadapan mereka.
"Salam untuk kalian", ucap wanita itu.
"Ibuk...??", seru Nur mengingat ngingat wajah di hadapannya yang pernah muncul di mimpi yang pernah ia alami.
"Terima kasih Nur, berkat dirimu aku bisa melakukan sebuah hal baik", ucap wanita itu mendekati Nur.
"Siapa kamu ....??", seru Zivana nampak ketakutan.
"Tenanglah nak, aku tidak akan menyakiti kalian, aku akhirnya bisa tenang sekarang, dan....., Fitri...??", ucap wanita itu lalu mulai berjalan mendekati Fitri.
"Nenek...??", seru Fitri tak percaya.
"Nenek minta maaf, karna nenek bahkan tak bisa membebaskan mu dari dunia ini, hanya ini yang bisa nenek lakukan, membuka tabir kematian Nur dan menjawab rasa penasarannya akan rasanya merubah masa lalu", ucap wanita itu memeluk Fitri.
"Gak apa apa nek, bisa bertemu nenek pun aku sudah bahagia", ucap Fitri begitu erat memeluk sang nenek.
"Dan nenek juga minta maaf, karna didikan nenek mami mu jadi manusia bak iblis", ucap wanita itu menangis akan kesalahan masa lalu nya.
"Nenek akhirnya lega meninggalkan dunia ini", ucap wanita itu melepas pelukannya dan berjalan menjauhi mereka.
"Semoga hidup kalian jauh lebih baik, dan untuk Nur dan Fitri cucuku, aku tunggu kalian", ucap wanita itu seketika memudar dan menghilang dari pandangan mereka.
Klekkk, klekk, Buukkk....
"Astaga..!!", seru Zivana memeluk Sanum.
Bersamaan dengan itu, kotak musik pun retak dan seketika hancur lebur di lantai.
"Semua akan baik baik saja", ucap Zivana meraih tangan Nur dan Fitri agar mendekat dan memeluknya bersama Sanum yang telah berada di pelukan Zivana.
Fitri sesekali mencuri pandang ke arah Zivana.
Ia menatapnya dengan mata berbinar binar.
Baru kali ini ada yang mau memelukku lagi, gumam Fitri dalam hati sembari terpejam merasakan hangatnya pelukan Zivana.
Setidaknya, 1 nyawa lagi sudah terbebas, gumam Nur dalam hati sembari terus menikmati pelukan sang bunda seperti layaknya Fitri dan Sanum.