
Terlihat Sanum sedang memandang ke arah ibu guru yang sedang menerangkan pelajaran pagi itu.
Ia sesekali tersenyum ke arah depan.
Seakan ia fokus mendengarkan pelajaran kala itu.
Tapi sebenarnya, fokusnya adalah pada beberapa roh anak anak yang mendiami kelasnya.
"Nur....!!, ayo main sama kita..!!", ucap seorang roh melambaikan tangan pada Nur.
Nur yang tak keberatan sama sekali langsung berdiri dari kursi duduknya.
"Ya..!!, Sanum...!!, kamu mau mengerjakan soal di depan...??", ucap sang guru mendapati Sanum yang berjalan ke arahnya.
"Bu, saya mau ke belakang boleh..??", ucap Sanum memegang tangan ibu guru.
"Kamu berani sendirian..??, ibu antar ya..??", ucap ibu guru menggandeng tangan Sanum dan segera berjalan ke luar kelas.
"Sanum berani kok bu", ucap Sanum menghentikan langkah sang guru.
"Ya sudah, hati hati ya", ucap ibu guru kembali meneruskan pengajarannya.
Nur dengan wajah sumringah berjalan ke arah belakang sekolah, tempat Tania dan kawan kawannya yang lain berada.
"Tania...!!!, aku datang..!!", seru Nur mencari cari di mana temannya berada.
Seketika Tania muncul, bersamaan dengan 3 roh yang lain.
"Kalian apa kabar..??", seru Nur dari tubuh Sanum.
"Kami baik, kenapa satu minggu ini kamu tak bisa melihat kami..??, saat aku mendekatimu kamu hanya diam saja seakan tak melihatku", ucap Tania.
"Ini bukan ragaku, ini raga Sanum, aku berupa roh, namaku Nur, dan aku tidak selamanya bisa berada di tubuh ini, kemampuanku terbatas", ucap Nur menjelaskan.
"Lalu..??, apa hubungannya kamu dengan Sanum...??", tanya roh lainnya.
"Dia kakakku, kami saudara kembar", ucap Nur.
"Bagaimana bisa kamu meninggal sedangkan saudaramu tidak..??", ucap Tania bingung.
"Aku meninggal saat dilahirkan", ucap Nur sedih.
"Lalu bagaimana dia bisa melihatmu tapi tak bisa melihat kami..??", seru Tania.
"Sanum sedarah denganku, mungkin itu alasannya aku dan dia bisa leluasa melihat dan aku bisa masuk ke raganya", ucap Nur.
"Mungkin juga, dan kamu tau Nur, terkadang kita masih ada di sini karna ada sebabnya, mungkin kamu masih tertahan di sini untuk mengetahui kenapa kamu bisa meninggal saat dilahirkan", ucap Tania membuat Nur berfikir.
"Apakah begitu..??", tanya Nur penasaran.
"Ya sudahlah, suatu saat pasti kamu bakal tau jawabannya, sekarang lebih baik kita bersenang senang", ucap roh lain.
Lalu mereka bermain bersama di belakang sekolah seperti anak sebayangnya bermain.
Hingga bel istirahat telah berbunyi.
"Nur, sudah bel, kamu tak kembali..??", ucap Tania berhenti bermain.
"Aku istirahat di sini saja, anak manusia membosankan", ucap Nur duduk di samping teman temannya dan bersenandung bersama.
Tiba tiba seorang anak laki laki yang melintas mendengar senandung dari Nur.
Ia pun mendekatinya.
"Kamu...!!, kamu anak baru itu kan..??, ngapain kamu di sini...??", seru anak laki laki itu menegur Nur.
"Aku hanya bermain", ucap Nur singkat.
"Lebih baik kita kembali, bu guru tadi mencarimu", ucap anak laki laki itu.
"Baiklah", ucap Nur menurutinya.
Saat mereka ingin melangkah kembali ke kelas.
Pandangan anak laki laki itu tertuju pada sebuah boneka usang milik Tania.
Ia mendekatinya dan menyenggolnya dengan kakinya.
Sedangkan Tania hanya menangis tak bisa berbuat apa apa.
"Hentikan..!!", seru Nur memegang tangan anak laki laki itu.
"Apa..??", ucap anak laki laki itu berpura pura tak mendengar Nur berbicara.
"Aku bilang hentikan", seru Nur mulai marah.
"Ohh", ucap anak laki laki itu malah menginjak nginjak boneka milik Tania.
"Cukup...!!", teriak Nur membuat kekuatannya muncul dan melemparkan tubuh anak laki laki itu cukup jauh, sehingga hidungnya penuh darah.
Saat bersamaan, guru kelasnya menyaksikan itu semua.
Ia segera berlari mendekati anak laki laki itu yang tengah menangis kesakitan.
Ibu Guru menggendongnya berlari menuju ke ruang uks sekolah.
Saat ia melewati Sanum, ia hanya memandangnya dengan tatapan aneh.
"Anak macam apa kamu ini ..?", ucap Ibu guru meneruskan berlarinya menolong murid laki lakinya itu.
"Makasih Nur", ucap Tania mengusap air matanya dan menghilang dari hadapan Nur.
Seketika kabar itu gempar terdengar.
Membuat Zivana terkejut saat mendapat telfon dari pihak sekolah.
"Baik, saya akan kesana", Seru Zivana bergegas memanggil Sekar.
Mereka pun berangkat dengan cepat menuju ke sekolah.
Begitu terkejutnya mereka melihat anak laki laki itu sedang di tandu masuk ambulan untuk di rujuk ke rumah sakit.
Tubuhnya banyak terdapat memar memar.
Hidungnya penuh darah.
Dan ia terus menangis tak kunjung berhenti.
Seketika pandangannya gelisah mencari cari keberadaan Sanum.
"Ya Allah Sanum...!!", seru Zivana segera berlari menuju anaknya yang tengah di tatap aneh oleh semua orang.
Saat Zivana hampir memeluk Sanum, tubuhnya di guncang dari belakang dan pipinya mendapat sebuah tamparan.
Plakkkkk...!!!
"Dasar..!!, kamu punya anak macam apa...??, iblis kah...!!, anakku sampai seperti itu karnanya..!!", teriak histeris keluar dari mulut ibu anak laki laki itu.
Setelah itu, pihak satpam mulai menenangkan ibu itu dan membawanya masuk ke dalam ambulan.
Zivana yang terpaku menangis sambil memegangi bekas tamparan di pipinya.
Lalu menatap ke arah Sanum yang terduduk santai di kursi tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun.
Sekar pun hanya mematung memandang Sanum yang berada di hadapannya.
Zivana berdiri di hadapan Sanum dan segera menggenggam tangan anaknya tanpa ekspresi.
"Ayo kita pulang", seru Zivana berjalan menuju mobilnya dan bergegas pulang ke rumah.
Di sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tak berbicara.
Seakan Zivana dan Sekar mencoba mencerna dan memahami apa yang salah dari diri Sanum.
Sekar melihat dengan seksama tingkah pola Sanum di dalam mobil.
Saat ia bersenandung dan saat ia memainkan rambut nya.
Sekar pun tercengang di tempat duduknya sambil terus melihat Sanum.
Jangan jangan...!!!, Nur...!!, gumam Sekar dalam hati merasa syok dengan tebakannya sendiri.