
Setelah cukup lama memori nya berkelana ke masa lalu, mbak Fara tersentak dan tersadar dari lamunan nya.
Keringat dingin berkucuran di kening nya.
Nafas nya begitu berat, menandakan bahwa kenangan itu sangat membuat nya ketakutan.
Ia segera bergegas mendekati Naya yang duduk terdiam di samping jendela.
Mbak Fara bersimpuh dan menciumi tangan Naya.
"Sayang....!!, percayalah, ibu dan ayah sangat sayang sama Naya, Naya jangan takut ya sama mereka", ucap mbak Fara dengan tangan gemetar memegang erat tangan Naya dan terus menciumi nya.
Sementara Naya hanya terdiam seperti biasa.
Ia tak berekspresi sama sekali meskipun orang tua nya sudah memancing nya begitu keras.
"Ibu dan ayah akan memperkuat jiwa mu, supaya ibu dari Nur tak bisa mengambil mu dari ibu", seru mbak Fara mulai memikirkan sebuah cara licik untuk menghalau keluarga Nur, sebagai persiapan kalau nanti keluarga Nur mengetahui kebenaran tentang hidup Naya.
"Benar sayang, ayah dan ibu akan melakukan nya malam ini, jadi bersiaplah kamu", seru Daren keluar dari dalam kamar nya sembari berjalan ke arah anak dan istri nya.
Mendengar ucapan dari kedua orang tua nya.
Membuat Naya kembali berucap.
"Ikhlaskan aku...", rintih Naya menatap sayu ke arah ayah dan ibu nya.
Tanpa mendengar jelas ucapan Naya.
Mbak Fara dan Daren malah tersenyum mendengar suara Naya.
"Apa sayang..??, syukurlah kamu sudah mau berbicara", ucap sang ayah memeluk Naya.
"Tadi siang Naya juga sudah mulai mengucapkan sepatah dua kata yah, tapi itu saat kejadian bu Sukma yang datang kemari, yang barusan aku critain ke kamu", ucap mbak Fara mengelus pipi anak nya.
"Gak pa pa, selama ada kita, Naya akan aman", ucap Daren memeluk anak dan istri nya.
Saat pelukan itu terjadi, mata sayu Naya meneteskan air mata kepedihan nya.
Ia sangat tersiksa dengan kasih sayang orang tua nya yang terlalu berlebihan pada nya.
Sementara di tepi sebuah jalan raya.
Nampak mobil bu Sukma masih terdiam di tempat nya semula.
Di dalam mobil, Zivana juga masih mengamati riwayat medis Naya yang sempat membuat nya terkejut.
"Itu sebab nya aku pulang terlambat bunda, bunda mau kan cari tau itu semua demi Sanum..??", ucap Sanum memecah keheningan.
"Sanum..!!, kamu lihat sendiri kan, bunda kamu cuma diam, pasti dia gak setuju dengan ide kamu, udah ya, jangan keras kepala kayak Lidia, kita pulang ya, nanti biar ibu hubungi dokter Marlin untuk membereskan semua kekacauan ini", ucap bu Sukma sembari melirik tajam ke arah Lidia.
"Ma...!!, awas mata nya copot..!!", seru Lidia dengan setengah ketakutan sembari menyembunyikan wajah nya di belakang Sanum.
"Uhh..!!, nih anak...!!, nyidam apa mama dulu...!!", ketus bu Sukma mencoba mengetok kepala Lidia dari kursi kemudi nya.
"Bisa kita ke rumah Naya ....??", tanya Zivana membuat bu Sukma dan yang lain nya terkejut tak percaya.
"Jeng yakin...??", seru bu Sukma meyakinkan.
"Bunda yakin...??", tanya Sanum tak percaya.
"Tolong lah buk..", ucap Zivana memohon dengan kedua tangan nya.
Bu Sukma yang merasa tak enak dengan sikap memohon Zivana , segera mengangguk dan melajukan mobil nya menuju ke rumah Naya.
Mereka melewati pemakaman umum, di mana di tempat itu, Nur dan Naya di semayamkan.
Lagi lagi, bu Sukma menghentikan mobil nya secara mendadak.
"Masyaallah..!!, kalian gpp anak anak..??", tanya Zivana masih nampak syok.
"Maaf, maaf...!!, tapi saya lihat orang tua Naya di sana", ucap bu Sukma segera membuka kaca mobil.
Mata Zivana segera mencari di mana tempat yang di maksud bu Sukma.
Pandangan nya seketika berhenti di sebuah rumah di samping area pemakaman.
Terlihat empat orang sedang mengobrol secara serius, dan nampak ada seorang anak perempuan juga di samping mereka.
"Itu Naya bunda...!!", seru Sanum menunjuk ke arah anak perempuan itu.
"Dia memang nampak seusia mu sayang", ucap Zivana terus mengamati gerak gerik mereka.
"Tunggu sampai tante lihat muka nya", seru Lidia dari kursi belakang.
"Memang nya kenapa dengan muka nya..??", tanya Zivana penasaran.
"Biarkan tante Zivana melihat nya sendiri, oke..!!", seru bu Sukma pada Lidia.
"Aku makin penasaran, ada apa sebenar nya ini...??", seru Zivana bergegas keluar dari mobil dan bersembunyi di semak semak, ia mengendap ngendap hingga akhirnya cukup dekat untuk mendengar ucapan orang tua Naya dengan kedua orang di depan mereka.
"Tunggu jeng ..!!", seru bu Sukma lirih sembari mengikuti Zivana dengan menggandeng Sanum dan Lidia.
"Aku tak habis pikir dengan kalian...!!, lihat lah Naya...!!, buka mata kalian...!!, dia sudah seperti mayat hidup..!!", seru Sastro amat kesal dengan ulah kedua saudara nya.
"Tapi ini demi kebaikan dia..!!", seru Daren tak mau kalah.
"Kebaikan apa...??, hah..!!, sampai kapan kalian mempertahankan nya ..??, bagaimana kalau kalian sudah tiada nanti nya...??", seru Sastro.
"Kami masih hidup, dan itu salah satu alasan kami akan perjuangkan dia..!!", seru mbak Fara semakin erat memeluk Naya.
Apa yang sebenarnya yang mereka bicarakan...??, Kebaikan Naya...??, Tetap mempertahankan nya..??, aku kenal lelaki itu, bukan nya itu tukang gali kubur...??, kenapa dia terlihat amat marah...??, gumam Zivana dalam hati.
"Tolonglah kami sekali ini saja, kami harus menyingkirkan mereka", ucap Daren membuat bu Sukma yang baru sampai di samping Zivana amat terkejut mendengar nya.
"A, apa itu mungkin maksud nya kita...??", bisik bu Sukma dengan tubuh gemetar.
Zivana hanya terdiam dan masih terfokus pada ke empat orang di depan nya tanpa mendengar ucapan bu Sukma.
Ia begitu penasaran akan semua teka teki tentang Naya.
Ia merasa, ada yang tak beres dengan Naya.
Dan ada sebuah perasaan dalam hati nya yang membuat nya ingin mencari tahu lebih jauh tentang Naya.
"Aku sudah putuskan, aku tak mau ikut campur urusan kalian..!!, dulu ataupun sekarang..!!", seru Sastro mantap dengan keputusan nya.
"Terserah apa kata kalian...!!, aku akan perjuangkan putri ku sendiri..!!", seru mbak Fara membalik tubuh Naya dan memeluk nya dalam dekapan nya.
Saat itu juga, Zivana begitu terkejut melihat wajah Naya untuk pertama kali nya.
Ia lalu memandang Sanum dan Naya secara bergantian.
"Bagaimana mungkin...??", seru Zivana sangat syok saat itu.
"Itulah yang coba kami jelaskan jeng", ucap bu Sukma mencoba menenangkan Zivana.