Nur

Nur
Tolong jagalah ragaku....!!



"Sekar....!!, mana Sanum...??", seru Zivana saat melihat Sekar melintas di depannya.


"Non Sanum katanya ada les tambahan nyonya", ucap Sekar meneruskan kegiatannya membersihkan rumah.


"Jam segini...???, dan bukannya ini hari sabtu..??", seru Zivana memandang ke arah jam dinding.


"Bukannya ini jadwal les privatnya non Sanum nyonya", ucap Sekar heran dengan sikap majikannya.


"Ya ampun Sekar..!!, kemarin kan saya sudah bilang ke kamu, kalau les Sanum libur sampai minggu depan", ucap Zivana mulai gelisah, karna seharusnya 2 jam sebelumnya Sanum sudah pulang dari sekolah.


"Tapi kata non Sanum, hari ini dia les dan pulang terlambat nyonya", ucap Sekar membuat Zivana makin gelisah.


"Pasti ada yang tak beres", ucap Zivana bergegas menuju mobilnya dengan diikuti oleh Sekar.


Dengan perasaan gelisah, Zivana melajukan mobilnya menuju ke sekolah Sanum.


Sementara di tempat lain.


Sanum terlihat berjalan menyusuri tepi jalan raya.


Dengan sesekali ia mengusap air matanya yang jatuh ke pipi.


"Nur...!!", ucap Sanum lirih.


Ternyata perasaan Zivana benar, ada yang tak beres dengan Sanum kali ini.


Mungkin karna tertekan dengan kasih sayang yang berkurang dari ayah dan bundanya, ia memutuskan mencari Nur.


Seorang saudara dan keluarga satu satunya yang ia rasa hanya dia yang bisa mengerti dirinya.


"Nyonya...!!, itu non Sanum..!!", seru Sekar saat melihat Sanum tengah melamun di pinggir jalan raya.


Tiba tiba dari arah belakang, melintas motor dengan kecepatan tinggi, menyenggol badan Sanum hingga terpental di trotoar.


"Bunda...!!", teriak Sanum saat tubuhnya terpental di trotoar jalan.


"Sanum...!!!", teriak Zivana histeris, seketika menginjak rem dan keluar dari mobil.


Ia berlari diikuti oleh Sekar dan kerumunan orang orang yang bergerombol ingin menolong atau hanya sekedar melihat Sanum yang sudah tergeletak di pinggir jalan.


Sementara si pengendara motor sudah kabur dengan kencangnya melihat keadaan Sanum yang sudah tak bergerak lagi penuh darah.


Saat semua orang sedang berkerumun menyaksikan kejadian naas itu, Zivana terlihat memeluk erat Sanum di pangkuannya sambil terus menangis histeris.


"Bisa tolong panggilkan ambulans..!!", teriak Sekar kesal bercampur panik.


Pasalnya orang orang hanya berkerumun dan menonton, padahal kondisi Sanum sudah tak sadarkan diri dan penuh dengan darah.


Saat kejadian itu terjadi.


Fitri tak sengaja melihat kejadian itu dari kejauhan.


Air matanya menetes merasakan kesedihan akan kemalangan yang tengah menimpa Sanum.


Bagaimanapun Sanum hal terpenting bagi Nur, gumam Fitri dalam hati lalu menghilang entah kemana.


Beberapa saat kemudian.


Titt..titttt......(suara mesin monitor jantung).


"Satu, dua.....!!", seru seorang dokter yang sedang menangani Sanum di dalam ruangan igd.


"Denyutnya masih belum kembali dok..!!!", seru seorang suster mencoba menyuntikkan suatu cairan ke tangan Sanum.


"Kita coba lagi..!!, satu, dua.....!!", seru dokter berulang ulang kali menempelkan alat kejut jantung di dada Sanum.


"Tambah dosis obatnya..!!", seru dokter mencoba menyuntikkan cairan kedua ke tangan Sanum.


Sementara di lain tempat.


Nampak Nur sedang berdiri mengamati rumah orang tuanya.


Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengobati rasa rindunya pada keluarga.


Tiba tiba Fitri muncul di samping Nur.


"Aku mencarimu dari tadi", ucap Fitri memegang tangan Nur.


"Aku masih ingin melepaskan rasa rinduku disini, entah kemana mereka semua..??, padahal aku sangat ingin melihat wajah mereka, terutama wajah kakakku", ucap Nur menatap penuh harap bahwa Sanum akan muncul dari pintu depan rumah.


"Itulah yang akan ku sampaikan padamu", ucap Fitri mencoba menyampaikan kenyataan pahit itu pada Nur.


"Tentang Sanum...??, kamu tau dimana dia...??", seru Nur bersemangat.


Di lain tempat.


Kondisi Sanum semakin memburuk.


Kejut jantung pun tak bisa direspon oleh tubuh Sanum.


Zivana berulang kali pingsan dan histeris di depan pintu igd menunggu dokter tak kunjung keluar membawa kabar bahagia bahwa Sanum telah berhasil di selamatkan sesuai harapannya.


"Bunda....!!", ucap Sanum dari kejauhan.


Tapi anehnya, seakan tak ada yang menyadari keberadaannya.


"Nenek....??, ayah...!!", seru Sanum mencoba mendekati mereka, tapi ia mengurungkan niatnya dan memilih masuk keruangan igd yang pintunya sedang di tunggu tunggu terbuka oleh Zivana.


Ia pandangi tangan dan tubuhnya.


Seolah ada yang tak beres sedang terjadi.


Lalu ia mengingat kejadian saat ia terpental di pinggir jalan raya.


"Mungkinkah...!!", seru Sanum mulai menangis.


Tanpa membuka pintu, Sanum terkejut bisa menembus tembok seperti Nur.


Kemudian pandangannya tertuju pada dokter dan suster yang sedang berusaha sekuat tenaga menyelamatkan pasiennya.


Sanum memberanikan diri mulai mendekati mereka.


Begitu terkejutnya ia melihat dirinya telah terbaring tak berdaya dengan semua alat dokter yang menempel padanya.


Pasien itu diriku..??, gumam Sanum dalam hati.


Terlihat dokter terus berupaya menyelamatkan kehidupannya.


"Apakah aku menjadi roh sekarang...??, bagaimana jika dokter tak bisa menyelamatkanku...??", ucap Sanum meneteskan air mata.


Kamu pasti kuat..!!, gumam Sanum memandang raganya yang tengah berjuang bersama tim dokter dan suster.


Tak berapa lama, Sanum lagi lagi terkejut.


Tangannya mulai memudar sedikit demi sedikit.


"A,, aaaa, apaaa ini...??", ucap Sanum terbata bata melihat tangannya yang terus menghilang.


Nampak dokter pun mulai lemas, tangannya sudah tak terlihat lincah lagi menangani Sanum, seakan ia telah menyerah.


Segera Sanum berlari menghampiri sang dokter yang nampak telah putus asa dengan kondisinya.


"Tolong selamatkan Sanum dokter...!!, Sanum janji gak bakal nakal lagi", ucap Sanum menangis tersedu sedu tanpa bisa di dengar oleh yang lain.


Di tempat lain.


Nur nampak syok dan gelisah mendengar penuturan dan cerita dari Fitri tentang Sanum.


"Sebaiknya kamu tengok dia", ucap Fitri memberikan saran agar Nur tak menyesal nantinya.


Seketika Nur langsung menghilang dan muncul di beberapa rumah sakit terdekat.


Dengan tergopoh gopoh ia mencari keberadaan Sanum saat itu.


"Tunggu aku kak...!!", seru Nur menghilang lagi dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.


Akhirnya tiba Nur di tempat Sanum berada.


Ia muncul tak jauh dari tempat Zivana yang sedang menangis di pangkuan Marsel.


Tak banyak berfikir lagi, Nur langsung menghilang dan muncul kembali di ruang igd tempat yang kemungkinan besar terdapat Sanum di dalamnya.


"Nur...!!", seru Sanum segera berlari memeluk Nur sesaat setelah Nur muncul diruangan itu.


"Apakah kamu baik baik saja..??", tanya Nur khawatir, kemudian pandangannya tertuju pada tangan Sanum yang mulai menghilang.


Lalu pandangannya pun beralih pada raga Sanum yang terbaring tak berdaya di atas ranjang igd.


"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin", ucap dokter lirih.


Dengan wajah sedih, semua suster dan dokter mulai melepas semua alat bantu di badan Sanum yang membuat roh Sanum semakin menghilang.


"Tolong aku Nur....!!", seru Sanum terus menangis histeris.


"Tenanglah kak", ucap Nur mencoba menenangkan Sanum.


Nampak Nur mulai berjalan mendekati raga Sanum yang hanya tersisa alat bantu nafas di raganya.


Terlihat dokter dan suster mulai keluar dari ruangan igd dan tak berselang lama nampak terdengar suara gemuruh dari keluarganya, jeritan bahkan tangisan menggema menjadi satu.


Sementara Nur mencoba memegang raga Sanum, menimbulkan sebuah percikan dari penyatuan kedua tangan mereka.


Dalam sekejap, cahaya menyilaukan mata membuat roh Nur menghilang dan masuk ke dalam raga Sanum.


Tak berapa lama, keadaan Sanum mulai pulih, bahkan rohnya mulai utuh kembali.


Dengan perasaan bahagia ia mendekati raganya yang mulai bernafas dengan teratur.


"Terima kasih Nur...!!, tolong jagalah ragaku...!!", ucap Sanum tersenyum bahagia di depan raganya yang masih tak sadarkan diri.