
"Laaa, illlaaa, haa illallah",......
Lantunan terdengar dari semua pelayat yang mengantar ayah Rain menuju ke peristirahatannya yang terakhir.
"Buk, kemarin katanya para laki kita kok dibilang kerabatnya pak Marsel yang meninggal bentuknya mumi sih", bisik salah seorang warga.
"Iyaa ya, sinting kali mereka, orang laki ganteng gitu yang meninggal kok di bilang mumi", balas seorang warga lainnya.
"Eh, tapi bener atuh buk ibuk, mata para laki laki panjenengan ini masih normal, yang kami lihat itu beneran mumi yang udah kering coklat gitu, ihhh pokoknya serem deh", ujar seorang lelaki pada para ibuk ibuk yang sedang bergosip.
"Alahhhh...!!, buktinya apa bapak...!!, apa mata kami yang juling..!!, hemmmm, jelas jelas kami lihat laki laki tampan gitu kok", ucap seorang ibuk ibuk tak terima.
"Allah buk...!!, ya sudah ya sudah...., mata kami yang juling", ucap bapak bapak tadi mengalah akan serbuan dari para ibuk ibuk.
Tak berlama lama, sesampainya di pemakaman.
Mereka langsung menguburkan Jenazah ayah Rain sesuai syariat islam yang ada.
Rain yang sedari tadi tertatih tatih, dengan sekuat tenaga berjalan dan merangkul nisan sang ayah.
"Bapak Tahta..??, benar pak...??", tanya pak kyai pada Marsel.
"Iyaa pak, benar", ucap Marsel.
"Kita doakan semoga dia tenang di alam sana, lupakan yang tak perlu diingat dari almarhum, ingatlah kebaikannya saja selama hidup", ucap kyai membimbing doa bersama untuk almarhum tuk yang terakhir kalinya.
Setelah pembacaan doa selesai.
Para penglayat satu persatu pergi meninggalkan area pemakaman.
"Sayang...!!", ucap Marsel mengajak Zivana untuk pulang.
"Kamu duluan saja, ajak mami pulang bersama, aku akan disini sebentar saja bersama Sanum", ucap Zivana sambil terus memandangi Rain yang meringkuk di pusaran sang ayah, tak terasa air matanya ikut menetes.
"Ayah...!!, ayah pasti sudah tenang kan sekarang", ucap Rain sambil tersedu sedu.
Sementara Sanum dan Nur mendekap tubuh Zivana, mereka tak tega melihat pemandangan di hadapan mereka.
Tiba tiba.
Muncul sebongkah cahaya keluar dari pusaran sang ayah.
Tak berapa lama, berdiri tegap seorang lelaki bertubuh kekar berparas tampan tersenyum di hadapan Rain.
Raut wajah Rain berubah bahagia dan tersenyum dengan lebarnya.
"Ayah...!!", seru Rain dengan bersusah payah menahan sakit tubuhnya, berdiri dan berlari memeluk sang ayah.
"Anakku..", ucap Ayah Rain memeluk erat sang Anak yang telah lama tak ia jumpai.
"Ayah sudah bebas sekarang, ayah gak akan diganggu mami Morra lagi", ucap Rain menghapus air matanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih untuk kalian semua, sekarang bebaskan dirimu sendiri nak..!!", seru ayah Rain mengelus kelapa sang anak.
Seketika roh Rain kembali bercahaya dan sehat seperti sedia kala.
"Rain....", ucap Fitri menangis karna ia tahu, mungkin ini saatnya mereka berpisah.
"Bebanku sudah hilang Fit, sekarang aku bebas, terlebih aku sekarang telah bersama ayahku, terima kasih untuk kalian semua", ucap Rain mengusap air mata Fitri.
"Baik baik kamu di sana ya", ucap Nur mendekat ke arah Rain.
"Kamu juga ya Nur, aku tunggu kamu dan Fitri ya, cepat cepatlah selesaikan urusan kalian", ucap Rain.
"Dah Rain", ucap Sanum melambai ke arah Rain.
Dalam sekejam Rain dan ayahnya menghilang dari pandangan mereka.
"Kini Rain tak sakit lagi anak anak", ucap Zivana mencoba menghibur hati mereka, dan mengajak mereka semua kembali ke rumah.