Nur

Nur
Jangan ungkap apapun...!!



"Sini kamu....!!", seru mami Morra menarik paksa roh Sanum.


"Lepaskan...!!, kenapa kamu selalu mengusik kami...!!", seru roh Sanum mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman mami Morra.


Tapi apa daya, tenaganya tak sebanding dengan mami Morra, bahkan meskipun ia telah memiliki garis kekebalan ditangannya.


"Kalau tak ada garis itu, sudah ku masukkan kamu ke kalungku...!!", seru mami Morra terus menarik tangan Sanum dengan paksa.


"Hentikan..!!, kenapa kamu tak pernah menerima jika umurmu memang sudah tua...!!", teriak Sanum kesal.


Teriakan Sanum membuat mami Morra makin marah dan seketika melepaskan tangan Sanum.


Mami Morra memandang tajam ke arah Sanum dengan wajah yang merah padam.


"Diam...!!, kamu tak tau apapun...!!, sudah susah payah aq merekayasa tabrak lari itu, bukan untuk mendapat ocehan tak penting dari mulutmu..!!", seru mami Morra menarik kembali tangan Sanum.


"Jadi kamu penyebab aku jadi begini...??", seru roh Sanum menepis tangan mami Morra.


"Memang aku yang menyuruh orang untuk menabrakmu, tapi itu hanya kulakukan agar Nur mau keluar dari persembunyiannya, bukan salahku kalau kamu harus seperti ini, tapi tak ada ruginya untukku, entah Nur atau kamu..!!, tak ada bedanya bagiku, selagi kalian berguna bagiku", seru mami Morra dengan tertawa terbahak bahak.


Sesaat kemudian, ada angin kencang dan kabut yang tiba tiba menghadang langkah mami Morra.


"Kurang aj*r...!!", Siapa itu...??", seru mami Morra tak bisa memandang siapa yang menghadang jalannya.


Tiba tiba suara tawa menggema disekeliling mereka.


Membuat mami Morra tercengang dan langsung mengenali suara itu.


"Jangan macam macam Fitri...!!", teriak mami Morra kesal.


Dalam sekejap, tangan mami Morra tak lagi memegang tangan Sanum.


Karna Fitri telah menarik roh Sanum menghilang dari samping mami Morra.


"Sanum..!!", seru Mami Morra mencari cari keberadaan Sanum yang tiba tiba hilang dari sisinya.


Bersamaan dengan itu, angin kencang dan kabut yang menghalangi pandangan mami Morra berangsur angsur menghilang.


"Kurang aj*r...!!, apa sih maunya anak itu...!!, sudah dilenyapkan pun masih membuatku susah..!!", seru mami Morra marah, dan dalam sekejap ia juga telah menghilang entah kemana.


Ditempat lain.


Fitri dan roh Sanum muncul kembali di kamar yang tak asing bagi Sanum.


Sanum memandangi kamar itu dengan seksama.


"Sungguh aku merindukan kamar ini", ucap roh Sanum meneteskan air mata.


"Nur telah sehat dan ia juga sudah pulang", ucap Fitri mengajak Sanum menemui Nur.


Tiba tiba ia menghentikan senandungnya saat melihat kedatangan Fitri.


"Fitri...??, kau kah itu ..?", seru Nur tersenyum dengan lebarnya.


"Hay Sanum", ucap Fitri mengajak roh Sanum lebih mendekat ke arah Nur yang saat ini telah berada di raga Sanum.


Nampak Nur sangat terheran heran melihat ke arah Sanum, membuat senyum Sanum memudar.


"Kenapa dengan Nur..??", bisik roh Sanum kepada Fitri.


Belum sempat Fitri menjawab, Nur lebih dahulu memegang tangan roh Sanum.


"Kamu teman Fitri ya...??, kenalin aku Sanum", ucap Nur membuat roh Sanum tercengang.


"Sanum, bisa ambilkan boneka, yuk kita main sama sama", ucap Fitri mengalihkan perhatian Nur untuk sementara.


Saat Nur pergi mengambil bonekanya, Fitri menjelaskan apa yang tengah terjadi pada Nur.


"Ada apa ini...??", tanya roh Sanum heran.


"Ada satu hal yang kamu tak ketahui", ucap Fitri memandang ke arah Nur.


"Apa itu..??", tanya roh Sanum makin penasaran.


"Saat Nur masuk ke ragamu, ia telah kehilangan memori atas semuanya, ia akan melupakan jati dirinya, bahkan aku dengan susah payah mendekatinya lagi agar bisa mengenaliku tanpa rasa takut", ucap Fitri membuat Sanum syok.


"Lalu..??, dia juga melupakanku...??", ucap Sanum tak percaya.


"Bahkan kami semua dilupakan olehnya, jika kamu mau, aku bisa saja mengungkap semuanya pada Nur sekarang", ucap Fitri.


Sesaat roh Sanum terus memandangi Nur yang tengah menikmati masanya menjadi manusia, lagipula kalau bukan karna Nur, pasti raga Sanum sudah dikubur sekarang.


Saat Fitri ingin mendekati Nur dan mengungkapkan semuanya, langkahnya dihentikan oleh Sanum.


"Jangan..!!, jangan ungkap apapun padanya..!!, biarkan ia bahagia seperti ini, hidupku bisa sampai saat ini juga berkat pertolongan darinya yang berulang kali, jadi biarkan dia hidup sesuai mimpinya", ucap Sanum mengusap air matanya.


Fitri yang mendengarnya merasa terharu, baru kali ini ia melihat sebuah ikatan sedarah yang begitu kuat.


"Ini bonekanya..!!, satu untuk Fitri dan satu untuk........", ucap Nur berjalan kembali ke arah Fitri dan roh Sanum.


Tapi ia masih tak mengenal siapa teman baru yang Fitri bawa untuknya.


"Nur...!!, namaku Nur", ucap roh Sanum memperkenalkan dirinya dihadapan Nur yang tengah lupa akan jati dirinya.


Mereka pun bermain bersama dan melupakan semua yang telah terjadi.


Aku akan jaga kamu seperti kamu menjagaku dahulu, gumam roh Sanum dalam hati.