Nur

Nur
Rumah ternyaman.



"Pak Marsel...!!, bu Zivana..!!", teriak para warga bergerumbul di teras rumah Zivana.


"Astagfirullah...!!!, sabar sabar pak, ada apa ini...??", seru Marsel bergegas keluar rumah bersama Zivana.


"Kami sudah muak dengan ayah bapak..!!, dia sudah bertingkah dan berteriak teriak semakin tak karuan, merusak barang barang kami", seru seorang warga mewakili semua warga yang marah.


"Ayah..??", seru Marsel bingung menatap Zivana yang juga ikut kebingungan.


"Tapi, ayah kami ada di kamar nya pak", ucap Zivana menjelaskan.


Semenjak pak Broto tak lagi menjadi patung.


Ia terpaksa di masukkan ke kamar dan di kunci rapat di dalam.


Tapi tanpa di ketahui Marsel dan Zivana, pak Broto berhasil keluar dari kamar nya dan membuat kerusakan di lingkungan warga sekitar.


"Lalu...??, apa penglihatan kami salah, begitu...??", seru seorang warga kesal.


"Bukan begitu pak, ya sudah, biar saya cek di kamar dulu ya", ucap Zivana segera bergegas masuk ke dalam rumah.


Tapi langkah nya di hentikan oleh seorang warga.


"Tidak perlu buk, percuma, ibu tak akan menemukan pak Broto di mana pun", ucap warga itu lagi.


"Lalu, apa bapak tau di mana ayah saya sekarang..??", tanya Marsel penasaran.


"Kami sudah membawanya ke rumah sakit jiwa kedasih pak", ucap pak Rt.


"Kenapa kalian tak meminta persetujuan saya dulu...??", seru Marsel tak percaya ayah nya sudah di masukkan ke rumah sakit jiwa oleh warga setempat.


"Apa kami harus menunggu dia merobohkan rumah rumah kami pak...??", seru seorang warga membuat Marsel dan Zivana terdiam.


"Baiklah, saya minta maaf atas kesalahan ayah kami, saya mohon bapak ibu semua bubar dari sini", ucap Marsel segera di turuti oleh semua warga yang ada.


"Ayo kita susul ayah mas..!!", seru Zivana menutup pintu rumah.


___


Sesampai di sana.


Marsel dan Zivana nampak gelisah mencari keberadaan ayah mereka.


"Pasti ayah histeris disini mas", ucap Zivana merasa gelisah dengan keadaan ayah mertuanya.


"Ini ruangan pak Broto pak, buk", ucap suster membukakan pintu ruangan pak Broto.


Begitu terkejutnya mereka melihat keadaan pak Broto saat itu.


Ia nampak lebih tenang dan terlihat nyaman di sana dari pada di rumah.


Tak ada teriakan bahkan amarah yang terlontar dari mulut pak Broto saat itu.


"Saya bingung, kenapa orang setenang itu bisa menggegerkan satu komplek ya..??", ucap suster itu heran.


"Bisa saya mendekatinya sus..??", tanya Marsel.


"Silahkan", ucap suster tak keberatan.


Saat Marsel dan Zivana mendekat.


Pak Broto langsung memandang tajam ke arah mereka.


Ia seakan ketakutan dengan kehadiran Zivana dan Marsel.


"Setan..!!, pergi kalian...!!, aku tak mau berurusan dengan pembunuh istriku..!!", teriak pak Broto mulai histeris dan mengamuk.


Membuat suster kebingungan dan segera mengambil sebuah suntikan penenang.


Ia segera menyuntik pak Broto saat ia dan rekannya berhasil memegang tubuh pak Broto.


"Kembalikan istriku...!!", ucap lirih pak Broto sebelum ia tertidur karna obat bius yang di suntikkan ke tangannya.


Zivana hanya bisa menangis di bahu suaminya.


Sedangkan Marsel mencoba tetap tegar melihat semua itu.


"Ayo kita pulang, mungkin ayah lebih nyaman di sini", ucap Marsel mengusap air matanya dan berjalan pergi dari ruangan itu bersama dengan Zivana.


"Kamu yakin mas...??", tanya Zivana tak tega melihat mertuanya di tinggalkan di rumah sakit jiwa.


"Kita tidak bisa berbuat apa apa tentang masalah ini sayang, mengertilah...!!", ucap Marsel tetap mantap dengan keputusannya.