
Mobil Zivana dengan cepat berhenti di depan teras rumah.
Ia keluar dari mobil dengan menggandeng Sanum.
Sementara Sekar masih tak percaya dengan apa yang ia telah ketahui.
Nur yang merasakan dadanya sudah mulai sakit, memutuskan keluar dari tubuh Sanum dan menghilang dari sana.
Sementara Sanum yang mulai tersadar, tak mengerti kenapa tangannya ditarik oleh Zivana dengan cepat masuk ke dalam rumah.
"Bunda...??, ini ada apa..??", ucap Sanum bingung.
Tanpa menjawab sepatah katapun.
Zivana langsung memasukkan Sanum ke dalam kamar mandi.
"Kenapa kita ke sini bunda...??", seru Sanum makin kebingungan.
Zivana yang masih emosi, memandang Sanum dengan rasa kesal.
"Apa yang kamu pikirkan Sanum...!!, kamu bisa mencelakai teman sebayamu sampai seperti itu...!!", teriak Zivana menangis tak bisa membendung kekecewaanya, membuat Sanum ketakutan.
"Apa salah Sanum bunda..??", tanya Sanum menangis, baru kali ini Zivana berteriak di hadapan Sanum.
Selama ini Zivana orang yang penyabar dan penyayang.
"Kamu masih tanya kenapa...!!, ya Allah Sanum..!!, apa gak ada rasa bersalah sedikitpun dari kamu..??, temanmu bisa saja meninggal di sekolah Sanum..!!", seru Zivana membuat Sanum terkejut.
"Bukannya kita baru akan berangkat sekolah bunda...??", seru Sanum terisak isak.
"Jangan berpura pura terus Sanum...!!, kamu itu sudah besar, bukan bayi lagi..!!",seru Zivana mengambil shower di sampingnya.
Ia menyiram tubuh Sanum dengan kucuran air.
"Ampun bunda...!!, ampun...!!", seru Sanum menangis semakin keras.
"Lebih baik bunda yang hukum kamu dari pada orang lain nak...!!, bunda itu sayang sama kamu...!!, jadi bersikaplah menjadi anak yang baik, Sanum yang bunda didik dengan kebaikan", seru Zivana terus menyiram Sanum sampai ia kedinginan.
Tiba tiba Marsel pulang dari bekerja dan mendengar teriakan Sanum.
"Astagfirullah ..!!, Sanum..!!", seru Marsel berlari mencari sumber suara.
Kemudian ia berpapasan dengan Sekar yang tiba tiba berlari menabraknya.
"Kenapa kamu..!!, mana Sanum...??", seru Marsel mengguncang tubuh Sekar.
"Tuan tolong Sanum tuan..!!", seru Sekar menunjuk nunjuk ke arah kamar mandi.
Segera Marsel berlari dan terkejut mendapati Zivana telah tega mengguyur Sanum dengan kejam seperti itu.
"Astagfirullah..!!, hentikan Zivana..!!", teriak Marsel menepis shower air dari kepala Sanum.
Marsel langsung mengambil handuk dan menggendong Sanum keluar dari kamar mandi.
"Mas...!!, Sanum sudah keterlaluan, dia hampir saja membuat temannya hampir meninggal", seru Zivana tak membuat Marsel menghentikan langkahnya.
Marsel baru menghentikan langkahnya saat sampai di kamar Sanum.
Ia langsung mengambil baju dan mengganti baju Sanum yang basah.
"Sekar..!!, tolong buatkan Sanum teh hangat", ucap Marsel mengelap seluruh badan Sanum yang gemetar kedinginan.
"Mas...!!, dengerin aku..!!", seru Zivana kesal karna Marsel tak mau mendengarkannya.
"Mas...!!, Sanum sudah keterlaluan...!!", seru Zivana masih emosi.
"Ini tuan tehnya", ucap Sekar datang dengan membawa secangkir teh untuk Sanum.
"Kamu urus Sanum, beri dia minum", ucap Marsel memberi perintah.
"Baik tuan", ucap Sekar mengelap rambut Sanum, dan saat itu sekar merasa bahwa dihadapannya itu ialah Sanum yang sebenarnya.
"Aku cuma tau satu hal Zivana, Sanum tidak akan berbuat jahat kepada temannya, dan jika itu ia lakukan itu pasti bukan dirinya", seru Marsel memegang pundak Zivana.
Membuat Zivana tercengang, ia terdiam beberapa saat, ia menatap Sanum dan Sekar.
"Nyonya...!!, tuan benar", ucap Sekar membuat Zivana seperti mau roboh, air matanya menetes kian deras.
"Kamu ibunya, harusnya kamu tau sebelum kami, dan Sanum anak kita satu satunya, dimana kelembutanmu selama ini Zivana..!!", seru Marsel sangat kecewa dengan perilaku Zivana.
Wanita yang dulu sangat lemah lembut dan penyayang menjadi wanita yang mudah terpancing emosi karna sebuah kekeliruan.
Zivana terduduk dilantai, ia menangis tersedu sedu.
Ia mengingat semua perilaku dari Sanum maupun Nur.
Nur memang tak bisa ia lihat, tapi sifat kedua anaknya itu sangat jauh berbeda.
Kenapa aku tak pernah menyadarinya selama ini...??, gumam Zivana dalam hati.
Zivana mencoba merangkak meraih kaki Sanum.
Ia menangis tertunduk di sana.
"Maafkan bunda Sayang...!!", seru Zivana tak kuasa membendung penyesalannya.
Ia sangat bersalah telah menghukum Sanum atas kesalahan Nur.
"Sudah berapa lama kamu mengetahui ini Sekar..?", tanya Marsel.
"Barusan ketika pulang sekolah tuan.
", ucap Sekar.
"Lain kali, kamu lebih amati lagi tingkah laku Sanum, dan sampaikan pada Nur, jika Nur berani mengusik hidup kakaknya lagi jangan panggil aku ayahnya", ucap Marsel tegas.
Secara kebetulan.
Nur melihat mereka dari balik jendela luar.
Ia mendengar semua perkataan dari Marsel dan Zivana.
"Kenapa ayah dan bunda hanya memikirkan Sanum, apakah mereka tau apa yang aku alami selama ini jauh lebih menyakitkan..??, aku sendirian...!!", seru Nur menghilang dari luar jendela.
"Bunda...!!, Sanum gpp kok, jangan nangis ya", ucap Sanum mengelus jilbab Zivana.
Zivana pun berdiri dan memeluk anaknya itu.
"Bunda akan lebih sabar dan lebih peka antara kamu dan Nur sayang", ucap Zivana memeluk erat Sanum, ia sangat menyesal akam perbuatannya.
"Maafin aku juga ya", ucap Marsel memeluk anak dan istrinya.
Sekar merasa terharu sekaligus iba melihat semua kejadian yang menimpa keluarga itu.
Kasihanilah Sanum...!!, dengarlah permintaanku Nur, gumam Sekar dalam hati sambil mengusap air matanya.