
Seperti biasanya.
Ia datang ke taman bermain panti asuhan tempat teman temannya berada.
Tetapi Nur terlihat kurang ceria di banding biasanya.
Ia hanya terlihat termenung duduk di ayunan.
Untung saja.
Hari itu tepat tengah malam ia bermain ayunan.
Bayangkan saja jika itu pagi atau siang hari.
Orang orang atau bahkan pemilik panti akan lari terbirit birit melihat ayunan yang berayun tanpa ada wujud yang mengayunkannya.
Tapi pada tengah malam, itulah waktu untuk anak anak roh seperti Nur bermain dengan riang gembira di sana.
Seorang roh bernama fitri menghampiri Nur yang terlihat gusar.
"Kenapa Nur...??", ucap Fitri menghampiri Nur.
"Tadi aku bertemu seorang wanita, tetapi auranya sangat kuat, sehingga tanpa pernah mengenalnya pun aku sudah merasa ketakutan dan langsung ingin pergi dari hadapannya", ucap Nur menceritakan pertemuannya dengan mami Morra.
"Aku juga pernah, tapi itu sudah lama, mungkinkah itu orang yang sama..??", ucap Fitri penasaran.
"Entah...!!...., dan Fit..?? Kenapa kita tak hidup dan tak mati sih...??", tanya Nur merasa tak ada gunanya.
"Kita hanya belum ditakdirkan kembali ke alam kita Nur", ucap Fitri menghibur Nur.
"Kenapa..??, hari ini bahkan untuk pertama kalinya aku takut berada di sekeliling manusia.
"Terkadang ada yang harus kita selesaikan di sini Nur", ucap Fitri memegang kedua tangan Nur.
"Apa itu..??", tanya Nur.
"Entah...!!, aku juga tak tau, kita akan sama sama mencarinya, okey..!!", ucap Fitri mengajak Nur bermain bersama roh lainnya.
Seketika senyum Nur merekah kembali.
Ia bermain bersama teman temannya dan melupakan sejenak rasa takut yang tak beralasan di benaknya.
Mereka semua adalah anak anak yang kurang beruntung seperti Nur.
Ada yang di bunuh orang tuanya.
Ada yang di aborsi.
Ada yang meninggal karna sakit.
Mereka tertahan di dunia untuk beberapa alasan yang berbeda.
Mereka saling memecahkan alasan itu agar bisa cepat menyebrang ke alam baka.
Tapi, untuk beberapa anak yang nakal dan sering mengganggu manusia.
Itu akan membuat alasan mereka lebih banyak lagi untuk tertahan di dunia.
Selalu ada konsekuensi di setiap tindakan apapun.
Itu juga berlaku untuk para roh.
Nur memandang kesekeliling taman.
"Kenapa lagi Nur..??, tidak ada manusia jahat di sekitar sini", ucap Fitri mengajak Nur bermain kembali.
Tetapi Nur tetap tak bergeming dari tempatnya.
"Aku tak melihat Ruhi.., kemana dia..??", seru Nur mencari seorang roh yang tak nampak beberapa hari ini.
"Kamu tak ada saat ia ingin berpamitan denganmu", ucap Fitri duduk berayun di samping Nur.
"Pamit..??, kemana dia..??", seru Nur terkejut.
"Dia sudah tenang di alam baka Nur, urusannya di dunia sudah ia selesaikan", ucap Fitri memandang ke arah langit dengan satu matanya yang masih nampak terlihat normal.
"Lalu..??, apa urusan itu..??", tanya Nur penasaran.
"Ruhi dulu seorang gadis kecil yang manis Nur, kesayangan para saudaranya, terlebih setelah kedua orang tua mereka meninggal.
Saat itu kakak pertamanya lah yang harus menghidupi ke 3 orang adiknya, bahkan Ruhi yang masih balita", ucap Fitri menceritakan apa yang ia tahu.
"Lalu..??", seru Nur makin penasaran.
"Untuk seorang lelaki yang baru berusia belasan tahun, kasih sayang dan ketlatenannya sungguh luar biasa untuk adik adiknya, tapi...!!, karna pekerjaan yang tak menentu ia harus eksta keras bekerja hanya untuk makan satu kali dalam sehari", ucap Fitri melanjutkan ceritanya.
Nur terus mendengarkan cerita hidup tentang Ruhi dan kenapa ia harus terus berada di dunia.
"Suatu siang, Ruhi sangat lapar, dan ia berjalan sendirian hingga sampai di tempat kakaknya bekerja. Karna begitu Lapar ia memakan apapun yang ia temui, tanpa sadar ia memakan nasi yang sudah di campur racun tikus di sebuah gang tempat kakaknya bekerja. Saat sang kakak menemukannya, ia berlari dan terus berlari membawa Ruhi ke rumah sakit terdekat, tapi nyawa Ruhi tak tertolong di hari itu", ucap Fitri menyelesaikan ceritanya.
"Dan apa hubungannya dengan alasan Ruhi tak bisa menyebrang..??", tanya Nur masih tak mengerti.
"Kasih sayang kakaknya..!!", ucap Fitri membuat Nur tercengang.
Nur berfikir sejenak, jika alasannya tertahan di dunia ini, tak mungkin itu karna kasih sayang dan berat hati orang tuanya, itu sudah sangat terlihat jelas orang tuanya sangat ikhlas melepas Nur lahir batin.
"Kakak Ruhi sangat terpuruk dengan kepergian Ruhi, selama hidupnya ia terus menyalahkan dirinya sendiri karna insiden itu, itulah yang membuat Ruhi sulit menyebrang", ucap Fitri.
"Lalu apa yang membuat kakaknya ikhlas..??", tanya Nur semakin ingin tahu.
"Umur dan maut Nur...!!", ucap Fitri dengan tersenyum memandang bintang jatuh.
"Maksudmu.??", seru Nur.
"Kakak nya telah tiba pada ajalnya Nur, ia sudah tua dan waktunya dia untuk pergi, tidak ada yang lebih membahagiakan saat kita bisa berjumpa dengan orang yang kita sayang saat kita membuka mata setelah ajal datang", ucap Fitri meneteskan air mata darah dari matanya.
"Jadi Ruhi......", ucapan Nur terpotong oleh ucapan Fitri.
"Ya..!!, dia telah menunggu kakaknya berhari hari lamanya saat kakaknya tengah sakit parah dengan tubuh yang sudah renta, ia tak bergeming dari sampingnya, saat roh kakaknya benar benar terlepas dari raganya, Ruhi lah yang tersenyum menyambutnya, mereka akhirnya menyebrang bersama ke alam baka", ucap Fitri bahagia.
Lalu seketika Nur berkata.
"Apakah aku juga harus membawa Sanum nantinya..??", tanya Nur mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Alasan setiap roh berbeda Nur, ingat itu..!!, jangan paksakan apa yang seharusnya tidak kamu lakukan, tugas kita hanya mencari alasan itu dan menyelesaikan semuanya", ucap Fitri memegang tangan Nur.
Kini Rasa takut Nur menjadi bercabang dua.
Wanita misterius itu dan tentang alasannya yang masih tertahan di dunia.
Bagaimana jika Wanita misterius itu mengusir nya dari keluarganya..??, bagaimana dia akan menyelesaikan urusannya di dunia ini..??.
Dan bagaimana jika semua temannya sudah menyebrang satu persatu ke alam baka..??, bagaimana nantinya dengan dirinya..??, akankah dia akan sendiri di dunia ini..??.