Nur

Nur
Riwayat medis Naya.



"Entahlah buk, tapi saya khawatir kondisi Sanum drop di luar sana, jika saya tahu pun, untuk sekedar menghirup udara pagi keliling komplek pun saya tak akan memperbolehkan", ucap Zivana menatap Sanum dan Nur yang terus menunduk.


"Buktinya Sanum lebih bugar kan jeng, mungkin itu yang diperlukan Sanum saat ini, bukan hanya istirahat di dalam rumah", ucap Bu Sukma meyakinkan Zivana.


Sejenak Zivana terdiam.


Kali ini Sanum dan Nur berusaha memohon pada bunda nya.


"Ya sudah lah, tapi Sanum harus minum obat nya dahulu", seru Zivana membuat Sanum dan Lidia beserta Nur kegirangan.


"Makasih ya ma", bisik Lidia pada sang mama.


"Hem, kalau masalah gini aja, kamu deketin mama", ketus bu Sukma.


Segera Zivana mengambil obat milik Sanum.


Satu demi satu obat ia telan tanpa drama sedikit pun.


"Oh ya bunda, apa mungkin ada orang yang bisa mirip banget sama kita di dunia ini..??", tanya Sanum selesai menelan obat nya yang terakhir.


"Kata nya sih, di dunia ini kita memiliki 7 kembaran sayang, tapi entahlah, bunda juga gak begitu yakin", ucap Zivana memakaikan jaket ke tubuh Sanum.


"Gitu ya bunda", seru Sanum terus memikirkan tentang Naya.


"Udah ya...??, kita berangkat yuk..!!", seru bu Sukma berpamitan pada Zivana.


"Titip anak saya ya buk", seru Zivana melambaikan tangan ke arah mobil bu Sukma yang mulai meninggalkan halaman rumah.


Tak berapa lama.


Mereka telah sampai di rumah sakit yang pernah di ceritakan oleh bu Sukma.


Mereka masuk ke dalam dan berjalan menuju ke arah resepsionis.


"Selamat siang buk, ada yang bisa saya bantu...??", seru seorang petugas resepsionis pada mereka.


"Siang sus, kami mau lihat catatan medis seseorang bisa..??", tanya bu Sukma.


"Maaf buk, kami di sini sangat menjaga kerahasiaan pasien kami", ucap sang resepsionis membuat Sanum cemberut.


"Maaf sayang", ucap bu Sukma menyesal.


Lalu mereka berjalan keluar dari rumah sakit dengan perasaan kecewa.


Tiba tiba dari arah belakang, seorang lelaki memanggil bu Sukma.


"Bu Sukma...??", seru seorang lelaki itu yang berpakaian layak nya dokter.


"Marlin...??", seru bu Sukma mencoba mengingat lelaki yang kini telah berdiri di hadapan nya.


"Apa kabar buk...??", ucap lelaki itu ramah.


"Ya ampun...!!, jadi bener kamu Marlin..??, lalu pakaian mu ..??", seru Bu Sukma terkejut.


"Alhamdulillah buk, saya seorang dokter umum di rumah sakit ini", ucap nya.


"Wah hebat dong...!!, selamat ya..!!", ucap bu Sukma kagum.


"Ini dulu murid mama, gak nyangka lho dia bisa jadi dokter, dulu tuh dia nakal nya minta ampun sama kayak kamu", ucap bu Sukma.


"Benar kah buk..??, wah..!!, jadi ada pengganti nya saya buat ngrecohin ibu ya", ucap dokter Marlin tertawa.


"Bisa aja kamu", ucap bu Sukma ikut tertawa.


"Mama...!!, jangan lupa tujuan kita datang kemari, oke...!!", ketus Lidia kesal.


"Memang nya kalian ada perlu apa kesini...??, mungkin saya bisa bantu..??", tanya dokter Marlin menawarkan bantuan.


"Begini, ibuk mau cari tau info pasien dari anak pembantu ibu sekitar 10 tahun silam, tapi kata suster data pasien tidak bisa di akses seenak nya", ucap bu Sukma.


Sejenak, dokter Marlin terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Insyaallah saya bisa bantu, kalian bisa ikut ke ruangan saya", ucap dokter Marlin membuat mereka senang terlebih Sanum dan Nur.


Setelah melewati lorong rumah sakit dan melewati banyak ruang rawat pasien.


Mereka akhirnya sampai ke ruang kerja dokter Marlin.


"Silahkan masuk buk", ucap dokter Marlin mempersilahkan mereka masuk.


Dokter segera menuju ke rak riwayat medis pasien tepat di 10 tahun yang lalu.


"Nama nya apa ibuk masih ingat...??", tanya dokter Marlin.


"Naya dokter...!!", seru Sanum bersemangat.


"Naya ..??, oke, saya akan carikan dulu ya", ucap dokter Marlin menyibak beberapa dokumen di hadapan nya.


"Ngomong ngomong, kenapa kamu bisa punya akses ke dokumen dokumen itu...??, kamu kan masih muda dan tak mungkin kamu yang menangani Naya 10 tahun silam", tanya bu Sukma penasaran.


"Dokter yang menangani Naya kemungkinan merupakan dokter Puja yang sudah meninggal 5 tahun silam, dan di tahun yang sama saat saya mulai bekerja di rumah sakit ini untuk menggantikan nya", ucap dokter Marlin mengambil satu dokumen dari rak nya dan segera membaca nya dengan seksama.


"Saya hanya ingin tahu kondisi nya saat keluar dari rumah sakit ini setelah kecelakaan yang menimpanya Marlin, kenapa sampai di usia nya kini ia begitu aneh dan jauh dari lingkungan sosial nya", ucap bu Sukma menjelaskan alasan nya mencari tahu riwayat kondisi Naya.


Seketika Dokter Marlin mengeryitkan kening dan memandang aneh ke arah bu Sukma.


Membuat bu Sukma pun bingung.


"Kenapa memang nya..??, apa ada saraf yang putus, atau ada pendarahan di otak nya hingga dia menjadi tak normal...??", tanya bu Sukma penasaran.


Sementara dokter Marlin langsung duduk di kursi kerja nya dan membaca dokumen itu sekali lagi.


"Apa ibu tak salah..??", tanya dokter Marlin makin heran.


"Maksud nya gimana...??, kok jadi ibu yang salah..??", ucap bu Sukma heran.


"Ibu bisa baca sendiri dokumen ini", ucap dokter Marlin menyerahkan dokumen itu pada bu Sukma.


Sanum, Nur serta Lidia segera ikut membaca nya.


Mereka sangat penasaran dengan keterkejutan dokter Marlin saat membaca dokumen riwayat medis dari Naya.