Nur

Nur
Sikap yang berubah.



"Alhamdulillah..!!, mami udah bersih, harum", ucap Zivana saat selesai menyeka tubuh mertua nya pagi itu.


Biar semua di layani pun, rasanya capek kalau harus rebahan mulu, gumam mami Morra merasakan pegal di sekujur tubuhnya.


"Bentar lagi ayah datang mi, akhirnya ayah bisa pulang ke Indonesia", ucap Zivana membereskan baju kotor dan segera menyelimuti bu Rukmi dengan hangatnya.


Siapa...??, suami Rukmi..??, nambah lagi orang gak guna datang ke sini..!!, ketus mami Morra dalam hati.


"Biarpun mami gak suka sama aku, aku tetap menantu mami", ucap Zivana memegang tangan bu Rukmi seakan sedang mengutarakan bahwa dirinya memang benar benar mencintai Marsel suaminya.


Basi....!!, ketus mami Morra dalam diam nya.


"Aku ambil sarapan mami dulu ya", ucap Zivana bergegas menuju dapur.


Segera mami Morra memandang kesekeliling nya.


Mengamati jikalau ada Fitri maupun Nur di dekatnya.


Ia tak mau di pergoki oleh mereka sebelum tujuannya terwujud.


Eh ada Marsel tuh...!!, kayaknya sama suami Rukmi yang di bicarain Zivana tadi, gumam Mami Morra dalam hati.


Gimana kalau aku kerjain lagi aja Zivana..!!, gumam mami Morra lagi.


Saat itu juga, mami Morra segera memantrai dirinya sendiri menjadi bau dan kotor.


Sementara di luar kamar.


Nampak Marsel sedang mengobrol dengan ayah nya di luar kamar bu Rukmi.


Tanpa membuang buang waktu, mereka kemudian berjalan menuju kamar bu Rukmi.


Saat memasuki kamar bu Rukmi, aroma tak sedap langsung membuat mereka berdua tak nyaman.


"Kamu menciumnya...??", seru pak Broto mencari sumber aroma yang ia cium.


"Iya yah", seru Marsel mencoba ikut mencari sumber aroma yang mengganggu mereka.


"Em..!!!, mami...??", seru pak Broto menutup hidungnya saat mendekat ke arah bu Rukmi.


Zivana gimana sih..??, gumam Marsel mencoba menyemprot pengharum ruangan untuk mengurangi aroma tak sedap di ruangan itu.


"Gimana sih istrimu itu...!!, gak becus rawat mami mu..!!, ku kira sikap mami mu sejak dulu itu berlebihan pada Zivana, tapi ternyata...!!, kayaknya mami mu benar gak suka sama dia", ketus pak Broto mencoba menyeka badan istrinya kembali.


Ih...!!, najis banget di sentuh si tua bangka ini..!!, gumam mami Morra dalam hati.


"Sayang...!! , yang..!!", seru Marsel bergegas mencari keberadaan Zivana di dapur.


"Aku di sini mas..!!!, kamu kenapa sih..??, ayah dah sampek ya...!!", ucap Zivana berjalan ke arah Marsel sambil membawa sarapan untuk bu Rukmi.


"Tunggu...!!", seru Marsel menghadang Zivana.


"Kenapa mas...??, ada yang salah...??", seru Zivana penasaran.


"Sebenarnya kamu kenapa sih...??, kenapa sifat mu berubah..??", seru Marsel menatap serius ke arah Zivana.


"Ada apa sih ini mas..??", tanya Zivana tak mengerti.


"Jangan berpura pura sayang..!!, ini belum terlambat..!!, aku bisa melupakan semuanya jika kamu mengakuinya", seru Marsel malah menambah rasa penasaran dalam diri Zivana.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Marsel menarik tangan Zivana dan membawanya ke kamar bu Rukmi.


Saat memasuki kamar, Zivana langsung mencium aroma yang sama dengan yang di cium Marsel serta pak Broto.


"Ayah..", ucap Zivana mencoba mencium punggung tangan pak Broto.


Tapi seakan tak suka, pak Broto malah tak menoleh ke arah Zivana sedikit pun.


"Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi mas...??, dan bau apa ini..??, lalu kenapa ayah menyeka mami lagi, mami sudah aku bersihkan barusan", ucap Zivana masih bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Ini yang kamu bilang bersihkan...!!, menjijikkan..!!, jika istriku bisa berucap, dia akan merasa jijik dengan tubuhnya sendiri", ketus pak Broto membuat Zivana terkejut.


"Mas ..??", seru Zivana berharap suaminya tak sependapat dengan ayah nya.


"Kali ini ayah benar, kenapa kamu tega dengan mami..??, jika kamu tak mau merawat mami, aku bisa panggilkan suster untuknya..!!, jangan jadikan kesalahannya di masa lalu membuat keadaan ini sebagai kesempatan untukmu balas dendam padanya..!!", seru Marsel terhasut oleh keadaan.


Zivana hanya terdiam dan mematung.


Ia tak percaya akan mendengar fitnah dari mulut orang yang sangat ia puja selama ini.


"Gak usah buang tenaga..!!, dia pasti tak bisa jawab, kebusukannya telah terbongkar", seru pak Broto menyelimuti kembali istrinya.


"Aku sudah berusaha merawat mami dengan sebaik mungkin", ucap Zivana menundukkan pandangannya sembari menahan isak tangisnya.


Dengan cepat Marsel mengambil mangkok bubur yang di bawa oleh Zivana.


Saat melihat itu, mami Morra tahu apa yang akan dilakukan Marsel.


Segera ia memantrai bubur itu agar berubah rasa sesuai keinginannya.


Sesuai tebakan mami Morra.


Dengan cepat Marsel mencicipi bubur itu dan juga menyuapi Zivana yang masih berdiri kebingungan dengan tuduhan tuduhan yang ditujukan padanya.


Saat bubur itu masuk ke mulut Zivana.


Mata Zivana seketika terbelalak tak percaya.


"Gimana rasanya..??", tanya Marsel.


Awalnya Zivana hanya terdiam bingung.


Tapi karna desakan dari Marsel, akhirnya Zivana berani berucap.


"Asin dan pahit mas", ucap Zivana bingung dengan rasa masakannya sendiri.


"Apa...!!, kamu memberi istri saya makanan seperti itu...!!, lancang..!!", seru pak Broto marah.


"Apa masih ada dendam di hatimu sayang..??, tak iba kah kamu dengan kondisi mami sekarang ini..??", seru Marsel terus memojokkan Zivana.


"Malah seharusnya aku yang bertanya mas..!!, kenapa sifat mu berubah...??, aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, dan aku bersumpah bukan aku yang melakukannya..!!, dan harusnya kamu orang pertama yang membela ku mas", seru Zivana sembari menangis terisak isak.


"Omong kosong...!!, cepat kamu urus istrimu...!!, ayah gak mau lihat dia di sini..!!, bawa dia pulang, mami biar ayah yang urus", seru pak Broto menarik keluar Zivana dari kamar bu Rukmi.


Tanpa berucap.


Marsel segera membawa Zivana masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dari sana.