
Pagi itu sebuah mobil terlihat memasuki halaman rumah kediaman Zivana dan Marsel.
Sanum dan Nur yang sedang asyik bermain bersama Sekar pun terheran heran.
"Siapa yang bertamu sepagi ini...??", seru Nur mendekati mobil yang tengah berhenti di depan teras rumah.
"Kamu kenal Sanum..??", tanya Sekar menggandeng Sanum dan berjalan mendekat untuk menyambut siapa pun yang datang kekediaman mereka.
Tiba tiba seorang wanita paruh baya turun dari mobil hitam di depan mereka.
Sanum yang mengamatinya lalu tersenyum dan berseru.
"Nenek...!!", seru Sanum berlari memeluk bu Sara yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Cucu nenek sudah besar", ucap bu Sara menciumi Sanum hingga berulang ulang kali.
Melihat Sanum memanggil bu Sara dengan sebutan nenek, Nur pun tersenyum lebar.
"Mbak...!!, kenapa mbak gak pernah cerita kalau aku punya nenek selain nenek Rukmi yang jahat itu..??", seru Nur mendekati Sekar.
"Kamu aja gak tau apalagi mbak...!!", ucap Sekar melempar senyum pada bu Sara.
"Kamu pengasuh cucu saya kan...??", ucap bu Sara telah berdiri di hadapan Sekar.
"Iya buk", ucap Sekar singkat.
"Kamu pasti belum kenal saya, karna saya jarang sekali kemari, Zivana dan Marsellah yang selalu mengunjungi saya, perkenalkan saya Sara, panggil saja saya bu Sara", ucap bu Sara dengan ramahnya.
"Saya Sekar buk, mari silahkan masuk, nyonya ada di dalam", ucap Sekar mengajak bu Sara untuk masuk ke dalam rumah.
Saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
Pandangan Nur terus saja melihat sosok nenek yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
Ia membayangkan bagaimana jika neneknya itu tau kalau cucunya ada 2, pastinya ia akan lebih girang sekali, itulah yang saat itu sedang dipikirkan oleh Nur.
Nur terus tersenyum memandangi sang nenek.
Cantik sekali nenek, berhijab seperti bunda, pasti dia orang baik, gumam Nur dalam hati sambil terus mengikuti bu Sara saat duduk bersama Zivana maupun berjalan melihat lihat rumah mereka.
Sekar yang melihat itu memberi isyarat agar Nur tidak terlalu dekat dengan bu Sara, karna mungkin bayangan Nur tidak sesuai kenyataan nantinya.
"Pokoknya aku gak mau pergi...!!, sebelum mbak bilang sama bunda suruh ngenalin aku sama nenek, titik...!!", seru Nur hanya bisa di dengar oleh Sanum dan Sekar.
"Turuti aja mbak, siapa tau nenek beneran bisa nerima Nur kayak bunda dan ayah", bisik Sanum di telinga Sekar.
Sekar hanya mengangguk, tapi masih ada rasa mengganjal di hatinya tentang permintaan Nur itu.
Setelah asyik mengobrol, Zivana mengajak Sekar untuk menyiapkan sarapan untuk bu Sara.
"Mi, aku tinggal dulu ya, ayo Sekar..!!", seru Zivana berjalan menuju dapur diikuti oleh Sekar.
Saat di dapur, Sekar terus saja teringat permintaan dari Nur.
Bagaimana aku harus menyampaikannya ya..??, gumam Sekar dalam hati.
Zivana yang melihat kegelisahan di wajah Sekar memutuskan untuk menegurnya.
"Kamu kenapa Sekar..??", tanya Zivana dengan terus memotong motong sayuran yang ada di hadapannya.
Sekar yang terkejut mendengar teguran majikannya makin membuat Zivana yakin pasti ada yang disembunyikan oleh Sekar.
"Cerita aja..!!, kamu gak percaya sama saya...??", ucap Zivana terus sibuk dengan kegiatan memasaknya.
"Begini nyonya, Nur sangat senang sekali melihat bu Sara untuk yang pertama kalinya", ucap Sekar mulai menceritakan apa yang tengah ada di benaknya.
"Bagus dong, Nur jadi gak harus bersikap arogan dan jail seperti sikapnya terhadap nenek Rukmi", ucap Zivana tak mempermasalahkan itu.
"Tapi karna perasaan senangnya itu, ia meminta saya untuk menyampaikan permintaannya pada nyonya", ucap Sekar membuat Zivana seketika menghentikan aktifitas memasaknya.
"Maksud kamu..??, Nur minta apa..??", tanya Zivana bingung.
"Nur minta diperkenalkan di hadapan bu Sara", ucap Sekar menunduk.
Seketika Zivana terbelalak tak percaya, ia mematikan kompor yang sedang menyala di depannya.
"Bagaimana mungkin...??, apakah mami bisa menerima Nur...??", ucap Zivana tak habis pikir dengan permintaan aneh Nur.
"Nur beranggapan bu Sara akan menerimanya nyonya", ucap Sekar dengan perasaan takut jika Zivana juga akan memarahinya.
"Mana mungkin...!!, aku saja yang ibu kandungnya, masih bingung dengan sikapku padanya, ia kalau mami memang bisa menerimanya, jika tidak bagaimana...??", seru Zivana bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Tapi nyonya, kita sudah sejauh ini mengenal Nur, kita juga sudah tau bagaimana Nur bisa bersikap jika kita meremehkannya dan tak menuruti permintaannya, saya tak mau Nur kembali melampiaskan semuanya pada Sanum lagi", ucap Sekar mengingatkan Zivana akan kemarahan Nur yang sudah sudah.
Zivana pun menghela nafas panjang, ia menenangkan dirinya dan berfikir sejenak.
Setelah ia merasa sedikit tenang, ia kembali menyalakan kompor di depannya dan kembali menyelesaikan masakannya.
"Kita turuti saja, untuk hasilnya biar dia bisa melihatnya sendiri", ucap Zivana tak terlalu memikirkan konsekuensi tentang pengungkapan adanya Nur di hadapan bu Sara.
Zivana berfikir, meskipun Nur sebuah roh, tapi ia harus diajarkan tentang sebab dan akhibat yang akan dia timbulkan dari sesuatu yang ia paksakan.