
"Aku ingin kembali ke masa ku".
"Aku sudah cukup membuat semuanya berantakan".
"Aku sadar tak memikirkan dahulu konsekuensinya sebelum meminta sesuatu".
"Ibuk...!!, tolong kembalikan semuanya seperti semula".
"Aku akan menerima kondisiku yang dulu dari pada harus hidup seperti ini".
"Aku tak sanggup jika ada hal buruk lagi menimpa keluargaku".
"Ibuk..!!, dengarkan aku..!!", keluh Nur dalam hati sembari menutup mata dan memohon kehadiran wanita penghuni kotak musik yang ia panggil ibu bersedia menemuinya dan membawanya kembali ke dimensi Nur yang sebenarnya.
Tetapi tak ada apapun yang terjadi.
Hanya sunyi dan sepi sejauh tatapan Nur memandang.
Ia kemudian menangis sendiri di kamarnya.
Sesaat kemudian, ia merasakan hangat belaian tangan seseorang di kepalanya.
Ia perlahan mengangkat wajahnya.
Wajahnya berbinar.
Ia tak percaya yang tengah ia lihat.
"Bunda..!!", seru Nur seketika memeluk sang bunda.
"Anak bunda..!!, Nur anak kuat, kamu pasti bisa melalui ini semua", ucap Zivana sambil mengelus dan mencium pipi anaknya.
"Aku takut bunda....??", ucap Nur kembali menangis.
"Ingatlah sayang, kita di beri tangan, kaki dan anggota tubuh yang lengkap oleh Allah, kita harus mensyukurinya, pergunakan itu semua untuk menopang tubuh kita sendiri, karna kita tidak bisa hidup hanya mengandalkan orang lain, berusahalah, bunda percaya kamu bisa menuntaskan ini semua", ucap Zivana seketika memudar dan menghilang dari pandangan Nur.
Seketika Nur terdiam dan kembali menangis.
Hanya imajinasiku, bunda ada di sini pun itu sangatlah mustahil, gumam Nur dalam hati sembari kembali meringkuk dan menangis.
Tiba tiba sebuah suara menggema di telinga Nur.
"Tegar lah Nur, semuanya kembali tidak bisa semudah membalikkan tangan..!!, carilah keberadaan ku di dimensi ini, itulah jalanmu bisa kembali dan memulihkan semua keadaan", ucap suara itu lalu menghilang tanpa sisa.
"Buk...!!", seru Nur berusaha berkomunikasi dengan gema suara itu.
Tapi lagi lagi, hanya kesunyian yang ia dengar.
Keberadaan ku...??, gumam Nur terus memikirkan semua itu.
Lalu ia mengingat satu nama.
Mami Morra...!!, pasti ada di rumahnya...!!, gumam Nur bergegas turun dari ranjangnya dan berlari keluar rumah.
"Nur mau kemana...??", seru bu Rukmi menghadang jalan Nur di teras rumah.
"Nur mau main...!!", ucap Nur mencari alasan.
"Nur itu masih kecil, gimana kalau nenek temani", ucap sang nenek menggandeng tangan Nur.
Duhhh, gimana nih...??, gumam Nur dalam hati.
"Tapi Nur lapar nek", ucap Nur sembari mengelus perutnya.
"Ya udah, nenek masak dulu, kamu tunggu sini ya, nanti kita makan sekalian Sanum juga", ucap bu Rukmi sembari berjalan ke arah dapur.
Akhirnya...., gumam Nur sembari mengendap ngendap pergi dari rumah.
"Gimana caranya aku bisa sampai rumah mami Morra, dengan tubuh kecil ini..??", ucap Nur berhenti di gerbang rumah.
"Non mau kemana...??", seru supir pribadi bu Rukmi.
Kebetulan ada mangsa...!!, hihihi, gumam Nur dalam hati.
"Es krim...!!, es krim..!!", seru Nur sambil bertingkah tantrum di depan supir neneknya.
.!!, iya iya tapi bilang nenek dulu ya", ucap pak supir mengajak Nur masuk ke dalam rumah.
"Gak mau...!!, es krimmmm...!!", seru Nur berusaha membuat pak supir mengantarnya keluar rumah.
"Iya deh iya, yuk bapak antar...!!", ucap pak Supir melajukan mobilnya untuk menuruti perintah majikan kecilnya.
Setelah es krim ia dapat, ia berusaha tantrum lagi agar pak supir tak membawanya pulang.
"Jalan jalan...!!", teriak Nur berguling guling di depan swalayan.
"Ya ampun non..!!, nanti di cariin nenek..", seru pak supir tak di hiraukan oleh Nur.
"Jalan jalan..!!", seru Nur mencoba memasang raut wajah ingin menangis keras jika keinginannya tak di turuti.
"Duh bisa di sangka culik anak aku, ya udah deh, yuk jalan jalan", ucap pak supir kembali melajukan mobilnya sesuai permintaan Nur.
"Sana...!!", seru Nur menunjuk kemana ia akan pergi.
"Kita pulang aja ya non, ini udah jauh lho", ucap pak Supir.
"Jalan jalan...!!", seru Nur berkacak pinggang.
"Ya ampun...!!", keluh pak supir terus mengendarai mobilnya hingga sampai di sebuah perdesaan.
Ini kan hutan yang waktu itu..??.., kok di dimensi ini masih ada perkampungan.
"Ih serem di sini non, soalnya ikon desanya mumi anak kecil", ucap pak supir membuat Nur terkejut.
Anak kecil..??, jadi di dimensi ini, bukan ayah Rain mumi nya, lalu siapa..??, gumam Nur dalam hati.
Tiba tiba mata Nur membulat sempurna melihat pemandangan di depannya.
Benar saja, sebuah patung mumi di letakkan di bawah sebuah gapura, jalan masuk menuju balai desa.
Yang lebih membuatnya terkejut, Nur sangat mengenal siapa anak yang berada di balik lilitan mumi itu.
Rambut yang terkepang dan perawakan serta lekung wajah yang ia kenal.
"Fitri...!!", seru Nur mendongak keluar kaca mobil.
"Eh jangan kayak gitu non bahaya...!!, ngomong ngomong kok bisa tahu non kalau mumi itu namanya Fitri", seru pak supir keheranan.
Lalu ia kembali di kejutkan oleh rumah mami Morra yang malah di sanjung dan di pergunakan sebagai tempat suci.
Apa apaan ini...??, wanita bejat seperti dia di agung agungkan...??, gumam Nur tak habis pikir dengan dimensinya yang sekarang.
"Turun...!!", seru Nur memberontak.
"Eh jangan non, kita pulang saja ya", ucap pak supir merasa ngeri berada di sana.
"Main..!!, main...!!", seru Nur tak bisa membuat pak supir memiliki pilihan lain.
Ia kemudian bergegas berjalan mendekati rumah mami Morra.
Sedangkan pak supir di hentikan oleh anak anak yang mengajaknya bermain bola di halaman rumah itu.
Membuat pengawasannya pada Nur sedikit teralihkan.
Nur mendekati teras rumah itu.
Angin berhembus menerpa dirinya.
Akhirnya aku sampai di sini, tunjukkan ceritamu di dimensi ini padaku, gumam Nur menapakkan kakinya di teras rumah itu.
Sebuah plakat terpasang rapi di tembok rumah itu.
Yang menceritakan sebuah sejarah 100 tahun silam hingga rumah itu dijadikan rumah suci oleh masyarakat yang ada.
Jadi...!!, saat aku menyelamatkan Fitri, ia malah di tangkap oleh warga dan di fitnah menjadi dalang ilmu hitam, itu semua di perkuat oleh kesaksian mami Morra saat itu yang berakting di depan warga yang mengatakan dirinya akan menjadi tumbal anaknya sendiri..!!, yang membuat Fitri di gelandang paksa oleh para warga dan di jadikan sebuah mumi untuk menjadi saksi pemusnahan ilmu hitam di desa mereka..!!, biadap kamu mami Morra..!!, gumam Nur dalam hati.
Karna berhasil membongkar praktik ilmu hitam itu, mami Morra di agungkan di masanya dan rumahnya di anggap rumah suci bagi warga setempat.
Kalau begitu, tanpa darah Fitri, apakah mami Morra di masa ini telah tiada..??, gumam Nur dalam hati sembari melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.