
"Kali ini tubuhku benar benar tak mampu bertahan lagi", ucap mami Morra berjalan terbungkuk bungkuk mendekati cermin.
Rambutnya yang putih, kulit yang keriput menandakan usianya yang kembali menjadi tua lagi.
Terlebih setelah serangan Fitri yang terakhir, membuatnya menjadi bungkuk dan terus melemah.
"Arkkkhh..!!, kenapa juga Nur kembali merubah masa lalu yang sudah berhasil ia rubah..!!", teriak Mami Morra memukul cermin dengan tongkatnya.
Ia memegangi kalung yang melingkar di lehernya.
"Selama kalung ini masih aman di leher ku, aku tidak akan mati, aku hanya membutuhkan tubuh baru", ucap mami Morra memalingkan pandangannya dari cermin yang telah retak tapi masih bisa memperlihatkan sedikit wajah dan penampilannya yang sudah menua.
Dalam sekejap, ia menghilang dan muncul di area pemukiman warga.
Ia berjalan dengan terseok seok langkah demi langkah.
Matanya tak berhenti memandangi ke sekeliling nya.
Tubuh mana yang harus ku pilih...??, gumam mami Morra terus berjalan menyusuri pemukiman warga dengan memandangi satu persatu orang yang berlalu lalang melewatinya.
"Nek....!!, nenek mau kemana kok sendirian...??", ucap sebuah suara bersamaan dengan sepasang tangan yang memapahnya ke pinggir jalan yang teduh.
Beraninya tanganmu menyentuhku...!!, dan, kamu sebut apa aku barusan ....??, nenek...!!, gumam mami Morra namun tetap berusaha meredam emosinya.
"Iya terima kasih, saya bisa sendiri", ucap mami Morra tapi tetap di papah duduk oleh wanita yang telah menegurnya.
"Lebih baik saya antar nek", ucap wanita paruh baya di hadapannya.
Tapi mami Morra tak mendengarkan tawarannya, malah ia memandangi tubuh wanita itu dari atas sampai bawah.
Gemuk sekali...!!, penuh keringat..!!, bau minyak urut lagi...!!, gumam mami Morra ogah melihat sosok di depannya.
"Nek, di sini kok bau ya, padahal kita jauh dari selokan", ucap wanita itu sembari mencari asal bau.
Lalu mami Morra merasakan ada yang aneh pada dirinya.
Kenapa rasanya kulitku seperti terbakar..??, gumam mami Morra mencoba mengamati tubuhnya.
Begitu terkejutnya ia melihat tubuhnya mulai mengelupas dan melunak akibat pertambahan usia yang terus terjadi di setiap jam nya.
Lalu ia memandang ke arah wanita yang bersamanya saat itu.
Raut wajahnya bahkan terlihat lebih syok di banding wajah mami Morra saat melihat tubuhnya sendiri.
Bahkan nafas wanita itu seketika tak beraturan dan matanya terbelalak melihat kondisi tubuh mami Morra, ingin berlari pun kakinya terasa berat, ia mencoba lari tapi malah jatuh dan tersungkur ke jalanan.
"H, ha, hantu..!!", seru wanita itu terbata bata sembari memukuli kakinya agar segera bisa berlari menjauh dari mami Morra.
"Seenaknya sekali mulutmu...!!, sudah kamu panggil aku nenek nenek, sekarang kamu panggil aku hantu...!!", seru mami Morra mencoba mendekati wanita itu dengan sisa tenaganya.
"Jangan mendekat...!!", seru wanita itu mencoba terus menghindar dari mami Morra.
"Aku tak akan mendekatimu, tapi aku akan mengambil ragamu...!!", seru mami Morra tertawa terbahak bahak.
Seketika dengan sedikit sentuhan dari ujung telunjuk mami Morra di dahi wanita itu.
Waktu tiba tiba seakan terhenti.
Roh mami Morra segera masuk ke dalam raga wanita itu.
Bersamaan dengan itu.
Roh wanita itu memasuki raga mami Morra.
"Ah..!!, kenapa ini...!!, panas...!!", teriak wanita itu hancur seketika bersama raga mami Morra.
Waktu kembali berjalan dengan normal
Angin berhembus menerpa tubuh baru mami Morra.
Senyum dan tatapannya kini terpancar pada tubuh barunya.
"Tepat pada waktunya...!!", seru mami Morra mengambil kalung berharganya di tengah tengah debu raganya yang telah hancur.
"Em...!!, tapi bau sekali badan ini...!!, dan beratnya ya ampun....!!, pasti aku terlihat seperti gajah dengan tubuh ini, makan apa sih ni orang", seru mami Morra mencoba bangun dengan susah payah menggunakan tubuh barunya.