Nur

Nur
Pulihnya raga Sanum.



Pegangan tangan Zivana terus menggenggam erat tangan Nur.


Kasih sayang dan perhatian selalu tercurahkan padanya.


Di kondisinya yang tengah berjuang melawan sakit.


Nur selalu tersenyum saat sang bunda menyuapinya makan dan mengurus semua keperluannya selama ia di rawat.


Bahkan, dongeng sebelum tidur kini selalu ia dengar setiap malam menjelang tidur.


Badannya memang berjuang melawan sakit, tapi hatinya tidak ada kata selain bahagia.


Ini yang selalu diimpikan Nur.


Menjadi anak sesungguhnya dari orang tuanya.


Saat mereka sakit, orang tua akan bergantian mengurus mereka sampai sehat seperti sedia kala.


Saat mereka terjatuh dan luka, ada bunda yang mengobati dan memeluknya.


Saat mereka bosan, ada tempat mereka untuk bermanja.


Walaupun kini ia harus berjuang demi hidupnya, tapi dalam hati ia bahagia, karna meskipun ia harus meninggal sekali lagi, ia sudah merasakan pelukan dan kehangatan dari ayah bundanya.


Sekar yang melihat senyum Nur seakan ikut berbahagia untuknya.


Dalam benaknya, anak sekecil itu sangat hebat dan kuat, ia bisa tersenyum di kondisinya yang terbilang tengah sekarat.


Berikan sedikit kebahagiaan pada keluarga ini Tuhan....!!, gumam Sekar, tak terasa air matanya menetes.


"Sekar...!!, kamu bisa pulang, malam ini saya menginap disini", ucap Zivana menyelimuti Nur.


"Baik nyonya......, non Sanum, cepet sembuh ya..!!, mbak pamit", ucap Sekar lalu berlalu meninggalkan Zivana dan Nur.


"Bunda...!!, dongeng apa malam ini ..??", seru Nur bersemangat.


"Emmmmm, apa ya...??, gimana kalau dongeng kesukaan kamu..??, Pikolo sang penyihir periang", seru Zivana mengambil buku kesukaan Nur sejak ia berada di rumah sakit itu.


Malam itu, suasana begitu hangat, dalam dekapan Zivana, Nur mendengarkan setiap cerita yang Zivana bacakan untuknya.


Nur terlelap begitu cerita dongeng itu sampai di bagian akhir cerita.


Zivana menutup bukunya dan tidur di samping sang buah hati.


Beberapa saat kemudian.


Roh Sanum dan Fitri muncul di ruangan Nur saat semuanya sudah amat terlelap.


"Kamu yakin itu berhasil...??", ucap Fitri memandangi raga Sanum yang sudah nampak tulang belulang saja.


"Tidak ada salahnya kita mencobanya", ucap roh Sanum mendekati Nur secara perlahan.


Saat mereka ingin mendekati Nur.


Seketika tangan Zivana memegang tangan roh Sanum.


Membuat Fitri dan roh Sanum sangat terkejut dibuatnya.


"Masyaallah....!!", ucap lirih Fitri amat terkejut.


"Bu, buuu, bunda", ucap lirih Sanum sambil memandang Zivana yang masih dengan mata terpejam.


"Bunda sudah menunggumu..!!", ucap Zivana membuka matanya dan berdiri dihadapan roh Sanum.


"Apakah bundamu seperti itu saat tidur..??", ucap Fitri ditelinga roh Sanum.


"Jadi...., ibu tau kalau dia......!!", ucap Fitri tak percaya.


"Iyaaa, aku tau bahwa yang tengah bersamaku ialah Nur, dan yang berada di hadapanku ialah Sanum", ucap Zivana mengusap pipi dan rambut roh Sanum, membuat roh Sanum menikmati belaian dari sang bunda yang sangat ia rindukan.


"Tapi, tapi...., tapi....!!!, kok bisa sih...??", seru Fitri bingung.


"Kenapa tidak...!!, bunda yang melahirkan kalian, bunda yang merawat Sanum sampai sebesar ini, dan bunda tau setiap kesukaan dan karakteristik dari anak bunda", ucap Zivana mengusap air matanya.


"Bunda nunggu Sanum....??", ucap roh Sanum sesenggukan.


"Iya sayang...!!, kamu gak mau peluk bunda...!!", ucap Zivana memeluk roh Sanum.


"Bunda, aku kesini......", ucap roh Sanum dihentikan oleh sentuhan tangan Zivana dimulutnya.


"Bunda tau, kamu kesini karna sudah waktunya kamu kembali ke ragamu kan...??", ucap Zivana.


"Wah hebat...!!, aku yang suhu aja gak bisa nebak itu", ucap lirih Fitri.


"Bunda kok tau ..??", seru roh Sanum kagum.


"Bunda sudah menunggu hari ini cukup lama sayang, bunda kasihan juga melihat Nur yang menderita seperti itu, tolong adikmu sayang", ucap Zivana mengecup dahi roh Sanum.


Roh Sanum pun perlahan berjalan mendekati Nur yang tengah terlelap dalam tidurnya.


Ia meraih tangan Nur dan meletakkannya di atas tangannya.


"Aku mohon berhasillah...!!", ucap roh Sanum sambil memejamkan matanya.


Nampak Zivana dan Fitri pun turut tak sabar menunggu hasilnya.


Tak berapa lama, cahaya itu kembali memercik dari tangan Nur dan Sanum.


Membuat pandangan menjadi silau dan akhirnya.....!!!!.


Nur muncul di samping Zivana.


Ia mengamati rohnya yang kini telah keluar dari raga Sanum, seakan ia tak percaya dengan penglihatannya itu.


"Bunda...!!", ucap Nur seketika.


Tanpa berbicara, Zivana langsung memeluk Nur dan mengamatinya.


"Kamu sudah sehat sayang...!!", ucap Zivana penuh syukur.


"Lalu, Sanum...??", seru Nur langsung mendekat ke arah saudaranya yang kini terbaring menggantikannya.


Fitri mengamati raga Sanum dengan seksama.


"Buk...!!, lihatlah Sanum..!!", seru Fitri tak percaya.


Perlahan raga Sanum kembali pulih.


Rambutnya kembali tebal dan utuh, badannya mulai segar terisi, wajahnya kembali cerah berseri cantik seperti sedia kala.


"Alhamdulillah..!!", seru Zivana menangis sambil memeluk Nur.


"Raga Sanum selamat bunda...!!", seru Nur bahagia.


Ketika mereka sedang bersuka cita dengan pulihnya Nur dan raga Sanum.


Mami Morra muncul di ruangan itu dalam bentuk roh.


Langsung saja Fitri menariknya dan membawanya menghilang dari sana.