
Nur terus melangkahkan kaki nya memasuki rumah di hadapannya hingga sampai ke ujung area rumah tempat persembahan dan puja orang orang di laksanakan.
Nampak persembahan tertata rapi di sana.
Tetapi saat itu, suasana nampak sepi, tak terlihat banyak orang berlalu lalang di sana.
Hanya ada beberapa pengurus rumah tengah berlalu lalang membersihkan tempat itu.
Mungkin karna jam untuk para tamu sudah habis pada hari itu.
Pandangan Nur tertuju pada seorang gadis yang sedang khusuk memanjatkan doa di sana.
Mungkin dia juru kunci di sini, gumam Nur sembari melangkah semakin dekat kepadanya.
Seketika, langkah Nur terhenti saat gadis itu berdiri dari tempatnya.
Setelah membungkuk hormat beberapa kali di depan api persembahan, ia lalu melangkah mundur dan membalik badannya, membuat Nur dan gadis itu sekarang saling berhadapan.
Nur tercengang.
Tanpa berkedip ia seakan masih membenarkan apakah penglihatannya tak salah saat itu.
Gadis itu tersenyum menatap Nur.
Ia kemudian berjalan menutup pintu utama jalan masuk ke ruang persembahan.
"Aku tak menyangka kamu bisa melangkah sejauh ini Nur..!!", ucap gadis itu membuat Nur semakin melangkah mundur hingga menabrak beberapa barang di belakangnya.
"Kamu kira hanya memori otak mu saja yang tak hilang, jika kamu bisa aku pun bisa..!!", seru gadis itu yang ternyata ialah mami Morra.
Kenapa dia masih hidup...??, dan......., kenapa dia nampak muda dan seakan mengingatku dengan jelas..??, gumam Nur dalam hati.
"Kamu gak berfikir aku tak mengingatmu kan...??, dan...ya....!!, pasti kamu berfikir aku telah mati di dimensi ini", ucap Mami Morra terus melangkah mendekati Nur.
Bagaimana mungkin..!!, gumam Nur lagi dan lagi.
"Jangan berlagak tak berdaya seperti bayi..!!", seru mami Morra.
"Kenapa kamu masih hidup...??, bukankah di dimensi ini kamu tak bisa mendapatkan darah Fitri..???", seru Nur berusaha melawan rasa takutnya.
"Hahahahaha...!!, aku punya beragam cara untuk awet muda Nur...!!, tanpa atau dengan darah anak sialan itu", ucap mami Morra.
Tok..tok...
Tiba tiba ada seseorang mengetuk pintu ruangan itu dari luar.
"Permisi neng Tia, sepertinya ada barang jatuh di dalam, apa neng baik baik saja...??", seru seseorang itu yang ternyata merupakan salah satu pengurus rumah.
"Tidak ada mang, anda boleh pergi, saya mau istirahat", ucap mami Morra menutup gorden pintu ruangan itu.
"Tia....??", seru Nur.
"Ya..!!, namaku Tia di dimensi ini Nur, aku di kenal sebagai keturunan ke 4 dari mami Morra, yang tanpa mereka ketahui, akulah sebenarnya mami Morra", ucap Mami Morra sembari tertawa membanggakan dirinya sendiri yang berhasil mengelabuhi warga desa lebih dari 100 tahun lamanya.
"Dasar licik...!!, bisa bisanya rumah penuh dosa seperti ini kamu jadikan rumah suci untuk menutupi kedok mu..!!", seru Nur kesal.
"Diam...!!, kalau bukan karna kamu, yang mengubah dimensi waktu kita, kita tidak akan mengulang masa yang seharusnya sudah lewat Nur...!!", teriak mami Morra.
"Tapi itu bukan alasan kamu menjadi orang biadab juga di di masa ini", ucap Nur.
"Hahahaha, apa peduli mu..!!, dan ya..., aku pikir pikir mungkin semuanya juga ada untungnya bagi ku, aku bisa jauh lebih muda dan tak lagi bungkuk sejak kondisi ku yang terakhir kali berkat dimensi ini", Seru mami Morra.
"Aku memperdulikannya..!!, karna kamu bisa merusak kehidupan di dimensi ini", ucap Nur.
"Apa aku tak salah dengar...!!, kamu sendiri yang telah merusaknya, harusnya kamu bersyukur dengan kehidupanmu yang dulu", seru mami Morra.
"Lalu, apa kabar dengan kamu yang juga tak bersyukur dengan hidupmu", seru Nur terus bersitegang dengan mami Morra.
"Lancang kamu...!!", seru mami Morra semakin mendekati Nur.
"Jangan mendekat...!!", seru Nur memperingatkan mami Morra.
"Memang kamu bisa apa dengan tubuh bayi mu itu...!!", seru mami Morra terus saja menertawakan Nur.
Hingga akhirnya.
Langkah kaki Nur juga terhenti karna punggung nya sudah membentur tembok.
"Oh ya, mungkin kamu ingin melihat sesuatu", ucap mami Morra berjalan ke arah sebuah rak buku tak jauh dari dirinya berdiri.
Seketika, mami Morra segera menarik tuas tersembunyi di rak buku itu.
Lalu dengan ajaib nya pintu rahasia terbuka di sana.
Menampilkan sebuah penampakan yang berhasil membuat Nur kembali terbelalak tak percaya.
Kenapa Rain dan ayahnya bisa ada di ruang rahasia itu ....??, gumam Nur dalam hati.
"Pasti kamu penasaran kan apa yang terjadi dengan mereka..??", seru mami Morra.
"Aku akan ceritakan....., karna aku tak berhasil membunuh Fitri dan menampung darahnya, aku tak bisa tinggal diam melihat tubuhku menua dan kalungku tanpa penghuni, sehingga Rain lah yang menggantikan tempat Fitri, dan karna ayahnya tetap bersikeras menolak ku, akhirnya aku jadikan mereka berdua mumi koleksiku", seru mami Morra kembali tertawa.
"Biadab...!!", seru Nur meneteskan air mata melihat kondisi Rain beserta ayahnya yang berakhir lebih mengenaskan di tangan mami Morra.
Sekilas, Nur melihat bayangan roh Rain masih ada di kalung yang di pakai mami Morra.
Karna keegoisanku, aku mempermainkan Rain beserta ayahnya lagi, seharusnya mereka sudah tenang di alam sana, gumam Nur dalam hati.
Mami Morra terus menatap pergerakan Nur, ia tak mau kali ini ia bisa di permainkan seorang anak kecil lagi.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu cari..??, sehingga kamu bisa sampai ke rumah ku..??", tanya mami Morra penasaran.
"Aku ingin kembali ke dimensi asal ku, aku ingin kembalikan semua yang telah ku rubah", ucap Nur mengutarakan niatnya.
Seketika mami Morra tertawa lagi.
"Kenapa kamu ingin merubahnya..??, hidup ini jauh lebih indah dari dimensi yang lama, aku jadi orang terhormat, dan kamu juga bisa hidup sesuai keinginanmu bukan...!!", seru mami Morra.
"Aku akan tetap merubah semua ini..!!", seru Nur mengobrak ngabrik ruangan itu.
"Hentikan ....!!, beraninya kamu...!!, sebenarnya apa yang kamu cari...??", teriak mami Morra mencoba menghentikan Nur.
"Di mana kamu buk...??", seru Nur mencoba mencari kotak musik milik mami Morra.
"Ibuk...??, tunggu, tunggu.....!!, jika kamu masuk ke dimensi ini menggunakan kotak musik ku berarti ialah yang kamu cari", ucap mami Morra menebak apa yang sedang Nur cari.
"Iya..!!, cepat serahkan padaku...!!", seru Nur.
"Enak saja...!!, aku sudah sembunyikan barang berhargaku darimu...!!", seru mami Morra berkacak pinggang.
Tanpa rasa takut, Nur kembali mengobrak ngabrik tempat itu berharap yang ia cari berhasil ia temukan.
"Coba saja kamu cari..!!", seru mami Morra meremehkan Nur.
Tiba tiba, fokus Nur tertuju pada gundukan tempat kemenyan dan api persembahan di nyalakan.
Mungkinkah...!!, gumam Nur dalam hati menerka nerka di mana kotak musik itu di sembunyikan.
Tanpa membuang waktu, Nur segera berlari dan memasukkan tangannya ke dalam kobaran api lalu mengobrak ngabrik pembakaran itu.
"Jangan...!!", teriak mami Morra segera berlari menghampiri Nur.
Tanpa menghiraukan rasa sakit dan terbakar di tangannya, segera Nur membuka pintu rahasia kecil mami Morra dan menarik sebuah benda keluar dari sana.
"Kembalikan...!!", teriak mami Morra mencoba merebut paksa benda yang tengah di pegang Nur, yang tak lain adalah kotak musik nya.
"Terlambat ...!!", seru Nur segera membuka kotak musik itu.
Seketika seberkas cahaya menyilaukan mata menerpa seisi ruangan, diiringi dengan senandung lagu yang keluar dari kotak musik itu.